Berita Terkini Badan Geologi, Geological Agency of Indonesia, Badan Geologi, Geological Agency, Kementerian ESDM, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Ministry of Energy and Mineral Resources of Republic of Indonesia http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini Sat, 18 Aug 2018 08:24:01 +0000 Joomla! 1.5 - Open Source Content Management en-gb Laporan Kebencanaan Geologi 18 Agustus 2018 (06:00 WIB) http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1387-laporan-kebencanaan-geologi-18-agustus-2018-0600-wib http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1387-laporan-kebencanaan-geologi-18-agustus-2018-0600-wib I. SUMMARY:

Hari ini, Sabtu 18 Agustus 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 200 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang  ke arah timur dan tenggara.
Melalui rekaman seismograf pada 17 Agustus 2018 tercatat:- 6 kali gempa Hembusan- 5 kali gempa Tektonik Lokal- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

G. Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama teramati berwarna putih tipis dengan intensitas sedang setinggi 300 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat.
Rekaman seismograf tanggal 17 Agustus 2018 tercatat:- 2 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Vulkanik Dalam- 1 kali gempa Terasa- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 25 kali gempa Tektonik Jauh
Tanggal 18 Agustus 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujanmengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

G. Krakatau (Lampung):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Krakatau (305 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Asap kawah teramati berwarna hitam dengan intensitas tebal dengan tinggi 500 meter dari puncak. Teramati Letusan dengan warna asap hitam dan tinggi kolom asap 300-500 meter. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - barat.
Melalui seismograf tanggal 17 Agustus 2018 tercatat:- 133 kali gempa Letusan- 35 kali gempa Hembusan- 17 kali gempa Vulkanik Dangkal- 4 kali gempa Vulkanik Dalam- Tremor menerus dengan amplitudo 1-10 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 17 Agustus 2018 pukul 18:30 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 41 mm dengan durasi sekitar 59 detik. Ketinggian kolom letusan sekitar 805 m di atas permukaan laut atau 500 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke utara.

G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis setinggi 20 m diatas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - baratdaya.
Melalui rekaman seismograf pada 17 Agustus 2018 tercatat:- 7 kali gempa Guguran- 8 kali gempa Low Frekuensi- 3 kali gempa Hybrid- 4 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Harmonik- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal- 3 kali gempa Tektonik Lokal- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi :- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. - Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi  dapat teramati jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu, bertekanan  sedang, dengan intensitas tebal setinggi  500 meter di atas puncak. Teramati Letusan dengan warna asap putih kelabu dan tinggi 500 meter dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur-selatan. 
Melalui seismograf tanggal 17 Agustus 2018 tercatat:- 1 kali gempa Letusan- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-8 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 16 Agustus 2018 pukul 18:15 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1529 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke timur.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, dengan  intensitas sedang setinggi 200-800 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - timurlaut.
Melalui seismograf tanggal 17 Agustus 2018 tercatat:- 105 kali Gempa Letusan- 197 kali Gempa Hembusan- 39 kali Gempa Guguran- 6 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Agustus 2018 pukul 11:59 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.


2. Gempa Bumi

Gempa bumi di perairan Laut Flores, baratlaut Manggarai, Nusa Tenggara Timur.
Informasi Gempa bumi:Gempa bumi terjadi pada hari Jumat, 17 Agustus 2018. Berdasarkan informasi dari BMKG gempa bumi terjadi pada pukul 22:35:00 WIB, pusat gempa berada pada koordinat 7,55°LS dan 119,89°BT dengan magnituda 6,7 pada kedalaman 559 km berjarak 125 km di bawah dasar laut, terletak di baratlaut daya Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Gempa bumi ini diikuti gempa bumi susulan yang terjadi pada 23:31:56 WIB, dengan pusat gempa pada 7,62°LS - 119,43°BT dengan magnitudo 4,4 pada kedalaman 249 km di bawah dasar laut.
Kondisi geologi daerah terdekat:Daerah sekitar pusat gempa bumi tersusun oleh batuan vulkanik berumur Tersier sampai Kuarter dan aluvium berumur Resen. Pada daerah yang disusun oleh endapan Kuarter dan aluvium diperkirakan goncangan gempa bumi akan lebih kuat karena memiliki sifat fisik yang lepas, belum terkonsolidasi dan memperkuat efek getaran sehingga rentan terhadap guncangan gempa bumi.
Penyebab Gempa bumi:Berdasarkan data kedalaman pusat gempa bumi, diperkirakan berasosiasi subduksi Lempeng Indo-Australia dan Eurasia. 
Dampak Gempa bumi:Belum ada laporan mengenai kerusakan dan korban yang ditimbulkan oleh gempa bumi ini. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami karena energinya tidak cukup kuat untuk memicu gelombang tsunami. Gempa bumi terasa di pos G. Agung Bali dan G. Ebulobo, Kec. Nagekeo dengan intensitas skala II MMI
Rekomendasi:- Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPPD. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.-  Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang energinya diharapkan lebih kecil dari gempa bumi utama.


II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :
a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.c. Sebanyak 19 gunung api Status Waspada/Level II (Merapi*, Marapi, Kerinci, Dempo, Krakatau*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);d. Sisanya 48 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 200 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang  ke arah timur dan tenggara.
Melalui rekaman seismograf pada 17 Agustus 2018 tercatat:- 6 kali gempa Hembusan- 5 kali gempa Tektonik Lokal- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. 
Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pasca erupsi November 2017 hingga awal Februari 2018 kegempaan mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) dan Gempa frekuensi rendah (Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 23 juta m3. Pengukuran deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan pola deflasi. Citra Satelit masih merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih terus terjadi, namun dengan eksplosivitas rendah dan frekuensi kejadian relatif rendah.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Pada 23, 24 dan 25 Juni 2018 terjadi rentetan Gempa Vulkanik Dalam mengindikasikan pergerakan magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Frekuensi kejadian erupsi kemudian meningkat dimana puncaknya pada 2 Juli 2018 terjadi erupsi Strombolian disertai dentuman dengan jarak lontaran material pijar mencapai jarak 2 km dari kawah puncak ke segala arah hingga keluar kawah. Frekuensi erupsi setelah itu hingga saat ini mengalami penurunan. Data pemantauan masih mengindikasikan bahwa aktivitas Gunung Agung belum stabil dan masih rentan terjadi erupsi.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama teramati berwarna putih tipis dengan intensitas sedang setinggi 300 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat.
Rekaman seismograf tanggal 17 Agustus 2018 tercatat:- 2 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Vulkanik Dalam- 1 kali gempa Terasa- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 25 kali gempa Tektonik Jauh
Tanggal 18 Agustus 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Krakatau (Lampung).
Gunung Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA). G. Krakatau (305 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).
Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 ñ 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 ñ 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.
Pengamatan Visual G. Krakatau dari tanggal 18 ñ 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 ñ 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.
Dalam rangka Kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Asap kawah teramati berwarna hitam dengan intensitas tebal dengan tinggi 500 meter dari puncak. Teramati Letusan dengan warna asap hitam dan tinggi kolom asap 300-500 meter. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - barat.
Melalui seismograf tanggal 17 Agustus 2018 tercatat:- 133 kali gempa Letusan- 35 kali gempa Hembusan- 17 kali gempa Vulkanik Dangkal- 4 kali gempa Vulkanik Dalam- Tremor menerus dengan amplitudo 1-10 mm (dominan 2 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta).
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis setinggi 20 m diatas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - baratdaya.
Melalui rekaman seismograf pada 17 Agustus 2018 tercatat:- 7 kali gempa Guguran- 8 kali gempa Low Frekuensi- 3 kali gempa Hybrid- 4 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Harmonik- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal- 3 kali gempa Tektonik Lokal- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi  dapat teramati jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu, bertekanan  sedang, dengan intensitas tebal setinggi  500 meter di atas puncak. Teramati Letusan dengan warna asap putih kelabu dan tinggi 500 meter dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur-selatan.  
Melalui seismograf tanggal 17 Agustus 2018 tercatat:- 1 kali gempa Letusan- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-8 mm (dominan 2 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, dengan  intensitas sedang setinggi 200-800 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - timurlaut.
Melalui seismograf tanggal 17 Agustus 2018 tercatat:- 105 kali Gempa Letusan- 197 kali Gempa Hembusan- 39 kali Gempa Guguran- 6 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG,- Air Nav,- Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin,- VAAC Tokyo,- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
(2) G. Agung, Bali.VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.
(3) G. Krakatau, Lampung.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 17 Agustus 2018 pukul 18:30 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 41 mm dengan durasi sekitar 59 detik. Ketinggian kolom letusan sekitar 805 m di atas permukaan laut atau 500 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke utara.
(4) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta.VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
(5) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 16 Agustus 2018 pukul 18:15 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1529 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke timur.
(6) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Agustus 2018 pukul 11:59 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.



Bandung, 18 Agustus 2018
PVMBG,
Badan Geologi,
KESDM


Kasbani


Berita Terkini]]>
rivalz.m.hxh@gmail.com (Administrator) Berita Terkini Sat, 18 Aug 2018 00:41:06 +0000
Laporan Kebencanaan Geologi 17 Agustus 2018 (06:00 WIB) http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1386-laporan-kebencanaan-geologi-17-agustus-2018-0600-wib http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1386-laporan-kebencanaan-geologi-17-agustus-2018-0600-wib I. SUMMARY:

Hari ini, Jumat 17 Agustus 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 100 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang  ke arah timur dan tenggara.
Melalui rekaman seismograf pada 16 Agustus 2018 tercatat:- 5 kali gempa Hembusan- 5 kali gempa Tektonik Jauh
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

G. Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama teramati berwarna putih tipis setinggi 50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat.
Rekaman seismograf tanggal 16 Agustus 2018 tercatat:- 38 kali gempa Tektonik Jauh- 4 kali gempa Hembusan
Tanggal 17 Agustus 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 1 kali gempa Vulkanik Dalam- 6 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujanmengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

G. Krakatau (Lampung):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Krakatau (305 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup Kabut. Asap kawah tidak dapat teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - barat.
Melalui seismograf tanggal 16 Agustus 2018 tercatat:- 45 kali gempa Letusan- 11 kali gempa Vulkanik Dangkal- 21 kali gempa Hembusan- Tremor menerus dengan amplitudo 1-8 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 2 Agustus 2018 pukul 16:06 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 32 mm dengan durasi sekitar 19 detik. Ketinggian kolom letusan sekitar 405 m di atas permukaan laut atau 100 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke utara.

