Laporan Kebencanaan Geologi 11 September 2017 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:
 
Hari ini, Senin, 11 September 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Sinabung:
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi sering tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tebal dengan tekanan lemah setinggi 100 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf, tercatat 2 kali erupsi/letusan namun secara visual tidak teramati karena gunungapi tertutup kabut. Terekam 46 kali guguran lava dan saat jelas teramati meluncur ke arah Timur-Tenggara.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi: 
-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga  kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 8 September 2017 Pukul 15:11 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m di atas puncak, condong ke arah Barat-Baratdaya.

G. Dukono:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Melalui rekaman seismograf, tercatat 183 kali erupsi/letusan dan teramati kolom abu erupsi berwarna putih kelabu tebal tekanan sedang dengan ketinggian 300-600 m di atas puncak, condong ditiup angin ke arah Barat-Baratlaut. 
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 10 September 2017 pukul 07:35 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1829 m di atas permukaan laut atau 600 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Baratlaut.

G. Ibu:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas hingga berkabut. Melalui rekaman seismograf, tercatat 49 kali erupsi/letusan, 28 kali hembusan dan 11 kali guguran lava. Saat jelas, teramati kolom abu erupsi berwarna putih kelabu tipis-sedang tekanan lemah-sedang dengan ketinggian 300-500 m di atas puncak, condong ditiup angin ke arah Baratlaut-Utara. 
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

Untuk Gunungapi status Normal:  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di dekat kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan September 2017 yang dibandingkan bulan Agustus 2017,  menunjukan Wilayah  Sumatera dan Kalimantan cenderung mengalami peningkatan. Sedangkan  Wilayah Indonesia bagian Timur seperti Sulawesi dan Maluku cenderung potensi terjadinya gerakan tanah relatif menurun. Potensi Kejadian gerakan tanah diperkirakan akan masih terus mengancam terutama di wilayah Jawa mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi di:
1. Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat,  2. Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat, 3. Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh. 
Penyebab:Penyebab gerakan tanah diperkirakan  karena  kemiringan lereng yang terjal, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum terjadinya gerakan tanah, serta rumah yang dibangun dekat tebing.
Dampak :1. Gerakan tanah / Tanah Longsor  di Bukittinggi, menimpa dua unit bangunan 2. Gerakan tanah / Tanah Longsor  di Jalan utama yang menghubungkan Kota Padang dengan Kabupaten Solok, Sumatera Barat tidak dapat dilalui kendaraan akibat tertimbun material longsor 3. Gerakan tanah / Tanah Longsor di  Kabupaten Aceh Singkil, mengakibatkan warga berhamburan meninggalkan rumah mereka akibat suara gemuruh dari tanah longsor. Longsor juga  menutupi ruas jalan lintas Singkil-Subulussalam.
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung*, Sumut); 
b. Sebanyak 17 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, dan Banda Api); 
c. Sisanya 51 gunung api: Status Normal/Level 1.
*Gunungapi Sinabung.
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi sering tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tebal dengan tekanan lemah setinggi 100 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf, tercatat 2 kali erupsi/letusan namun secara visual tidak teramati karena gunungapi tertutup kabut. Terekam 46 kali guguran lava dan saat jelas teramati meluncur ke arah Timur-Tenggara.
Hasil pengukuran volume kubah lava pasca letusan besar Tanggal 2-3 Agustus 2017 yang dilakukan terakhir kali pada Tanggal 25 Agustus 2017 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,5 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

*Gunungapi Dukono.
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Melalui rekaman seismograf, tercatat 183 kali erupsi/letusan dengan amplitudo dominan tremor menerus berkisar 0,5-24 mm (dominan 2 mm) dan teramati kolom abu erupsi berwarna putih kelabu tebal tekanan sedang dengan ketinggian 300-600 m di atas puncak, condong ditiup angin ke arah Barat-Baratlaut. Terdengar bunyi gemuruh lemah dan sekali dentuman sedang di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

