Laporan Kebencanaan Geologi 07 September 2017 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:
 
Hari ini, Kamis, 7 September 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung:
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini sering tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati karena gunungapi tertutup kabut. Melalui rekaman seismograf terekam 1 (satu) kali erupsi/letusan namun ketinggian kolom letusan tidak teramati. Terekam 11 kali guguran lava namun secara visual tidak teramati karena gunungapi tertutup kabut.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi: 
-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga  kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit Tanggal 3 September 2017 Pukul 18:55 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3460 m di atas permukaan laut atau 1000 m di atas puncak, condong ke arah Barat-Baratlaut.

G. Dukono:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi terlihat jelas. Teramati kolom abu erupsi menerus putih kelabu tebal tekanan lemah - sedang dengan ketinggian 300-500 m di atas puncak condong ke Selatan-Baratdaya. Letusan terbesar terjadi sebanyak 202 kali. Tidak teramati adanya jatuhan abu di Pos Dukono. 
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 6 September 2017 pukul 07:12 WIT. Tinggi kolom abu 1529 m di atas permukaan laut atau 300 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Baratdaya.

G. Ibu:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual G. Ibu jelas hingga tertutup kabut. Terekam 77 kali erupsi/letusan dan teramati tinggi kolom putih-kelabu tipis hingga sedang bertekanan lemah-sedang dengan ketinggian 300-600 m di atas puncak, condong ke Utara-Timurlaut. 
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT Kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

Untuk Gunungapi status Normal:  
Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di dekat kawah untuk menghindari potensi ancaman gas  beracun.

2. Gerakan Tanah
 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan September 2017 yang dibandingkan bulan Agustus 2017,  menunjukan Wilayah  Sumatera dan Kalimantan cenderung mengalami peningkatan. Sedangkan  Wilayah Indonesia bagian Timur seperti Sulawesi dan Maluku cenderung potensi terjadinya gerakan tanah relatif menurun. Potensi Kejadian gerakan tanah diperkirakan akan masih terus mengancam terutama di wilayah Jawa mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi di:
1. Kota Depok, Provinsi Jawa Barat,  
2. Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara. 
Penyebab:
Penyebab gerakan tanah diperkirakan  karena  kemiringan lereng yang terjal, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air , batu yang rapuh dan  rumah dibangun di dekat tebing serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum terjadinya gerakan tanah. 
Dampak :
1. Gerakan tanah / tanah longsor terjadi  di Kota Depok mengakibatkan  dua rumah alami kerusakan. 
2. Gerakan tanah / tanah longsor terjadi  di KM 46-47 Jurusan Panyabungan-Natal Kabupaten Mandailing Natal mengakibatkan batu menutup jalan dan menghambat lalu lintas.
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung*, Sumut); 
b. Sebanyak 17 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, dan Banda Api); 
c. Sisanya 51 gunung api: Status Normal/Level 1.

*Gunungapi Sinabung.
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin hingga pagi ini Sinabung tampak berkabut. Kepulan asap tidak teramati karena gunungapi tertutup kabut. Melalui rekaman seismograf terekam adanya 1 kali erupsi/letusan sehingga tinggi kolom letusan tidak teramati karena gunungapi tertutup kabut. Terekam 11 kali guguran lava namun secara visual tidak teramati karena gunungapi tertutup kabut. Tidak terdengar suara gemuruh/dentuman di Pos Sinabung yang berjarak 8 km di Tenggara dari puncak.

Hasil pengukuran volume kubah lava pasca letusan besar Tanggal 2-3 Agustus 2017 yang dilakukan terakhir kali pada Tanggal 25 Agustus 2017 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,5 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

*Gunungapi Dukono.
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung api tampak jelas hingga berkabut. Kolom abu erupsi menerus putih kelabu tekanan lemah - sedang mencapai ketinggian 300-500 m dari puncak, condong  ditiup angin ke arah Selatan-Baratdaya. Terdengar suara gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak. Letusan terbesar terekam sebanyak 202 kali dengan amplitudo dominan tremor menerus berkisar 0,5-26 mm (dominan 2 mm).
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

*Gunungapi Ibu.
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya hanya di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Secara visual teramati tinggi kolom erupsi abu mencapai 300-600 m di atas puncak, condong ke utara-timurlaut. Tidak terdengar suara dentuman/gemuruh di Pos Ibu yang berjarak 10 km di barat puncak. Kegempaan 24 jam terakhir :- Letusan 77 kali- Hembusan 58 kali- Guguran 2 kali
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll
*VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit Tanggal 3 September 2017 Pukul 18:55 WIB, terkait dengan letusan yang disertai kepulan kolom abu mencapai ketinggian 3460 m di atas permukaan laut atau 1000 m di atas puncak, condong ke arah Barat-Baratlaut.
(2) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 6 September 2017 pukul 07:12 WIT terkait dengan erupsi yang disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1529 m di atas permukaan laut atau 300 m dari puncak, kolom abu bergerak ke arah Baratdaya.
(3) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.