G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis setinggi 10 m diatas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - barat.
Melalui rekaman seismograf pada 16 Agustus 2018 tercatat:- 6 kali gempa Guguran- 4 kali gempa Low Frekuensi- 1 kali gempa Hybrid- 6 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal- 4 kali gempa Tektonik Lokal- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi :- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. - Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi  dapat teramati jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu, bertekanan  sedang, dengan intensitas tebal setinggi  300 meter di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. 
Melalui seismograf tanggal 16 Agustus 2018 tercatat:- 1 kali gempa Letusan- 1 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-10 mm (dominan 4 mm)
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 15 Agustus 2018 pukul 17:35 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2029 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke timur.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, dengan  intensitas sedang setinggi 200-800 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - timur.
Melalui seismograf tanggal 16 Agustus 2018 tercatat:- 118 kali Gempa Letusan- 196 kali Gempa Hembusan- 36 kali Gempa Guguran- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 16 Agustus 2018 pukul 18:15 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1529 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke timur.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.


2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Agustus 2018  yang dibandingkan bulan  Juli 2018,   umumnya potensinya cenderung sama di sebagian besar wilayah Indonesia utamanya di Jawa dan sebagian Sumatera sementara di wilayah Sulawesi  Maluku dan Papua perlu waspada terhadap potensi  kejadian gerakan tanah .
Gerakan tanah terakhir terjadi : 
1. Kabupaten Bangli, Probinsi. Bali
Penyebab: Penyebab longsor diperkirakan karena lereng yang terjal, tanah pelapukan yang tebal, gembur, mudah menyerap air, batuan produk gunungapi yang belum terkonsolidasi dengan baik dan mudah runtuh, kurang berfungsinya drainase/saluran air, dan dipicu oleh curah hujan tinggi
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   menyebabkan jalur penghubung Desa Kedisan menuju Desa Terunyan mengalami lumpuh total di Kabupaten Bangli, Provinsi. Bali
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

Gempa bumi di Tenggara Nias Selatan, Sumatera Utara 
Informasi Gempa bumi:Gempa bumi terjadi pada hari Kamis,16 Agustus 2018, pukul 10:10:20 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 98,40° BT dan 0,56° LU, dengan magnitudo M5,5 pada kedalaman 10 km, berjarak 65 km tenggara Nias selatan, Sumatera Utara. Berdasarkan informasi dari GFZ Jerman, pusat gempa bumi berada pada koordinat 0,38°LS dan 98,13°BT, dengan magnitudo 5,3 dan kedalaman 39 km. USGS, Amerika, menginformasikan bahwa pusat gempa bumi terletak pada koordinat 98,263° BT dan 0,495° LU, dengan magnitudo M 4,9 pada kedalaman 35 km. 
Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi:Pusat gempa bumi berada di laut. Wilayah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi adalah wilayah Pulau Nias, Kepulauan Batu, Pulau Nias dan pesisir barat Sumatera Utara. Kepulauan barat Sumatera (Kep. Batu dan P. Nias) pada umumnya disusun oleh batuan tua atau berumur Pra-Tersier hingga Tersier. Wilayah pesisir barat Sumatera Utara pada umumnya disusun oleh batuan sedimen berumur Kuarter. Batuan berumur Kuarter serta batuan berumur Tersier yang telah mengalami pelapukan bersifat urai, lepas, belum kompak sehingga bersifat memperkuat efek guncangan gempa bumi.
Penyebab gempa bumi:Berdasarkan lokasi pusat gempa bumi dan kedalamannya, gempa bumi berasosiasi dengan aktivitas penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia.
Dampak gempa bumi:Berdasarkan BMKG, gempa bumi ini di rasakan II-III MMI di Teluk Dalam dan Gunung Sitoli serta II MMI di Aek Godang. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami, karena meskipun berpusat di laut namun energinya tidak cukup kuat untuk menyebabkan deformasi di bawah laut. Hingga tanggapan ini dibuat, belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.
Rekomendasi:(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil.


II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :
a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.c. Sebanyak 19 gunung api Status Waspada/Level II (Merapi*, Marapi, Kerinci, Dempo, Krakatau*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);d. Sisanya 48 gunung api: Status NORMAL/Level I.
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 100 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang  ke arah timur dan tenggara.
Melalui rekaman seismograf pada 16 Agustus 2018 tercatat:- 5 kali gempa Hembusan- 5 kali gempa Tektonik Jauh
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. 
Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pasca erupsi November 2017 hingga awal Februari 2018 kegempaan mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) dan Gempa frekuensi rendah (Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 23 juta m3. Pengukuran deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan pola deflasi. Citra Satelit masih merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih terus terjadi, namun dengan eksplosivitas rendah dan frekuensi kejadian relatif rendah.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Pada 23, 24 dan 25 Juni 2018 terjadi rentetan Gempa Vulkanik Dalam mengindikasikan pergerakan magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Frekuensi kejadian erupsi kemudian meningkat dimana puncaknya pada 2 Juli 2018 terjadi erupsi Strombolian disertai dentuman dengan jarak lontaran material pijar mencapai jarak 2 km dari kawah puncak ke segala arah hingga keluar kawah. Frekuensi erupsi setelah itu hingga saat ini mengalami penurunan. Data pemantauan masih mengindikasikan bahwa aktivitas Gunung Agung belum stabil dan masih rentan terjadi erupsi.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama teramati berwarna putih tipis setinggi 50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat.
Rekaman seismograf tanggal 16 Agustus 2018 tercatat:- 38 kali gempa Tektonik Jauh- 4 kali gempa Hembusan
Tanggal 17 Agustus 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 1 kali gempa Vulkanik Dalam- 6 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Krakatau (Lampung).
Gunung Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA). G. Krakatau (305 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).
Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 ñ 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 ñ 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.
Pengamatan Visual G. Krakatau dari tanggal 18 ñ 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 ñ 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.
Dalam rangka Kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup Kabut. Asap kawah tidak dapat teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - barat.
Melalui seismograf tanggal 16 Agustus 2018 tercatat:- 45 kali gempa Letusan- 11 kali gempa Vulkanik Dangkal- 21 kali gempa Hembusan- Tremor menerus dengan amplitudo 1-8 mm (dominan 2 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta).
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis setinggi 10 m diatas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - barat.
Melalui rekaman seismograf pada 16 Agustus 2018 tercatat:- 6 kali gempa Guguran- 4 kali gempa Low Frekuensi- 1 kali gempa Hybrid- 6 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal- 4 kali gempa Tektonik Lokal- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi  dapat teramati jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu, bertekanan  sedang, dengan intensitas tebal setinggi  300 meter di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur.  
Melalui seismograf tanggal 16 Agustus 2018 tercatat:- 1 kali gempa Letusan- 1 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-10 mm (dominan 4 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, dengan  intensitas sedang setinggi 200-800 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - timur.
Melalui seismograf tanggal 16 Agustus 2018 tercatat:- 118 kali Gempa Letusan- 196 kali Gempa Hembusan- 36 kali Gempa Guguran- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG,- Air Nav,- Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin,- VAAC Tokyo,- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
(2) G. Agung, Bali.VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.
(3) G. Krakatau, Lampung.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 2 Agustus 2018 pukul 16:06 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 32 mm dengan durasi sekitar 19 detik. Ketinggian kolom letusan sekitar 405 m di atas permukaan laut atau 100 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke utara.
(4) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta.VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
(5) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 16 Agustus 2018 pukul 18:15 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1529 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke timur.
(6) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Agustus 2018 pukul 11:21 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.



2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Agustus 2018 yang dibandingkan bulan Juli 2018  akan  cenderung tetap potensinya di sebagian besar wilayah indonesia  mulai dari  sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Bali, kecuali wilayah Sulawesi ,Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua yang masih relatif tinggi. Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat, Tengah dan Timur,  Selatan,   Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di: 1. Kabupaten Bangli, Provinsi. Bali*,2.Kabupaten Barito Selatan, Provinsi Kalimantan Tengah, 3.Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur, 4. Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) , Provinsi Riau,  5. Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, 6.Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, 7.Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat , 8.Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu, 9.Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat, 10.Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Bangli, Provinsi. Bali
Tebing setinggi 400 meter di Bukit Abang longsor pada hari Rabu, tanggal 15 Agustus 2018, jalur Kedisan ke Trunyan lumpuh total. Tinggi timbunan longsor mencapai 3,5 meter dan material longsor berupa tanah dan pepohonan juga menimbun 10 meter jalan disekitar.Jalur penghubung Desa Kedisan menuju Desa Terunyan mengalami lumpuh total. Longsor yang terjadi kemarin masih merupakan sisa material dampak gempa bumi berkekuatan 7,0 Skala Richter di Lombok yang terjadi pada Minggu (5/8/2018) lalu, hingga membuat tanah sekitar menjadi labil. Gempa bumi kala itu menyebabkan longsor hingga menimbun jalan sekitar sepanjang 50 meter dengan tinggi material mencapai 3 meter. 
Sumber :
http://m.tribunnews.com/regional/2018/08/16/tebing-setinggi-400-meter-di-bukit-abang-bali-longsor-jalur-kedisan-ke-trunyan-lumpuh-total
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran pada tebing jalan. Penyebab longsor diperkirakan karena lereng yang terjal, tanah pelapukan yang tebal, gembur, mudah menyerap air, batuan produk gunungapi yang belum terkonsolidasi dengan baik dan mudah runtuh, kurang berfungsinya drainase/saluran air, dan dipicu oleh curah hujan tinggi
*Rekomendasi:
-Material longsoran agar segera dibersihkan;
-Menata air permukaan, membuat saluran drainase yang permanen baik berasal dari tebing atas maupun pada sisi badan jalan;
-Melandaikan lereng, pada bagian bawah lereng ditembok/difondasi yang kuat hingga mencapai lapisan keras;
-Menambah penanaman pohon dengan akar kuat dan dalam.
- Masyarakat pengguna jalan agar lebih waspada terutama pada waktu hujan lebat.-Memasang rambu-rambu longsor agar pengguna jalan lebih waspada terutama pada waktu hujan lebat.



Jakarta, 17 Agustus 2018
PVMBG,
BADAN GEOLOGI,
KESDM





Kasbani


Berita Terkini]]>
rivalz.m.hxh@gmail.com (Administrator) Berita Terkini Fri, 17 Aug 2018 00:01:13 +0000
Laporan Kebencanaan Geologi 16 Agustus 2018 (06:00 WIB) http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1385-laporan-kebencanaan-geologi-16-agustus-2018-0600-wib http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1385-laporan-kebencanaan-geologi-16-agustus-2018-0600-wib I. SUMMARY:

Hari ini, Kamis 16 Agustus 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 150 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang  ke arah timur dan tenggara.
Melalui rekaman seismograf pada 15 Agustus 2018 tercatat:- 5 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Tornilo- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

G. Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama teramati berwarna putih tipis setinggi 50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat.
Rekaman seismograf tanggal 15 Agustus 2018 tercatat:- 29 kali gempa Tektonik Jauh- 2 kali gempa Tektonik Lokal - 2 kali gempa Hembusan
Tanggal 16 Agustus 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 11 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujanmengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

G. Krakatau (Lampung):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Krakatau (305 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup Kabut. Asap kawah tidak dapat teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur - barat.
Melalui seismograf tanggal 15 Agustus 2018 tercatat:- 79 kali gempa Letusan- 16 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Vulkanik Dalam- 12 kali gempa Hembusan- Tremor menerus dengan amplitudo 1-12 mm (dominan 3 mm)
Rekomendasi:Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 2 Agustus 2018 pukul 16:06 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 32 mm dengan durasi sekitar 19 detik. Ketinggian kolom letusan sekitar 405 m di atas permukaan laut atau 100 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke utara.

