Laporan Kebencanaan Geologi 03 September 2017 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:
Hari ini, Minggu, 3 September 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:
1. Gunung Api
G. Sinabung:
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini tampak sering berkabut. Teramati asap putih tipis mencapai ketinggian 700 m dari puncak, condong ke arah Timur-Tenggara. Secara visual dan melalui rekaman seismograf teramati 3 kali erupsi letusan dengan tinggi kolom abu mencapai 700 m di atas puncak, condong ke Timur Tenggara dan Selatan. Teramati guguran lava yang meluncur sejauh 500-700 m ke arah Tenggara-Timur. 
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi: 
-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga  kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit Tanggal 1 September 2017 Pukul 14:58 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3560 m di atas permukaan laut atau 1100 m di atas puncak, condong ke arah Timur-Timurlaut.

G. Dukono:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi terlihat jelas dan terkadang berkabut. Teramati kolom abu erupsi menerus putih kelabu tebal tekanan lemah - sedang mencapai ketinggian 300-400 m condong ke Barat. Letusan terbesar terjadi sebanyak 62 kali. Tidak teramati adanya jatuhan abu di Pos Dukono. 
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 2 September 2017 pukul 09:32 WIT. Tinggi kolom abu 1529 m di atas permukaan laut atau 300 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Baratdaya.

G. Ibu:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual G. Ibu jelas hingga tertutup kabut. Teramati tinggi kolom erupsi putih kelabu mencapai 300-400 m di atas puncak, condong ke utara-timurlaut. 
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT Kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu condong ke arah Utara.
Untuk Gunungapi status Normal:  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di dekat kawah untuk menghindari potensi ancaman gas  beracun.

2. Gerakan Tanah
 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan September 2017 yang dibandingkan bulan Agustus 2017,  menunjukan Wilayah  Sumatera dan Kalimantan cenderung mengalami peningkatan. Sedangkan  Wilayah Indonesia bagian Timur seperti Sulawesi dan Maluku cenderung potensi terjadinya gerakan tanah relatif menurun. Potensi Kejadian gerakan tanah diperkirakan akan masih terus mengancam terutama di wilayah Jawa mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi di:
1. Kota Ambon, Provinsi Maluku
Penyebab:Penyebab gerakan tanah diperkirakan  karena  kemiringan lereng yang terjal, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum terjadinya gerakan tanah..
Dampak :1. Gerakan tanah terjadi di sejumlah titik di Kota Ambon, Maluku mengakibatkan rusaknya sejumlah rumah sebanyak 6 unit.
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

1) Gempa bumi di Selat Sunda*
2) Gempa bumi di baratlaut Maluku Tenggara Barat*

*Gempa bumi di Selat Sunda
Informasi Gempa Bumi;
Gempa bumi terjadi pada hari Sabtu, 2 September 2017, pukul 10:32 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 104,71° BT dan 6,23° LS, dengan kekuatan M5,4 pada kedalaman 65 km, berjarak 91 km barat daya Pesawaran, Lampung. Berdasarkan GFZ, Jerman,  pusat gempa bumi berada pada koordinat 104,68° BT dan 6,22° LS, dengan magnitudo M5,0 pada kedalaman 96 km. USGS, Amerika, menginformasikan bahwa pusat gempa bumi terletak pada koordinat 104,877° BT dan 6,006° LS, dengan magnitudo M5,1 pada kedalaman 80 km. 
Penyebab gempa bumi;
Diperkirakan berasosiasi dengan sumber gempa bumi yang berada pada Lempeng Eurasia di atas lajur kegempaan beniof atau disebut sebagai gempa bumi Intraplate.
Dampak gempa bumi;
Gempa bumi ini tidak memicu tsunami. Belum ada informasi kerusakan dan korban.
Rekomendasi;
(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat.
(2) Masyarakat agar waspada gempa bumi susulan.