*Gunungapi Ibu.
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi tampak jelas hanya di pagi hari dan seterusnya berkabut. Melalui rekaman seismograf, tercatat 49 kali erupsi/letusan, 28 kali hembusan dan 11 kali guguran lava. Saat jelas, teramati kolom abu erupsi berwarna putih kelabu tipis-sedang tekanan lemah-sedang dengan ketinggian 300-500 m di atas puncak, condong ditiup angin ke arah Baratlaut-Utara. Tidak terdengar suara dentuman/gemuruh di Pos Ibu yang berjarak 10 km di barat puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, tanggal 8 September 2017 Pukul 15:11 WIB, terkait dengan letusan yang disertai kepulan kolom abu mencapai ketinggian 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m di atas puncak, kolom abu bergerak ke arah Barat-Baratdaya.
(2) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 10 September 2017 pukul 07:35 WIT terkait dengan erupsi yang disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1829 m di atas permukaan laut atau 600 m dari puncak, kolom abu bergerak ke arah Baratlaut.
(3) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.


2. Gerakan Tanah
Pada bulan September  2017, potensi terjadinya gerakan tanah  diperkirakan masih tetap berpeluang di seluruh di wilayah Indonesia dari  Pulau Sumatra hingga Papua. Dibandingkan bulan Agustus 2017, wilayah Sulawesi dan Maluku cenderung menurun potensinya sedangkan wilayah  Indonesia Bagian Barat seperti Sumatera dan Kalimantan potensinya relatif meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  seperti, Aceh bagian barat dan tengah; Sumatra Utara bagian barat dan tengah; Sumatra Barat bagian utara, tengah dan barat, Bengkulu bagian utara, tengah dan selatan; Jambi bagian barat daya; Sumatra Selatan bagian barat; Sebagian Lampung barat;  Banten barat-barat daya, selatan dan tenggara; Jawa Barat bagian tengah dan selatan; Jawa Tengah bagian utara, tengah, tenggara; Yogyakarta bagian utara; Jawa Timur bagian selatan dan tengah; Bali bagian tengah; Kalimantan  Tengah dari Kalimantan Selatan; bagian tenggara dari Kalimantan Utara; Sulawesi Utara bagian tengah; Sebagian utara Gorontalo; Sulawesi Barat bagian tenggara dan tengah; Sulawesi Selatan bagian selatan, utara dan timur; Nusa Tenggara Barat bagian tengah dan timur; Nusa Tenggara Timur, baratdaya dan tenggara; Maluku; Maluku Utara; Papua Barat bagian utara, tengah dan selatan; Papua bagian utara dan tengah.
Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:
1. Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat*,  
2. Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat*,  
3. Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh*,  
4. Kabupaten Mukomuko, Provinsi  Bengkulu,  
5. Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh ,  
6. Kabupaten Klaten, Provinsi  Jawa Tengah,  
7. Kota Depok, Provinsi Jawa Barat,  
8. Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru: 

1. Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat.
Tebing dengan ketinggian sekitar lima meter longsor di dekat Simpang Garegeh, Bukittinggi, Sabtu (9/9/2017) sekira pukul 20.30 WIB, menimpa dua unit bangunan yang ada di dekatnya. Longsor menimpa dinding belakang rumah Toko Baut Jujur yang berada di dekat tebing. Kondisinya rusak ringan. Kedua korban tersebut  yaitu, Ernita (42) pemilik Foto Copy Zilfia, dan Rul Masri (57) pemilik Toko Baut Jujur. Dalam musibah ini tidak ada korban jiwa, namun kerugian diperkirakan mencapai Rp 50.000.000,-.Hingga berita ini diturunkan, tim BPBD, Dinas PU, Lurah serta masyakat setempat sedang mengupayakan pembersihan di lokasi yang terkena longsor. Dan waspada mengantisipasi bila longsor susulan terjadi.
Sumber: 
http://m.minangkabaunews.com/artikel-13858-tebing-longsor-hantam-dua-bangunan-di-bukittingi.html
Penyebab terjadi longsor,diperkirakan akibat  beberapa hari terakhir di Kota Bukittinggi terus terjadi  hujan yang lebat.
Rekomendasi :
• Masyarakat yang tinggal dan beraktifitas di sekitar lokasi bencana harus selalu meningkatkan kewaspadaan, terutama pada saat maupun setelah terjadinya hujan deras dengan durasi yang lama.• Masyarakat agar menghindari bertempat tinggal berdekatan dengan tebing.
• Segera membersihkan material longsoran yang menutupi badan jalan. Pembersihan  material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsoran susulan yang bisa menimpa petugas kebersihan.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor 
• Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah daerah setempat.

2. Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat
Jalan utama yang menghubungkan Kota Padang dengan Kabupaten Solok, Sumatera Barat tidak dapat dilalui kendaraan akibat tertimbun material longsor yang terjadi pada pagi hari. Longsor terjadi Lubuak Paraku KM 17 Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang  pada hari minggu sekitar pukul 08.00 WIB. Material longsor menutupi jalan nasional tersebut akibat hujan deras yang mengguyur Kota Padang sejak Sabtu siang hingga Minggu pagi. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Sumatera Barat (Sumbar) menyatakan hujan lebat yang terjadi sejak Sabtu (9/9) di sebagian wilayah provinsi setempat  terpantau pada di Stasiun Meteorologi Teluk Bayur Kota Padang adalah 193,5 milimeter per jam dan Stasiun Meteorologi Minangkabau Padangpariaman 86 milimeter per jam.Saat ini pihak kepolisian  bersama-sama tim Pusdalops BPBD Padang, Unit Reaksi Cepat (URC) Semen Padang dan Komunitas Siaga Bencana (KSB) Lubuk Kilangan tengah melakukan evakuasi agar jalan dapat dilalui kembali.
Sumber:
http://www.antaranews.com/berita/651709/jalan-padang-solok-tertimbun-material-longsor
Penyebab gerakan tanah adalah tingkat pelapukan yang tinggi, dan dipicu oleh intensitas curah hujan yang tinggi.
Rekomendasi:
• Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan.
• Memasang rambu-rambu lokasi rawan bencana longsor pada titik lokasi yang terdampak.
• Para pengguna jalan dihimbau untuk selalu waspada terutama pada saat dan setelah turun hujan.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk menjauhi lokasi bencana dan selalu mengikuti arahan dari BPBD setempat.

3. Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh
Warga Gampong Pangkalan Sulampi, Kecamatan Suro, Kabupaten Aceh Singkil, berhamburan meninggalkan rumah mereka akibat suara gemuruh dari tanah longsor. informasi yang dihimpun GoAceh, longsor terjadi sekira pukul 03.00 WIB, Sabtu (9/9/2017). Bukit setinggi 15 meter itu terkikis dan berada persis dibelakang kantor keuchik pangkalan Sulampi.Longsor terjadi akibat tingginya curah hujan selama sepekan terakhir. Longsor juga sempat menutupi ruas jalan lintas Singkil-Subulussalam, yakni di Gampong Lae Petai 5 dan sempat menutupi sebagian jalan raya.
Sumber:
https://m.goaceh.co/berita/baca/2017/09/09/longsor-warga-suro-singkil-berhamburan-keluar-rumah
Penyebab gerakan tanah adalah tingkat pelapukan yang tinggi, dan dipicu oleh intensitas curah hujan yang tinggi.
Rekomendasi:
• Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan.
• Memasang rambu-rambu lokasi rawan bencana longsor pada titik lokasi yang terdampak.
• Para pengguna jalan dihimbau untuk selalu waspada terutama pada saat dan setelah turun' hujan.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk menjauhi lokasi bencana dan selalu mengikuti arahan dari BPBD setempat.



Bandung, 11 September 2017
PVMBG Badan Geologi, KESDM
Kasbani

<Berita Terkini>