G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis setinggi 20 m diatas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - baratlaut.
Melalui rekaman seismograf pada 15 Agustus 2018 tercatat:- 10 kali gempa Guguran- 4 kali gempa Low Frekuensi- 8 kali gempa Hybrid- 8 kali gempa Hembusan- 3 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Tektonik Lokal
Rekomendasi :- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. - Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi  dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu, bertekanan  sedang, dengan intensitas tebal setinggi  800 meter di atas puncak. Teramati Letusan dengan tinggi 800 meter dengan warna asap putih kelabu. Angin bertiup lemah ke arah timur. 
Melalui seismograf tanggal 15 Agustus 2018 tercatat:- 1 kali gempa Letusan- 4 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-6 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 15 Agustus 2018 pukul 17:35 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2029 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke timur.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, dengan  intensitas sedang setinggi 200-800 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - timur.
Melalui seismograf tanggal 15 Agustus 2018 tercatat:- 91 kali Gempa Letusan- 149 kali Gempa Hembusan- 44 kali Gempa Guguran- 7 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Agustus 2018 pukul 11:21 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.


II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :
a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.c. Sebanyak 19 gunung api Status Waspada/Level II (Merapi*, Marapi, Kerinci, Dempo, Krakatau*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);d. Sisanya 48 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 150 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang  ke arah timur dan tenggara.
Melalui rekaman seismograf pada 15 Agustus 2018 tercatat:- 5 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Tornilo- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. 
Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pasca erupsi November 2017 hingga awal Februari 2018 kegempaan mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) dan Gempa frekuensi rendah (Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 23 juta m3. Pengukuran deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan pola deflasi. Citra Satelit masih merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih terus terjadi, namun dengan eksplosivitas rendah dan frekuensi kejadian relatif rendah.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Pada 23, 24 dan 25 Juni 2018 terjadi rentetan Gempa Vulkanik Dalam mengindikasikan pergerakan magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Frekuensi kejadian erupsi kemudian meningkat dimana puncaknya pada 2 Juli 2018 terjadi erupsi Strombolian disertai dentuman dengan jarak lontaran material pijar mencapai jarak 2 km dari kawah puncak ke segala arah hingga keluar kawah. Frekuensi erupsi setelah itu hingga saat ini mengalami penurunan. Data pemantauan masih mengindikasikan bahwa aktivitas Gunung Agung belum stabil dan masih rentan terjadi erupsi.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama teramati berwarna putih tipis setinggi 50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat.
Rekaman seismograf tanggal 15 Agustus 2018 tercatat:- 29 kali gempa Tektonik Jauh- 2 kali gempa Tektonik Lokal - 2 kali gempa Hembusan
Tanggal 16 Agustus 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 11 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Krakatau (Lampung).
Gunung Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA). G. Krakatau (305 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).
Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 ñ 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 ñ 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.
Pengamatan Visual G. Krakatau dari tanggal 18 ñ 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 ñ 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.
Dalam rangka Kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup Kabut. Asap kawah tidak dapat teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur - barat.
Melalui seismograf tanggal 15 Agustus 2018 tercatat:- 79 kali gempa Letusan- 16 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Vulkanik Dalam- 12 kali gempa Hembusan- Tremor menerus dengan amplitudo 1-12 mm (dominan 3 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta).
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis setinggi 20 m diatas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - baratlaut.
Melalui rekaman seismograf pada 15 Agustus 2018 tercatat:- 10 kali gempa Guguran- 4 kali gempa Low Frekuensi- 8 kali gempa Hybrid- 8 kali gempa Hembusan- 3 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Tektonik Lokal
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi  dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu, bertekanan  sedang, dengan intensitas tebal setinggi  800 meter di atas puncak. Teramati Letusan dengan tinggi 800 meter dengan warna asap putih kelabu. Angin bertiup lemah ke arah timur. 
Melalui seismograf tanggal 15 Agustus 2018 tercatat:- 1 kali gempa Letusan- 4 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-6 mm (dominan 2 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, dengan  intensitas sedang setinggi 200-800 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - timur.
Melalui seismograf tanggal 15 Agustus 2018 tercatat:- 91 kali Gempa Letusan- 149 kali Gempa Hembusan- 44 kali Gempa Guguran- 7 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG,- Air Nav,- Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin,- VAAC Tokyo,- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
(2) G. Agung, Bali.VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.
(3) G. Krakatau, Lampung.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 2 Agustus 2018 pukul 16:06 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 32 mm dengan durasi sekitar 19 detik. Ketinggian kolom letusan sekitar 405 m di atas permukaan laut atau 100 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke utara.
(4) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta.VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
(5) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 15 Agustus 2018 pukul 17:35 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2029 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke timur.
(6) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Agustus 2018 pukul 11:21 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.



Bandung, 16 Agustus 2018
PVMBG,
BADAN GEOLOGI, KESDM

Kasbani


Berita Terkini]]>
rivalz.m.hxh@gmail.com (Administrator) Berita Terkini Thu, 16 Aug 2018 01:01:52 +0000
Fauna Endemik Sulawesi: Jejak Terpendam dari Lembah Wallanae http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1384-fauna-endemik-sulawesi-jejak-terpendam-dari-lembah-wallanae http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1384-fauna-endemik-sulawesi-jejak-terpendam-dari-lembah-wallanae Badan Geologi melalui Museum Geologi kembali mengadakan kegiatan Day and Night at The Museum pada hari Sabtu (11/08/2018) dalam rangka menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia. Diawali dengan kegiatan seminar pada pukul 14.00 WIB yang dibuka dan diresmikan langsung Kepala Badan Geologi  Ir. Rudy Suhendar, M.Sc dengan menghadirkan 2 narasumber yaitu Prof. Dr. Fachroel Aziz dan Dr. Gert Van den Bergh, selaku ahli Paleontologist, dan dipandu oleh Unggul Prasetyo Wibowo yang merupakan staff Dokumentasi dan Konservasi Museum Geologi.

 gbr1

Kedua narasumber dan moderator saat pemaparan materi

Day and Night Museum Geologi kali ini berbeda dengan biasanya karena dilakukan peluncuran fosil Celebochoerus heekereni dengan tema Fauna Endemik Sulawesi “Jejak Terpendam Dari Lembah Walanae”. Tema ini terpilih berdasarkan pada penyelesaian rekonstruksi kerangka Celebochoerus heekereni yang dikerjakan oleh Museum Geologi dan merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pusat Survei Geologi (dahulu Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi) sejak tahun 1986-1992 di lembah Wallanae. Penelitian ini telah berhasil mengumpulkan ribuan fosil fauna dimana Celebochoerus heekereni merupakan yang paling dominan mencapai lebih dari 85% populasi fosil yang dikumpulkan. Dalam pameran ini disajikan pula koleksi fosil fauna lainnya dari lembah Wallanae, seperti Stegodon sompoensis, “Elephas” celebensis, dan Geochelone atlas.

 gbr2

Peluncuran oleh Kepala Badan Geologi

 gbr3

Tampilan ruang pameran Temporary Exhibition

Pada malam hari dilanjutkan dengan kegiatan Night at the Museum yang dimulai dari pukul 19.00-22.00 Wib, kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap bulannya. Kegiatan menarik dalam acara night at the museum ini berupa: games yang melibatkan pengunjung untuk mengikutinya, musik akustik, serta pemutaran film yaitu tentang profil Museum dan mitigasi bencana, tak ketinggalan jajanan malam ikut memeriahkan rangkaian acara tersebut.

Semoga dengan diadakannya kegiatan ini dapat memberikan informasi dan edukasi untuk mengenalkan koleksi yang ditampilkan oleh Museum Geologi khususnya fosil hewan endemik khas dari sulawesi yaitu Celebochoerus heekereni, serta dapat memberikan pelayanan yang bersifat edutainment pada masyarakat luas.

 

Penyusun: Torry Agus Prianto

]]>
umum@geologi.esdm.go.id (Tata Usaha) Berita Terkini Wed, 15 Aug 2018 08:22:34 +0000
Laporan Kebencanaan Geologi 15 Agustus 2018 (06:00 WIB) http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1383-laporan-kebencanaan-geologi-15-agustus-2018-0600-wib http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1383-laporan-kebencanaan-geologi-15-agustus-2018-0600-wib I. SUMMARY:

Hari ini, Rabu 15 Agustus 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang  ke arah timur dan tenggara.
Melalui rekaman seismograf pada 14 Agustus 2018 tercatat:- 15 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Tornilo- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

G. Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama teramati berwarna putih tipis setinggi 100 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat.
Rekaman seismograf tanggal 14 Agustus 2018 tercatat:- 3 kali gempa Vulkanik Dangkal- 21 kali gempa Tektonik Jauh - 8 kali gempa Hembusan
Tanggal 15 Agustus 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 8 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujanmengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

G. Krakatau (Lampung):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Krakatau (305 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup Kabut. Asap kawah tidak dapat teramati. Pada malam hari teramati adanya sinar api di atas puncak.  Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - barat.
Melalui seismograf tanggal 14 Agustus 2018 tercatat:- 62 kali gempa Letusan- 38 akali gempa Vulkanik Dangkal- 33 akali gempa Hembusan- Tremor menerus dengan amplitudo 1-9 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 2 Agustus 2018 pukul 16:06 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 32 mm dengan durasi sekitar 19 detik. Ketinggian kolom letusan sekitar 405 m di atas permukaan laut atau 100 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke utara.