2. Gerakan Tanah
 
Pada bulan September  2017, potensi terjadinya gerakan tanah  diperkirakan masih tetap berpeluang di seluruh di wilayah Indonesia dari  Pulau Sumatra hingga Papua. Dibandingkan bulan Agustus 2017, wilayah Sulawesi dan Maluku cenderung menurun potensinya sedangkan wilayah  Indonesia Bagian Barat seperti Sumatera dan Kalimantan potensinya relatif meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  seperti, Aceh bagian barat dan tengah; Sumatra Utara bagian barat dan tengah; Sumatra Barat bagian utara, tengah dan barat, Bengkulu bagian utara, tengah dan selatan; Jambi bagian barat daya; Sumatra Selatan bagian barat; Sebagian Lampung barat;  Banten barat-barat daya, selatan dan tenggara; Jawa Barat bagian tengah dan selatan; Jawa Tengah bagian utara, tengah, tenggara; Yogyakarta bagian utara; Jawa Timur bagian selatan dan tengah; Bali bagian tengah; Kalimantan  Tengah dari Kalimantan Selatan; bagian tenggara dari Kalimantan Utara; Sulawesi Utara bagian tengah; Sebagian utara Gorontalo; Sulawesi Barat bagian tenggara dan tengah; Sulawesi Selatan bagian selatan, utara dan timur; Nusa Tenggara Barat bagian tengah dan timur; Nusa Tenggara Timur, baratdaya dan tenggara; Maluku; Maluku Utara; Papua Barat bagian utara, tengah dan selatan; Papua bagian utara dan tengah.

Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:
1. Kota Depok, Provinsi Jawa Barat*,  
2. Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara*,  
3. Kabupaten Batulicin, Provinsi Kalimantan Selatan ,  
4. Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah,  
5. Kabupaten Karo, Provinsi Sumaera Utara,  
6. Kota Ambon, Provinsi Maluku,  
7. Kota Depok, Provinsi Jawa Barat,  
8. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat,  
9. Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur,  
10. Kabupaten Aceh Tengah,  Provinsi Aceh. 

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru: 

1. Kota  Depok, Provinsi Jawa Barat
Longsor menimbun sebuah rumah yang dihuni dua keluarga di Kampung Pondok Terong, RT 3 RW 5, Kelurahan Pondok Jaya, Kecamatan Cipayung. Longsor terjadi setelah Kota Depok tiba - tiba diguyur hujan lebat saat musim kemarau. Dampaknya adalah dua rumah alami kerusakan. Lokasi rumah berada di kawasan tebing yang cukup curam. Tidak ada korban jiwa atas peristiwa gerakan tanah tersebut. 
Sumber:
http://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2017/09/06/mendadak-hujan-lebat-longsor-terjang-sebuah-rumah-di-pondok-terong-408838
http://megapolitan.kompas.com/read/2017/09/06/14491731/tanah-longsor-di-depok-2-rumah-rusak
Penyebab gerakan tanah adalah dipicu oleh curah hujan yang tinggi. Sedangkan Tipe gerakan tanah adalah Longsoran Bahan Rombakan (Debris).
Rekomendasi :
• Pemilik rumah yang terkena longsor mengungsi di tempat yang aman terutama pada saat hujan, untuk menghindari gerakan tanah susulan. Masyatakat sekitar yang terancam longsor diharapkan selalu waspada dan mengikuti arahan pemerintah daerah / BPBD setempat.
• Segera membersihkan material gerakan tanah dan melakukan pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan
• Membuat diding pernahan longsor/infrastruktur mitigasi terhadap longsor
• Menata aliran air permukaan pada lereng tersebut 
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

2. Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara
Longsor bebatuan didesa Bangkelang Kecamatan Batang Natal Kabupaten Mandailing Natal, tepatnya di KM 46-47 Jurusan Panyabungan-Natal tertutup. Longsor terjadi Rabu (6/9) sekitar pukul 14.30 wib. Dua batu besar masing masing batu berukuran 2,5 meter dan 2 meter sehingga menutup badan jalan. Akibat longsor batu besar yang menutup badan jalan sejumlah kenderaan roda empat yang melintasi jalan tersebut tidak bisa di lewati, hanya roda dua yang bisa melewatinya. Tidak ada korban jiwa atas peristiwa tersebut hanya menyebabkan antrian kendaraan yang akan melewati.
Sumber:
https://www.sidaknews.com/longsor-batu-besar-jalur-natal-panyabungan-tertutup/
Penyebab gerakan tanah adalah tingkat pelapukan yang tinggi, lereng yang curam dipicu oleh intensitas curah hujan. Sedangkan Tipe gerakan tanah adalah Jatuhan Batu.
Rekomendasi :
• Segera membersihkan material longsoran 
• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah
• Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan
• Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.
• Penanganan secepat mungkin, bongkah-bongkah batu yang mengancam 
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor 
• Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah daerah setempat.



Bandung, 07 September 2017
PVMBG Badan Geologi, KESDM
Kasbani

<Berita Terkini>