G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis setinggi 50 m diatas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan - baratlaut.
Melalui rekaman seismograf pada 14 Agustus 2018 tercatat:- 8 kali gempa Guguran- 3 kali gempa Low Frekuensi- 3 kali gempa Hybrid- 6 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi :- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. - Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi  dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu, bertekanan  sedang, dengan intensitas tebal setinggi  200 meter di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. 
Melalui seismograf tanggal 14 Agustus 2018 tercatat:- 6 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-6 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Agustus 2018 pukul 08:58 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1629 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke utara - baratlaut.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, dengan  intensitas sedang setinggi 200-800 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - timur.
Melalui seismograf tanggal 14 Agustus 2018 tercatat:- 129 kali Gempa Letusan- 153 kali Gempa Hembusan- 43 kali Gempa Guguran- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Agustus 2018 pukul 11:21 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Agustus 2018  yang dibandingkan bulan  Juli 2018,   umumnya potensinya cenderung sama di sebagian besar wilayah Indonesia utamanya di Jawa dan sebagian Sumatera sementara di wilayah Sulawesi  Maluku dan Papua perlu waspada terhadap potensi  kejadian gerakan tanah .
Gerakan tanah terakhir terjadi : 
1.Kabupaten Barito Selatan, Provinsi Kalimantan Tengah
Penyebab: Penyebab longsor diperkirakan pasang surut sungai, erosi sungai serta dipicu hujan deras.
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   menyebabkan sebuah gudang tempat penyimpanan papan amblas di Kabupaten Barito Selatan, Provinsi Kalimantan Tengah.
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :
a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.c. Sebanyak 19 gunung api Status Waspada/Level II (Merapi*, Marapi, Kerinci, Dempo, Krakatau*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);d. Sisanya 48 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang  ke arah timur dan tenggara.
Melalui rekaman seismograf pada 14 Agustus 2018 tercatat:- 15 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Tornilo- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. 
Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pasca erupsi November 2017 hingga awal Februari 2018 kegempaan mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) dan Gempa frekuensi rendah (Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 23 juta m3. Pengukuran deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan pola deflasi. Citra Satelit masih merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih terus terjadi, namun dengan eksplosivitas rendah dan frekuensi kejadian relatif rendah.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Pada 23, 24 dan 25 Juni 2018 terjadi rentetan Gempa Vulkanik Dalam mengindikasikan pergerakan magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Frekuensi kejadian erupsi kemudian meningkat dimana puncaknya pada 2 Juli 2018 terjadi erupsi Strombolian disertai dentuman dengan jarak lontaran material pijar mencapai jarak 2 km dari kawah puncak ke segala arah hingga keluar kawah. Frekuensi erupsi setelah itu hingga saat ini mengalami penurunan. Data pemantauan masih mengindikasikan bahwa aktivitas Gunung Agung belum stabil dan masih rentan terjadi erupsi.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama teramati berwarna putih tipis setinggi 100 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat.
Rekaman seismograf tanggal 14 Agustus 2018 tercatat:- 3 kali gempa Vulkanik Dangkal- 21 kali gempa Tektonik Jauh - 8 kali gempa Hembusan
Tanggal 15 Agustus 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 8 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Krakatau (Lampung).
Gunung Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA). G. Krakatau (305 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).
Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 ñ 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 ñ 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.
Pengamatan Visual G. Krakatau dari tanggal 18 ñ 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 ñ 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.
Dalam rangka Kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup Kabut. Asap kawah tidak dapat teramati. Pada malam hari teramati adanya sinar api di atas puncak.  Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - barat.
Melalui seismograf tanggal 14 Agustus 2018 tercatat:- 62 kali gempa Letusan- 38 akali gempa Vulkanik Dangkal- 33 akali gempa Hembusan- Tremor menerus dengan amplitudo 1-9 mm (dominan 2 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta).
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis setinggi 50 m diatas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan - baratlaut.
Melalui rekaman seismograf pada 14 Agustus 2018 tercatat:- 8 kali gempa Guguran- 3 kali gempa Low Frekuensi- 3 kali gempa Hybrid- 6 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi  dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu, bertekanan  sedang, dengan intensitas tebal setinggi  200 meter di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. 
Melalui seismograf tanggal 14 Agustus 2018 tercatat:- 6 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-6 mm (dominan 2 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, dengan  intensitas sedang setinggi 200-800 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - timur.
Melalui seismograf tanggal 14 Agustus 2018 tercatat:- 129 kali Gempa Letusan- 153 kali Gempa Hembusan- 43 kali Gempa Guguran- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG,- Air Nav,- Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin,- VAAC Tokyo,- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
(2) G. Agung, Bali.VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.
(3) G. Krakatau, Lampung.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 2 Agustus 2018 pukul 16:06 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 32 mm dengan durasi sekitar 19 detik. Ketinggian kolom letusan sekitar 405 m di atas permukaan laut atau 100 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke utara.
(4) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta.VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
(5) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Agustus 2018 pukul 08:58 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1629 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke utara - baratlaut.
(6) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Agustus 2018 pukul 11:21 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Agustus 2018 yang dibandingkan bulan Juli 2018  akan  cenderung tetap potensinya di sebagian besar wilayah indonesia  mulai dari  sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Bali, kecuali wilayah Sulawesi ,Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua yang masih relatif tinggi. Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat, Tengah dan Timur,  Selatan,   Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Maluku  , dan wilayah Papua. 

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di: 
1.Kabupaten Barito Selatan, Provinsi Kalimantan Tengah*, 2.Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur, 3. Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) , Provinsi Riau,  4. Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, 5.Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, 6.Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat , 7.Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu, 8.Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat, 9.Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:
1.Kabupaten Barito Selatan, Provinsi Kalimantan Tengah
Jalan longsor terjadi di RT 4/ RW 2, Kelurahan Rantau Kujang, Kecamatan Jenamas, Kabupaten Barito Selatan,  Selasa (14/8/2018). Longsor telah menyebabkan sebuah gudang tempat penyimpanan papan amblas.Tanda-tanda akan terjadi longsoran sudah diketahui masyarakat dengan munculnya retakan pada badan jalan. Sumber berita:  https://www.borneonews.co.id/berita/101209-satu-gudang-amblas-saat-jalan-longsor-di-rantau-kujang 
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran jalan pada tepi sungai. Penyebab longsor diperkirakan pasang surut sungai, erosi sungai serta dipicu hujan deras.
Rekomendasi:
• Masyarakat yang berada disekitar lokasi harus waspada, terutama pada waktu dan setelah hujan;
• Masyarakat disekitarnya agar mewaspadai potensi longsoran susulan dan mengungsi ketempat aman jika longsoran terus berkembang;
• Tidak mengembangkan bangunan atau pemukiman  pada tepi/pinggir sungai, sepadan sungai; 
• Tidak mengembangkan pemukiman pada lereng yang terjal dan terlalu dekat dengan tebing;
• Tidak beraktifitas dibawah tebing atau lereng terjal atau disekitar sungai ketika hujan atau setelah turun hujan lebat;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaca mitigasi bencana gerakan tanah;
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah  / BPBD setempat.


Bandung, 15 Agustus 2018
PVMBG,
BADAN GEOLOGI,
KESDM


Kasban


Berita Terkini]]>
rivalz.m.hxh@gmail.com (Administrator) Berita Terkini Wed, 15 Aug 2018 00:57:41 +0000
Laporan Kebencanaan Geologi 14 Agustus 2018 (06:00 WIB) http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1381-laporan-kebencanaan-geologi-14-agustus-2018-0600-wib http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1381-laporan-kebencanaan-geologi-14-agustus-2018-0600-wib I. SUMMARY:

Hari ini, Selasa 14 Agustus 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang  ke arah timur dan tenggara.
Melalui rekaman seismograf pada 13 Agustus 2018 tercatat:- 3 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Low Frekuensi
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

G. Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama teramati berwarna putih tipis setinggi 100 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat.
Rekaman seismograf tanggal 13 Agustus 2018 tercatat:- 2 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 24 kali gempa Tektonik Jauh - 3 kali gempa Hembusan
Tanggal 14 Agustus 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 7 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujanmengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

G. Krakatau (Lampung):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Krakatau (305 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup Kabut. Asap kawah tidak dapat teramati. Pada malam hari teramati adanya sinar api di atas puncak.  Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - barat.
Melalui seismograf tanggal 13 Agustus 2018 tercatat:- 53 kali gempa Letusan- 25 akali gempa Vulkanik Dangkal- 47 akali gempa Hembusan
Rekomendasi:Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 2 Agustus 2018 pukul 16:06 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 32 mm dengan durasi sekitar 19 detik. Ketinggian kolom letusan sekitar 405 m di atas permukaan laut atau 100 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke utara.

G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis setinggi 75 m diatas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - barat.
Melalui rekaman seismograf pada 13 Agustus 2018 tercatat:- 6 kali gempa Guguran- 2 kali gempa Low Frekuensi- 1 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi :- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. - Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi  dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu, bertekanan  sedang, dengan intensitas tebal setinggi  200 - 500 meter di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah utara, timurlaut, dan baratlaut. 
Melalui seismograf tanggal 13 Agustus 2018 tercatat:- 11 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-15 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Agustus 2018 pukul 08:58 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1629 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke utara - baratlaut.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, dengan  intensitas sedang setinggi 200-800 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - timur.
Melalui seismograf tanggal 13 Agustus 2018 tercatat:- 114 kali Gempa Letusan- 109 kali Gempa Hembusan- 42 kali Gempa Guguran- 6 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Agustus 2018 pukul 11:21 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Agustus 2018  yang dibandingkan bulan  Juli 2018,   umumnya potensinya cenderung sama di sebagian besar wilayah Indonesia utamanya di Jawa dan sebagian Sumatera sementara di wilayah Sulawesi  Maluku dan Papua perlu waspada terhadap potensi  kejadian gerakan tanah .
Gerakan tanah terakhir terjadi : 
1.Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur
Penyebab: Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat   lereng yang terjal, tanah lapukan  dan dipicuh oleh erosi  dari arus sungai yang deras.
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   mengakibatkan tanah persawahan dan akses jalan persawahan tertutup tidak bisa dilewati warga di Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :
a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.c. Sebanyak 19 gunung api Status Waspada/Level II (Merapi*, Marapi, Kerinci, Dempo, Krakatau*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);d. Sisanya 48 gunung api: Status NORMAL/Level I.
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang  ke arah timur dan tenggara.
Melalui rekaman seismograf pada 13 Agustus 2018 tercatat:- 3 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Low Frekuensi
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. 
Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
Gunungapi Agung (Bali).
Pasca erupsi November 2017 hingga awal Februari 2018 kegempaan mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) dan Gempa frekuensi rendah (Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 23 juta m3. Pengukuran deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan pola deflasi. Citra Satelit masih merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih terus terjadi, namun dengan eksplosivitas rendah dan frekuensi kejadian relatif rendah.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Pada 23, 24 dan 25 Juni 2018 terjadi rentetan Gempa Vulkanik Dalam mengindikasikan pergerakan magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Frekuensi kejadian erupsi kemudian meningkat dimana puncaknya pada 2 Juli 2018 terjadi erupsi Strombolian disertai dentuman dengan jarak lontaran material pijar mencapai jarak 2 km dari kawah puncak ke segala arah hingga keluar kawah. Frekuensi erupsi setelah itu hingga saat ini mengalami penurunan. Data pemantauan masih mengindikasikan bahwa aktivitas Gunung Agung belum stabil dan masih rentan terjadi erupsi.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama teramati berwarna putih tipis setinggi 100 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat.
Rekaman seismograf tanggal 13 Agustus 2018 tercatat:- 2 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 24 kali gempa Tektonik Jauh - 3 kali gempa Hembusan
Tanggal 14 Agustus 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 7 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.
Gunungapi Krakatau (Lampung).
Gunung Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA). G. Krakatau (305 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).
Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 ñ 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 ñ 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.
Pengamatan Visual G. Krakatau dari tanggal 18 ñ 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 ñ 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.
Dalam rangka Kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup Kabut. Asap kawah tidak dapat teramati. Pada malam hari teramati adanya sinar api di atas puncak.  Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - barat.
Melalui seismograf tanggal 13 Agustus 2018 tercatat:- 53 kali gempa Letusan- 25 akali gempa Vulkanik Dangkal- 47 akali gempa Hembusan
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta).
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis setinggi 75 m diatas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - barat.
Melalui rekaman seismograf pada 13 Agustus 2018 tercatat:- 6 kali gempa Guguran- 2 kali gempa Low Frekuensi- 1 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.
Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi  dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu, bertekanan  sedang, dengan intensitas tebal setinggi  200 - 500 meter di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah utara, timurlaut, dan baratlaut. 
Melalui seismograf tanggal 13 Agustus 2018 tercatat:- 11 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-15 mm (dominan 2 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.
Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, dengan  intensitas sedang setinggi 200-800 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - timur.
Melalui seismograf tanggal 13 Agustus 2018 tercatat:- 114 kali Gempa Letusan- 109 kali Gempa Hembusan- 42 kali Gempa Guguran- 6 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG,- Air Nav,- Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin,- VAAC Tokyo,- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
(2) G. Agung, Bali.VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.
(3) G. Krakatau, Lampung.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 2 Agustus 2018 pukul 16:06 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 32 mm dengan durasi sekitar 19 detik. Ketinggian kolom letusan sekitar 405 m di atas permukaan laut atau 100 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke utara.
(4) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta.VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
(5) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Agustus 2018 pukul 08:58 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1629 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke utara - baratlaut.
(6) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Agustus 2018 pukul 11:21 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Agustus 2018 yang dibandingkan bulan Juli 2018  akan  cenderung tetap potensinya di sebagian besar wilayah indonesia  mulai dari  sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Bali, kecuali wilayah Sulawesi ,Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua yang masih relatif tinggi. Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat, Tengah dan Timur,  Selatan,   Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di: 
1.Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur*, 2. Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) , Provinsi Riau,  3. Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, 4.Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, 5.Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat , 6.Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu, 7.Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat, 8.Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, 9.Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, 10.Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur, 11.Kabupaten Badung, Provinsi Bali.
*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:
1.Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur
Gerakan tanah terjadi di tebing sungai Brantas dengan diameter longsoran 15 meter x 10 meter tepatnya terletak di Desa Seketi, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Gerakan tanah terjadi pada hari Minggu 12 Agustus 2018 pada sore hari yang mengakibatkan tanah persawahan dan akses jalan persawahan tertutup tidak bisa dilewati warga.
Sumber : https://www.jatimtimes.com/baca/177200/20180813/175500/tebing-longsor-akses-jalan-tertutup/
Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat   tebing sungai  yang terjal, tanah lapukan  dan dipicuh oleh erosi  dari arus sungai yang deras.dari  aliran Sungai Brantas .
Rekomendasi :
• Masyarakat yang beraktifitas dekat dengan lokasi bencana agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan lebat yang berlangsung atau aliran sungai sedang deras dan tinggi karena gerakan tanah susulan masih berpotensi;
• Memasang rambu peringatan rawan longsor serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya gerakan tanah;
• Membuat dinding penahan tebing terutama pada kelokan sungai agar tidak mudah tergerus aliran sungai;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah;
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.



Bandung, 14 Agustus 2018
PVMBG,
BADAN GEOLOGI,KESDM

Kasbani


Berita Terkini]]>
rivalz.m.hxh@gmail.com (Administrator) Berita Terkini Tue, 14 Aug 2018 00:03:34 +0000
Analisa Tim Tanggap Darurat PVMBG mengenai Gempa Lombok http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1380-analisa-tim-tanggap-darurat-pvmbg-mengenai-gempa-lombok http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1380-analisa-tim-tanggap-darurat-pvmbg-mengenai-gempa-lombok
Gempa bumi M7.0, kerusakan berat dengan VIII MMI terkonsentrasi di Dusun Tampes, Desa Selengan; Dusun Braringan, Desa Kayangan, Kecamatan Kayangan, dan Desa Sambik Bengkol Kecamatan Gangga, Kab. Lombok Utara. 
Daerah bencana tersebut tersusun oleh endapan Kuarter berupa rombakan gunungapi muda (tuff, breksi gunungapi, lava) yang telah mengalami pelapukan dan endapan aluvial pantai. Karakteristik dari endapan Kuarter cenderung  memperbesar guncangan gempa bumi.Pengamatan lapangan dan pemetaan detil memperlihatkan adanya deformasi di permukaan atau sesar permukaan (surface rupture) dan retakan tanah yang mengakibatkan kerusakan jalan dan bangunan. Sesar permukaan ditemukan di Desa Sambik Bengkol, Kecamatan Gangga; Dusun Beraringan, Desa Kayangan, Kecamatan Kayangan; dan Desa Selengan, Kecamatan Kayangan.
Retakan dan sesar permukaan yang ditemukan pada  ketiga daerah tersebut secara umum berarah barat – timur. 
Menurut analisis Tim Tanggap Darurat Badan Geologi sesar permukaan tersebut yang  berarah barat – timur mengindikasikan dominan gerakan naik (thrust fault)  dengan off set vertikal di Desa sambik Bengkol, Kayangan dan Selengan bervasiasi antara 2 cm hingga maksimal 50 cm. Sebaran off set vertikal ini merupakan sesar baru yang teridentifikasi setelah kejadian gempa bumi tanggal 5 Agustus 2018.

pvmbg1
Tim Tanggap Darurat Badan Geologi menyebut sesar permukaan ini sebagai Sesar Naik Lombok Utara berarah barat – timur yang membentuk suatu zona sesar dengan sebaran utara – selatan. Sesar naik Lombok Utara ini diperkirakan berasosiasi dengan sesar Naik Busur Belakang Flores yang hingga kini diidentifikasi sebarannya di Laut Flores sebelah utara Pulau Lombok, Sumbawa, Flores hingga Wetar. Sesar permukaan ini yang menyebabkan kerusakan parah daerah yang dilaluinya.

pvmbg2

Sumber:
Tim Tanggap Darurat Badan Geologi
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

Badan Geologi
KESDM


Berita Terkini
]]>
rivalz.m.hxh@gmail.com (Administrator) Berita Terkini Mon, 13 Aug 2018 12:34:38 +0000
Laporan Kebencanaan Geologi 13 Agustus 2018 (06:00 WIB) http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1379-laporan-kebencanaan-geologi-13-agustus-2018-0600-wib http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1379-laporan-kebencanaan-geologi-13-agustus-2018-0600-wib I. SUMMARY:

Hari ini, Senin 13 Agustus 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang  ke arah timur dan tenggara.
Melalui rekaman seismograf pada 12 Agustus 2018 tercatat:- 2 kali gempa Hembusan- 4 kali gempa Tektonik Jauh
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

G. Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama teramati berwarna putih tipis setinggi 100 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur - barat.
Rekaman seismograf tanggal 12 Agustus 2018 tercatat:- 4 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Vulkanik Dalam- 7 kali gempa Tektonik Lokal- 43 kali gempa Tektonik Jauh - 5 kali gempa Hembusan
Tanggal 13 Agustus 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 2 kali gempa Hembusan- 11 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujanmengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

G. Krakatau (Lampung):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Krakatau (305 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup Kabut. Asap kawah tidak dapat teramati. Pada malam hari teramati adanya sinar api di atas puncak.  Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan - baratlaut.
Melalui seismograf tanggal 12 Agustus 2018 tercatat:- 74 kali gempa Letusan- 54 akali gempa Vulkanik Dangkal- 1 akali gempa Vulkanik Dalam- 59 akali gempa Hembusan- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 1-6 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 2 Agustus 2018 pukul 16:06 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 32 mm dengan durasi sekitar 19 detik. Ketinggian kolom letusan sekitar 405 m di atas permukaan laut atau 100 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke utara.

G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis setinggi 50 m diatas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - tenggara.
Melalui rekaman seismograf pada 12 Agustus 2018 tercatat:- 2 kali gempa Guguran- 2  kali gempa Hybrid- 1 kali gempa Low Frekuensi- 1 kali gempa Hembusan- 3 kali gempa Vulkanik Dangkal- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi :- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. - Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi  dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu, bertekanan  sedang, dengan intensitas tebal setinggi  200 - 600 meter di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. 
Melalui seismograf tanggal 12 Agustus 2018 tercatat:- 2 kali gempa Letusan- 1 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-10 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 Agustus 2018 pukul 09:17 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1829 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke utara.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, dengan  intensitas sedang setinggi 200-800 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - timur.
Melalui seismograf tanggal 12 Agustus 2018 tercatat:- 102 kali Gempa Letusan- 130 kali Gempa Hembusan- 29 kali Gempa Guguran- 4 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 Juli 2018 pukul 16:27 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1729 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Agustus 2018  yang dibandingkan bulan  Juli 2018,   umumnya potensinya cenderung sama di sebagian besar wilayah Indonesia utamanya di Jawa dan sebagian Sumatera sementara di wilayah Sulawesi  Maluku dan Papua perlu waspada terhadap potensi  kejadian gerakan tanah .
Gerakan tanah terakhir terjadi : 
1. Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) , Provinsi Riau2. Kabupaten Bangli, Provinsi Bali
Penyebab: Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat   lereng yang terjal, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air serta dipicu oleh tingginya curah hujan dan erosi sungai.
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   mengakibatkan dua rumah rusak berat yang bagian dapurnya ambruk ke Sungai Perigi di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) , Provinsi Riau; senderan serta kandang ternak milik I Wayan Wija longsor  di Kabupaten Bangli, Provinsi Bali.
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

Gempa bumi di baratdaya Yahukimo, Papua
Informasi Gempa bumi:Gempa bumi terjadi pada tanggal 12 Agustus 2018, pukul 03:42:58 WIB dengan magnitudo 5,0 SR dengan pusat gempa berada pada koordinat 139,49° BT dan 4,59° LS, kedalaman 127 km arah 11 km baratdaya Yahukimo, Papua. 
Kondisi Geologi:Pusat gempa bumi berada di darat. Daerah dekat dengan pusat gempa bumi tersusun oleh Batuan ultramafik Pratersier dengan lereng terjal, Batuan karbonat dan gunungapi berumur Tersier dan Batuan Kuarter yang bersifat lepas. Pada daerah yang disusun oleh endapan Kuarter diperkirakan goncangan gempa bumi akan lebih kuat karena batuan ini bersifat urai, lepas, belum kompak dan memperkuat efek getaran sehingga rentan terhadap goncangan gempa bumi.
Dampak Gempa Bumi:Belum ada laporan kerusakan maupun korban jiwa sebagai dampak dari kejadian gempa bumi ini. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami, karena pusat gempa buminya berada di darat.
Penyebab Gempa Bumi:Berdasarkan posisi dan kedalamannya, gempa bumi ini diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas zona penunjaman di sebelah utara pulau Papua. 
Rekomendasi:• Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.•  Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diharapkan berkekuatan lebih kecil.

II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :
a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.c. Sebanyak 19 gunung api Status Waspada/Level II (Merapi*, Marapi, Kerinci, Dempo, Krakatau*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);d. Sisanya 48 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang  ke arah timur dan tenggara.
Melalui rekaman seismograf pada 12 Agustus 2018 tercatat:- 2 kali gempa Hembusan- 4 kali gempa Tektonik Jauh
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. 
Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pasca erupsi November 2017 hingga awal Februari 2018 kegempaan mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) dan Gempa frekuensi rendah (Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 23 juta m3. Pengukuran deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan pola deflasi. Citra Satelit masih merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih terus terjadi, namun dengan eksplosivitas rendah dan frekuensi kejadian relatif rendah.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Pada 23, 24 dan 25 Juni 2018 terjadi rentetan Gempa Vulkanik Dalam mengindikasikan pergerakan magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Frekuensi kejadian erupsi kemudian meningkat dimana puncaknya pada 2 Juli 2018 terjadi erupsi Strombolian disertai dentuman dengan jarak lontaran material pijar mencapai jarak 2 km dari kawah puncak ke segala arah hingga keluar kawah. Frekuensi erupsi setelah itu hingga saat ini mengalami penurunan. Data pemantauan masih mengindikasikan bahwa aktivitas Gunung Agung belum stabil dan masih rentan terjadi erupsi.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama teramati berwarna putih tipis setinggi 100 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur - barat.
Rekaman seismograf tanggal 12 Agustus 2018 tercatat:- 4 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Vulkanik Dalam- 7 kali gempa Tektonik Lokal- 43 kali gempa Tektonik Jauh - 5 kali gempa Hembusan
Tanggal 13 Agustus 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 2 kali gempa Hembusan- 11 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Krakatau (Lampung).
Gunung Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA). G. Krakatau (305 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).
Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 ñ 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 ñ 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.
Pengamatan Visual G. Krakatau dari tanggal 18 ñ 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 ñ 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.
Dalam rangka Kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup Kabut. Asap kawah tidak dapat teramati. Pada malam hari teramati adanya sinar api di atas puncak.  Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan - baratlaut.
Melalui seismograf tanggal 12 Agustus 2018 tercatat:- 74 kali gempa Letusan- 54 akali gempa Vulkanik Dangkal- 1 akali gempa Vulkanik Dalam- 59 akali gempa Hembusan- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 1-6 mm (dominan 2 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta).
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis setinggi 50 m diatas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - tenggara.
Melalui rekaman seismograf pada 12 Agustus 2018 tercatat:- 2 kali gempa Guguran- 2  kali gempa Hybrid- 1 kali gempa Low Frekuensi- 1 kali gempa Hembusan- 3 kali gempa Vulkanik Dangkal- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi  dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu, bertekanan  sedang, dengan intensitas tebal setinggi  200 - 600 meter di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. 
Melalui seismograf tanggal 12 Agustus 2018 tercatat:- 2 kali gempa Letusan- 1 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-10 mm (dominan 2 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, dengan  intensitas sedang setinggi 200-800 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - timur.
Melalui seismograf tanggal 12 Agustus 2018 tercatat:- 102 kali Gempa Letusan- 130 kali Gempa Hembusan- 29 kali Gempa Guguran- 4 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG,- Air Nav,- Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin,- VAAC Tokyo,- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
(2) G. Agung, Bali.VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.
(3) G. Krakatau, Lampung.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 2 Agustus 2018 pukul 16:06 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 32 mm dengan durasi sekitar 19 detik. Ketinggian kolom letusan sekitar 405 m di atas permukaan laut atau 100 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke utara.
(4) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta.VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
(5) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 Agustus 2018 pukul 09:17 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1829 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke utara.
(6) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Agustus 2018 pukul 08:27 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1729 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Agustus 2018 yang dibandingkan bulan Juli 2018  akan  cenderung tetap potensinya di sebagian besar wilayah indonesia  mulai dari  sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Bali, kecuali wilayah Sulawesi ,Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua yang masih relatif tinggi. Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat, Tengah dan Timur,  Selatan,   Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Maluku  , dan wilayah Papua. 

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di: 
1. Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) , Provinsi Riau*,  2. Kabupaten Bangli, Provinsi Bali*, 3.Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, 4.Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat , 5.Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu, 6.Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat, 7.Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, 8.Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, 9.Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur, 10.Kabupaten Badung, Provinsi Bali, 11.Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan.
*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) , Provinsi Riau
Gerakan tanah/ Tanah Longsor menimpa sejumlah warga di Jalan Jumpai Gang Perigi, Kelurahan Kuala Enok, Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Sabtu (11/8/2018) pukul 8.40 WIB.  Bencana tersebut menyebabkan 5 unit rumah warga yang dihuni 28 orang dari 8 Kepala Keluarga ambruk dan rusak parah. Longsoran Susulan ( Kuala Enok ) - Baru satu hari berselang, bencana tanah longsor kembali terjadi di Kuala Enok. Musibah kali ini menimpa warga RT.02/RW.02 Lorong Perigi Hulu. Dua rumah rusak berat yang bagian dapurnya ambruk ke Sungai Perigi. Tidak ada korban jiwa dalam musibah tanah longsor yang terjadi sekitar pukul 10.00 WIB tadi, namun kerugian ditaksir puluhan juta rupiah. ( 12/08/2018)
Sumber : http://utusanriau.co/?/det/36733; http://www.riaubook.com/berita/45831/bencana-longsor-di-kuala-enok-lima-rumah-rusak-parah.html; https://web.facebook.com/273078369503402/posts/1448777591933468/?_rdc=1&_rdr
Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat erosi sungai,  lereng yang terjal, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air serta dipicu oleh tingginya curah hujan.

2. Kabupaten Bangli, Provinsi Bali
Gerakan tanah/ Tanah Longsor terjadi di tembok lapangan tembak Polres Bangli yang terletak di sebelah garase / gedung Sat Sabhara  Polres Bangli, Minggu (12/08) dini hari. Longsor juga terjadi di Banjar/Kelurahan Bebalang, Kecamatan Bangli, Sabtu (11/8) pada Sabtu dinihari pukul 02.12 Wita. Selain itu mengakibatkan longsornya senderan serta kandang babi milik I Wayan Wija
Sumber: https://www.balipuspanews.com/mobil-lantas-bangli-terseret-longsor.html
Penyebab terjadinya gerakan tanah  kelerengan , tanah  pelapukan yang tebal dan dipicu curah hujan yang tinggi
Rekomendasi :
• Agar masyarakat yang beraktifitas dan tinggal di sekitar daerah bencana, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
• Membuat penahan erosi sungai baik dalam bentuk bronjong/sak pasir dan atau menormalisasi sungai
• Membuat penahan tebing yang lebih kuat dan dalam untuk Memperkuat kestabilan lereng.
• Membuat Rambu di daerah jalur jalan rawan longsor untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Agar masyarakat yang beraktifitas dan tinggal di sekitar daerah bencana, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
• Membuat penahan erosi sungai baik dalam bentuk bronjong/sak pasir dan atau menormalisasi sungai
• Area longsoran segera dibersihkan dan rumah diperbaiki dan diberi perkuatan tebing penahan lereng dengan  fondasi mencapai tanah yang keras
• Membuat penahan tebing yang lebih kuat dan dalam untuk Memperkuat kestabilan lereng.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah  / BPBD setempat.



Bandung, 13 Agustus 2018
PVMBG,
Badan Geologi,
KESDM


Kasbani



Berita Terkini]]>
rivalz.m.hxh@gmail.com (Administrator) Berita Terkini Mon, 13 Aug 2018 12:20:34 +0000
Laporan Kebencanaan Geologi 12 Agustus 2018 (06:00 WIB) http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1378-laporan-kebencanaan-geologi-12-agustus-2018-0600-wib http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1378-laporan-kebencanaan-geologi-12-agustus-2018-0600-wib I. SUMMARY:

Hari ini, Minggu 12 Agustus 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang  ke arah timur dan tenggara.
Melalui rekaman seismograf pada 11 Agustus 2018 tercatat:- 6 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

G. Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama teramati berwarna putih tipis setinggi 50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah  barat.
Rekaman seismograf tanggal 11 Agustus 2018 tercatat:- 2 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal- 3 kali gempa Tektonik Lokal- 62 kali gempa Tektonik Jauh - 1 kali gempa Tremor Harmonik
Tanggal 12 Agustus 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 3 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Tektonik Lokal- 17 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujanmengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

G. Krakatau (Lampung):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Krakatau (305 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup Kabut. Asap kawah tidak dapat teramati. Pada malam hari teramati adanya sinar api di atas puncak.  Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - barat.
Melalui seismograf tanggal 11 Agustus 2018 tercatat:- 103 kali gempa Letusan- 42 akali gempa Vulkanik Dangkal- 3 akali gempa Vulkanik Dalam- 61 akali gempa Hembusan- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 1-12 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 2 Agustus 2018 pukul 16:06 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 32 mm dengan durasi sekitar 19 detik. Ketinggian kolom letusan sekitar 405 m di atas permukaan laut atau 100 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke utara.

G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis setinggi 20 m diatas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - barat.
Melalui rekaman seismograf pada 11 Agustus 2018 tercatat:- 4 kali gempa Guguran- 10  kali gempa Hybrid- 5 kali gempa Low Frekuensi- 1 kali gempa Hembusan- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi :- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. - Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi  dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu, bertekanan  sedang, dengan intensitas tebal setinggi  200 - 400 meter di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. 
Melalui seismograf tanggal 11 Agustus 2018 tercatat:- 1 kali gempa Letusan- 1 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-8 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 Agustus 2018 pukul 11:25 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1629 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke baratlaut.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, dengan  intensitas sedang setinggi 200-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur.
Melalui seismograf tanggal 10 Agustus 2018 tercatat:- 65 kali Gempa Letusan- 49 kali Gempa Hembusan- 41 kali Gempa Guguran
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 Juli 2018 pukul 16:27 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1729 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Agustus 2018  yang dibandingkan bulan  Juli 2018,   umumnya potensinya cenderung sama di sebagian besar wilayah Indonesia utamanya di Jawa dan sebagian Sumatera sementara di wilayah Sulawesi  Maluku dan Papua perlu waspada terhadap potensi  kejadian gerakan tanah .
Gerakan tanah terakhir terjadi : 1.Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur 2.Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat 3.Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu4.Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat5.Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau
Penyebab: Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal , sifat tanah dan batuan pondasi yang lepas dan tidak kompak dan dipicu oleh penggalian pondasi pada lereng yang terlalu tegak.dipicuh oleh penggalian pasir serta curah hujan yang tinggi sebelum kejadian gerakan tanah.
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   mengakibatkan  1 (satu) orang pekerja banguann meninggal dunia.di Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur ; 4 (empat) orang tertimbun di Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat ; badan jalan retak-retak dan mengancam para pengguna jalan yang melintas di kawasan tersebut di Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu;1 (satu) rumah rusak berat, arus listrik terputus, dan arus lalu lintas terputus di Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat;Lima rumah panggung roboh dan 8 kepala keluarga (KK) dengan 28 orang mengungsi di Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

Laporan Perkembangan Tim Tanggap Darurat Gempa bumi Lombok M 7.0, NTB= 11 Agustus 2018=
1. Gempa bumi terjadi pada hari Minggu, tanggal 5 Agustus  2018, pukul 18:45:35 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempa bumi berada pada koordinat 8,37° LS  dan 116,48° BT, dengan magnitudo  7,0  pada kedalaman 15 km. Sebelumnya, gempa bumi terjadi pada tanggal 29 Juli 2018 dengan kekuatan M6,4 dengan kedalaman 10 km. Gempa bumi susulan, dengan M6.2 dan terjadi pada pukul 12:25:32 WIB dengan kedalaman 12 km. 
2. Gempa bumi M7.0 ini menimbulkan kerusakan berat pada bangunan dan infrastruktur serta korban jiwa di Kabupaten Lombok Utara dan Lombok Timur.  Gempa bumi susulan M6.2 menambah kerusakan di kawasan Ampenan dan Mataram.
3. Tim Tanggap Darurat Gempa bumi melakukan pemetaan dampak gempa bumi di wilayah Kabupaten Lombok Barat dan Mataram
4. Sosialisasi ke masyarakat langsung.
5. Koordinasi dengan Tim Siaga ESDM di Posko Kantor Camat Pemenang dan koordinasi dengan BNPB Posko Utama Tanjung.

II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :
a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.c. Sebanyak 19 gunung api Status Waspada/Level II (Merapi*, Marapi, Kerinci, Dempo, Krakatau*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);d. Sisanya 48 gunung api: Status NORMAL/Level I.
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang  ke arah timur dan tenggara.
Melalui rekaman seismograf pada 11 Agustus 2018 tercatat:- 6 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. 
Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
Gunungapi Agung (Bali).
Pasca erupsi November 2017 hingga awal Februari 2018 kegempaan mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) dan Gempa frekuensi rendah (Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 23 juta m3. Pengukuran deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan pola deflasi. Citra Satelit masih merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih terus terjadi, namun dengan eksplosivitas rendah dan frekuensi kejadian relatif rendah.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Pada 23, 24 dan 25 Juni 2018 terjadi rentetan Gempa Vulkanik Dalam mengindikasikan pergerakan magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Frekuensi kejadian erupsi kemudian meningkat dimana puncaknya pada 2 Juli 2018 terjadi erupsi Strombolian disertai dentuman dengan jarak lontaran material pijar mencapai jarak 2 km dari kawah puncak ke segala arah hingga keluar kawah. Frekuensi erupsi setelah itu hingga saat ini mengalami penurunan. Data pemantauan masih mengindikasikan bahwa aktivitas Gunung Agung belum stabil dan masih rentan terjadi erupsi.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama teramati berwarna putih tipis setinggi 50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah  barat.
Rekaman seismograf tanggal 11 Agustus 2018 tercatat:- 2 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal- 3 kali gempa Tektonik Lokal- 62 kali gempa Tektonik Jauh - 1 kali gempa Tremor Harmonik
Tanggal 12 Agustus 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 3 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Tektonik Lokal- 17 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.
Gunungapi Krakatau (Lampung).
Gunung Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA). G. Krakatau (305 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).
Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 ñ 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 ñ 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.
Pengamatan Visual G. Krakatau dari tanggal 18 ñ 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 ñ 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.
Dalam rangka Kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup Kabut. Asap kawah tidak dapat teramati. Pada malam hari teramati adanya sinar api di atas puncak.  Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - barat.
Melalui seismograf tanggal 11 Agustus 2018 tercatat:- 103 kali gempa Letusan- 42 akali gempa Vulkanik Dangkal- 3 akali gempa Vulkanik Dalam- 61 akali gempa Hembusan- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 1-12 mm (dominan 2 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta).
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis setinggi 20 m diatas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - barat.
Melalui rekaman seismograf pada 11 Agustus 2018 tercatat:- 4 kali gempa Guguran- 10  kali gempa Hybrid- 5 kali gempa Low Frekuensi- 1 kali gempa Hembusan- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.
Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi  dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu, bertekanan  sedang, dengan intensitas tebal setinggi  200 - 400 meter di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. 
Melalui seismograf tanggal 11 Agustus 2018 tercatat:- 1 kali gempa Letusan- 1 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-8 mm (dominan 2 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.
Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, dengan  intensitas sedang setinggi 200-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur.
Melalui seismograf tanggal 10 Agustus 2018 tercatat:- 65 kali Gempa Letusan- 49 kali Gempa Hembusan- 41 kali Gempa Guguran
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG,- Air Nav,- Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin,- VAAC Tokyo,- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
(2) G. Agung, Bali.VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.
(3) G. Krakatau, Lampung.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 2 Agustus 2018 pukul 16:06 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 32 mm dengan durasi sekitar 19 detik. Ketinggian kolom letusan sekitar 405 m di atas permukaan laut atau 100 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke utara.
(4) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta.VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
(5) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 Agustus 2018 pukul 11:25 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1629 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke baratlaut.
(6) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Agustus 2018 pukul 08:27 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1729 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Agustus 2018 yang dibandingkan bulan Juli 2018  akan  cenderung tetap potensinya di sebagian besar wilayah indonesia  mulai dari  sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Bali, kecuali wilayah Sulawesi ,Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua yang masih relatif tinggi. Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat, Tengah dan Timur,  Selatan,   Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di: 
1.Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur*, 2.Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat*, 3.Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu*, 4.Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat*, 5.Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau*, 6.Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, 7.Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur, 8.Kabupaten Badung, Provinsi Bali, 9.Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan.
*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur 
Gerakan tanah terjadi pada proyek pembangunan gedung SMKN Wonosalam yang berada di wilayah Dusun Pucangrejo, Desa Wonosalam, Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur. Gerakan tanah terjadi pada hari Jum’at, 10 Agustus 2018, sekitar pukul 09.30 WIB pagi. Gerakan tanah yang diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan pada bangunan pondasi ini mengakibatkan 1 (satu) orang pekerja banguann meninggal dunia.
Sumber :https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4160543/pekerja-proyek-sekolah-di-jombang-tewas-tertimpa-bangunan-longsor
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat sifat tanah dan batuan pondasi yang lepas dan tidak kompak dan dipicu oleh penggalian pondasi pada lereng yang terlalu tegak.

2. Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat
Gerakan tanah terjadi di Dusun Dompo Indah, Desa Seleneng, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada hari Kamis, 9 Agustus 2018. Gerakan tanah yang diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan pada tebing ini diduga mengakibatkan 4 (empat) orang tertimbun.
Sumber :https://daerah.sindonews.com/read/1329177/174/evakuasi-4-korban-longsor-di-dusun-dompo-indah-belum-membuahkan-hasil-1533822490
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat batuan penyusun yang belum kompak, telah terkekarkan dan mudah runtuh serta dipicu gempa bumi.

3. Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu
Gerakan tanah terjadi kembali di jalur jalan lintas penghubung Kepahiang – Empat Lawang, persisnya di Desa Gunung Agung dan Desa Pagar Agung, Kecamatan Bermani Ilir, Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu pada hari Kamis, 9 Agustus 2018. Gerakan tanah yang diperkirakan longsoran bahan rombakan pada tebing jalan ini merusak dinding beton pelapis tebing sepanjang 50 meter dengan tinggi 11 meter, badan jalan retak-retak dan mengancam para pengguna jalan yang melintas di kawasan tersebut.
Sumber :http://harianrakyatbengkulu.com/ver3/2018/08/10/lagi-jalan-provinsi-terancam-putus/
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng yang terjal, drainase air yang tidak berfungsi baik menyebabkan air melimpas pada tebing di atas badan jalan serta dipicu oleh curah hujan tinggi sebelum dan saat terjadinya longsor.

4. Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat
Gerakan tanah terjadi di jalur jalan penghubung Sungai Geringging – Lubuk Basung, persisnya di Kecamatan Sungai Geringging, Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat pada hari Rabu, 8 Agustus 2018 sekitar pukul 16.00 WIB sore hari. Gerakan tanah yang diperkirakan longsoran bahan rombakan pada tebing jalan ini menimbun badan jalan, 1 (satu) rumah rusak berat, arus listrik terputus, dan arus lalu lintas terputus.
Sumber :https://www.youtube.com/watch?v=AHqLqhAcNOM
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng yang terjal, drainase air yang tidak berfungsi baik menyebabkan air melimpas pada tebing di atas badan jalan serta dipicu oleh curah hujan tinggi sebelum dan saat terjadinya longsor.

5.Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau
Lima rumah warga yang berada di tepi sungai di Kelurahan Kuala Enok, Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, roboh akibat longsor. Longsor terjadi pada pukul 08.40 WIB, akibat hujan deras dan air sungai naik. Lima rumah panggung yang roboh tersebut, ada 8 kepala keluarga (KK) dengan 28 orang. Para korban longsor sudah dievakuasi oleh petugas BPBD, TNI, dan polisi sehingga tidak ada korban jiwa.
Sumber berita: https://regional.kompas.com/read/2018/08/11/16134651/5-rumah-warga-roboh-akibat-longsor-tepi-sungai
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran tanah pada tepi sungai. Penyebab longsor diperkirakan pasang surut sungai, erosi sungai serta dipicu hujan deras.
Rekomendasi : 
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu meningkatkan kewaspadaan dan tidak beraktivitas di sekitar lokasi proyek pada saat dan setelah terjadi hujan yang deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
• Kegiatan  proyek pembangunan  agar dilakukan dengan tata cara teknis yang aman sehingga terjamin keselamatan pekerja.
• Masyarakat disekitarnya agar mewaspadai potensi longsoran susulan dan mengungsi ketempat aman jika longsoran terus berkembang;
• Tidak mengembangkan bangunan pada lereng jalan yang terjal dan terlalu dekat dengan tebing;
• Tidak mengembangkan pemukiman dipinggir/ sepadan sungai
• Tidak beraktifitas dibawah tebing atau lereng terjal ketika hujan atau setelah turun hujan lebat
• Agar masyarakat di sekitar daerah bencana lebih waspada, mengingat gempa bumi susulan masih terus berlangsung, hal tersebut masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah  / BPBD setempat.
• Agar masyarakat di sekitar daerah bencana maupun pengguna jalan lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
• Material longsoran agar segera dibersihkan, dalam pelaksanaan pembersihan agar tidak dilaksanakan pada saat hujan dan setelah hujan, karena daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
• Membuat Rambu di daerah jalur jalan rawan longsor untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta  menata aliran air permukaan pada tebing di atas pemukiman tersebut.
• Material longsoran agar segera dibersihkan, dalam pelaksanaan pembersihan agar tidak dilaksanakan pada saat hujan dan setelah hujan, karena daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah  / BPBD setempat.



Bandung, 12 Agustus 2018
PVMBG,
Badan Geologi, KESDM




Kasbani



Berita Terkini]]>
rivalz.m.hxh@gmail.com (Administrator) Berita Terkini Mon, 13 Aug 2018 12:16:51 +0000
Laporan Kebencanaan Geologi 11 Agustus 2018 (06:00 WIB) http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1377-laporan-kebencanaan-geologi-11-agustus-2018-0600-wib http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1377-laporan-kebencanaan-geologi-11-agustus-2018-0600-wib I. SUMMARY:

Hari ini, Sabtu 11 Agustus 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang  ke arah timur dan tenggara.
Melalui rekaman seismograf pada 10 Agustus 2018 tercatat:- 11 kali gempa Hembusan
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
G. Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama teramati berwarna putih tipis setinggi 100 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah  barat.
Rekaman seismograf tanggal 10 Agustus 2018 tercatat:- 2 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Hembusan- 75 kali gempa Tektonik Jauh ( 2 kali merupakan gempa terasa)
Tanggal 11 Agustus 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 1 kali gempa Vulkanik Dalam- 19 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujanmengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.
G. Krakatau (Lampung):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Krakatau (305 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup Kabut. Asap kawah tidak dapat teramati. Pada malam hari teramati adanya sinar api di atas puncak.  Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - tenggara.
Melalui seismograf tanggal 10 Agustus 2018 tercatat:- 115 kali gempa Letusan- 33 akali gempa Vulkanik Dangkal- 4 akali gempa Vulkanik Dalam
- 42 akali gempa Hembusan- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 1-10 mm (dominan 3 mm)
Rekomendasi:Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 2 Agustus 2018 pukul 16:06 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 32 mm dengan durasi sekitar 19 detik. Ketinggian kolom letusan sekitar 405 m di atas permukaan laut atau 100 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke utara.
G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati diatas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timurlaut - baratlaut.
Melalui rekaman seismograf pada 10 Agustus 2018 tercatat:- 11 kali gempa Guguran- 5  kali gempa Hybrid- 3 kali gempa Low Frekuensi- 2 kali gempa Vulkanik Dangkal- 2 kali gempa Hembusan- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi :- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. - Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi  dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu, bertekanan  sedang, dengan intensitas tebal setinggi  200 - 500 meter di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah utara. 
Melalui seismograf tanggal 10 Agustus 2018 tercatat:- 1 kali gempa Letusan- 1 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-6 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Agustus 2018 pukul 08:27 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1729 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke utara.
G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, dengan  intensitas sedang setinggi 200-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur.
Melalui seismograf tanggal 10 Agustus 2018 tercatat:- 65 kali Gempa Letusan- 49 kali Gempa Hembusan- 41 kali Gempa Guguran
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 Juli 2018 pukul 16:27 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1729 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gempa Bumi

1) Laporan Perkembangan Tim Tanggap Darurat Gempa bumi Lombok M 7.0, NTB Badan Geologi= 10 Agustus 2018=
Gempa bumi terjadi pada hari Minggu, tanggal 5 Agustus  2018, pukul 18:45:35 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempa bumi berada pada koordinat 8,37° LS  dan 116,48° BT, dengan magnitudo  7,0  pada kedalaman 15 km. Sebelumnya, gempa bumi terjadi pada tanggal 29 Juli 2018 dengan kekuatan M6,4 dengan kedalaman 10 km. Gempa bumi susulan, dengan M6.2 dan terjadi pada pukul 12:25:32 WIB dengan kedalaman 12 km. 
Gempa bumi M7.0 ini menimbulkan kerusakan berat pada bangunan dan infrastruktur serta korban jiwa di Kabupaten Lombok Utara dan Lombok Timur.  Gempa bumi susulan M6.2 menambah kerusakan di kawasan Ampenan dan Mataram.
Tim Tanggap Darurat Gempa bumi melakukan pemetaan dampak gempa bumi M7.0 di wilayah Kecamatan Sambelia dan Sembalun Kabupaten Lombok Timur dan Kec. Bayan, Kab. Lombok Timur.
Sosialisasi ke masyarakat langsung.
Tim TD Gempa bumi akan meneruskan pemetaan kerusakan ke Kec. Ampenan dan Mataram.

TANGGAPAN GEMPA BUMI DI PROVINSI BENGKULU , TANGGAL 10 AGUSTUS 2018
Informasi Gempa bumi:Gempa bumi terjadi pada hari Jumat, 10 Agustus 2018, pukul 20:36 WIB. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa bumi terletak pada koordinat 102,26° BT dan 3,26° LS, dengan kekuatan M5,1 pada kedalaman 125 km, berjarak 13 km tenggara Kabupaten Lebong, Bengkulu. GeoForschungsZentrum (GFZ), Jerman, melalui GEOFON program menginformasikan bahwa gempa bumi berpusat di koordinat 102,20° BT dan 3,32° LS dengan magnitudo M 4,8 pada kedalaman 116 km.
Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi:Pusat gempa bumi berada darat, dimana wilayah sekitarnya secara litologi disusun oleh batuan hasil rombakan gunungapi berumur Tersier hingga Kuarter dan  batuan sedimen berumur Tersier. Guncangan gempa bumi akan terasa kuat pada batuan Kuarter serta batuan Tersier yang telah mengalami pelapukan karena bersifat urai, lepas, tidak kompak yang dapat mengamplifikasi guncangan gempa bumi.
Penyebab gempa bumi:Gempa bumi yang terjadi dikategorikan sebagai gempa bumi dengan kedalaman menengah. Berdasarkan posisi pusat gempa bumi dan kedalamannya, kejadian gempa bumi berasosiasi dengan aktifitas penunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia.
Dampak gempa bumi:Intensitas guncangan gempa bumi terbesar akan dirasakan di wilayah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi, kemudian intensitasnya semakin melemah seiring bertambahnya jarak dengan pusat gempa bumi. Berdasarkan BMKG, guncangan gempa bumi dirasakan di Bengkulu Utara dengan intensitas II-III MMI (Modified Mercalli Intensity) dan di Kota Bengkulu sebesar I-II MMI. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami, karena berpusat di darat. Hingga tanggapan ini dibuat, belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.
Rekomendasi:(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil.

II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :
a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.c. Sebanyak 19 gunung api Status Waspada/Level II (Merapi*, Marapi, Kerinci, Dempo, Krakatau*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);d. Sisanya 48 gunung api: Status NORMAL/Level I.
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang  ke arah timur dan tenggara.
Melalui rekaman seismograf pada 10 Agustus 2018 tercatat:- 11 kali gempa Hembusan
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. 
Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
Gunungapi Agung (Bali).
Pasca erupsi November 2017 hingga awal Februari 2018 kegempaan mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) dan Gempa frekuensi rendah (Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 23 juta m3. Pengukuran deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan pola deflasi. Citra Satelit masih merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih terus terjadi, namun dengan eksplosivitas rendah dan frekuensi kejadian relatif rendah.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Pada 23, 24 dan 25 Juni 2018 terjadi rentetan Gempa Vulkanik Dalam mengindikasikan pergerakan magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Frekuensi kejadian erupsi kemudian meningkat dimana puncaknya pada 2 Juli 2018 terjadi erupsi Strombolian disertai dentuman dengan jarak lontaran material pijar mencapai jarak 2 km dari kawah puncak ke segala arah hingga keluar kawah. Frekuensi erupsi setelah itu hingga saat ini mengalami penurunan. Data pemantauan masih mengindikasikan bahwa aktivitas Gunung Agung belum stabil dan masih rentan terjadi erupsi.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama teramati berwarna putih tipis setinggi 100 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah  barat.
Rekaman seismograf tanggal 10 Agustus 2018 tercatat:- 2 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Hembusan- 75 kali gempa Tektonik Jauh ( 2 kali merupakan gempa terasa)
Tanggal 11 Agustus 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 1 kali gempa Vulkanik Dalam- 19 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.
Gunungapi Krakatau (Lampung).
Gunung Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA). G. Krakatau (305 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).
Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 ñ 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 ñ 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.
Pengamatan Visual G. Krakatau dari tanggal 18 ñ 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 ñ 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.
Dalam rangka Kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup Kabut. Asap kawah tidak dapat teramati. Pada malam hari teramati adanya sinar api di atas puncak.  Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - tenggara.
Melalui seismograf tanggal 10 Agustus 2018 tercatat:- 115 kali gempa Letusan- 33 akali gempa Vulkanik Dangkal- 4 akali gempa Vulkanik Dalam
- 42 akali gempa Hembusan- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 1-10 mm (dominan 3 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta).
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati diatas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timurlaut - baratlaut.
Melalui rekaman seismograf pada 10 Agustus 2018 tercatat:- 11 kali gempa Guguran- 5  kali gempa Hybrid- 3 kali gempa Low Frekuensi- 2 kali gempa Vulkanik Dangkal- 2 kali gempa Hembusan- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.
Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi  dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu, bertekanan  sedang, dengan intensitas tebal setinggi  200 - 500 meter di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah utara. 
Melalui seismograf tanggal 10 Agustus 2018 tercatat:- 1 kali gempa Letusan- 1 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-6 mm (dominan 2 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.
Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, dengan  intensitas sedang setinggi 200-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur.
Melalui seismograf tanggal 10 Agustus 2018 tercatat:- 65 kali Gempa Letusan- 49 kali Gempa Hembusan- 41 kali Gempa Guguran
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG,- Air Nav,- Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin,- VAAC Tokyo,- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
(2) G. Agung, Bali.VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.
(3) G. Krakatau, Lampung.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 2 Agustus 2018 pukul 16:06 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 32 mm dengan durasi sekitar 19 detik. Ketinggian kolom letusan sekitar 405 m di atas permukaan laut atau 100 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke utara.
(4) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta.VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
(5) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 8 Agustus 2018 pukul 09:46 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2029 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke baratlaut
(6) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Agustus 2018 pukul 08:27 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1729 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.



Bandung, 11 Agustus 2018
PVMBG,
BADAN GEOLOGI, KESDM


Kasbani



Berita Terkini]]>
rivalz.m.hxh@gmail.com (Administrator) Berita Terkini Mon, 13 Aug 2018 12:14:39 +0000