*Gempa  bumi di Baratlaut Maluku Tenggara Barat
Informasi Gempabumi;
Gempabumi terjadi pada hari Minggu, 3 September 2017 pukul 02:06:49 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi berada pada koordinat 130,09° BT dan 7,18° LS (146 km Baratlaut Maluku Tenggara Barat), dengan magnitudo 5,0 SR pada kedalaman 94 km. 
Penyebab gempa bumi;
Diperkirakan berasosiasi dengan aktifitas pensesaran aktif pada lempeng benua Eurasia di bawah Laut Banda.
Dampak gempa bumi;
Belum ada laporan mengenai adanya korban jiwa dan kerusakan bangunan. Gempabumi ini tidak berpotensi menimbulkan gelombang tsunami.
Rekomendasi;
• Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari pemerintah daerah dan BPBD setempat. 
• Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa susulan.

II. DETAIL
1. Gunung Api
 
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung*, Sumut); 
b. Sebanyak 17 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, dan Banda Api); 
c. Sisanya 51 gunung api: Status Normal/Level 1.
*Gunungapi Sinabung.
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin hingga pagi ini Sinabung tampak jelas hingga berkabut. Kepulan asap putih tipis teramati mencapai ketinggian 700 m condong ke arah Timur-Tenggara. Secara visual dan melalui rekaman seismograf teramati 3 kali erupsi letusan dengan tinggi kolom mencapai 700 m di atas puncak, condong ke Timur, Tenggara dan Selatan. Teramati guguran lava yang meluncur sejauh 700 m ke arah Tenggara-Timur. Tidak terdengar suara gemuruh/dentuman di Pos Sinabung yang berjarak 8 km di Tenggara dari puncak.
Hasil pengukuran volume kubah lava terakhir pasca letusan besar Tanggal 2-3 Agustus 2017 yang dilakukan pada Tanggal 25 Agustus 2017 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,5 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

*Gunungapi Dukono.
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung api tampak jelas hingga berkabut. Kolom abu erupsi menerus putih kelabu tekanan lemah - sedang mencapai ketinggian 300-400 m dari puncak, condong  ditiup angin ke arah Barat. Terdengar suara gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak. Letusan terbesar terekam sebanyak 62 kali dengan amplitudo dominan tremor menerus berkisar 0,5-26 mm (dominan 2 mm).
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

*Gunungapi Ibu.
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya hanya di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Secara visual teramati tinggi kolom erupsi abu mencapai 200-500 m di atas puncak, condong ke utara-timurlaut. Tidak terdengar suara dentuman/gemuruh di Pos Ibu yang berjarak 10 km di barat puncak. Kegempaan  :- Letusan 62 kali- Hembusan 16 kali- Guguran  11 kali
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik produk aktivitas gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (http://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll

*VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit Tanggal 1 September 2017 Pukul 14:58 WIB, terkait dengan letusan yang disertai kepulan kolom abu mencapai ketinggian 3560 m di atas permukaan laut atau 1100 m di atas puncak, condong ke arah Timur-Timurlaut.
(2) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 2 September 2017 pukul 09:32 WIT terkait dengan erupsi yang disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1529 m di atas permukaan laut atau 300 m dari puncak, kolom abu bergerak ke arah Baratdaya.
(3) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Pada bulan September  2017, potensi terjadinya gerakan tanah  diperkirakan masih tetap berpeluang di seluruh di wilayah Indonesia dari  Pulau Sumatra hingga Papua. Dibandingkan bulan Agustus 2017, wilayah Sulawesi dan Maluku cenderung menurun potensinya sedangkan wilayah  Indonesia Bagian Barat seperti Sumatera dan Kalimantan potensinya relatif meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  seperti, Aceh bagian barat dan tengah; Sumatra Utara bagian barat dan tengah; Sumatra Barat bagian utara, tengah dan barat, Bengkulu bagian utara, tengah dan selatan; Jambi bagian barat daya; Sumatra Selatan bagian barat; Sebagian Lampung barat;  Banten barat-barat daya, selatan dan tenggara; Jawa Barat bagian tengah dan selatan; Jawa Tengah bagian utara, tengah, tenggara; Yogyakarta bagian utara; Jawa Timur bagian selatan dan tengah; Bali bagian tengah; Kalimantan  Tengah dari Kalimantan Selatan; bagian tenggara dari Kalimantan Utara; Sulawesi Utara bagian tengah; Sebagian utara Gorontalo; Sulawesi Barat bagian tenggara dan tengah; Sulawesi Selatan bagian selatan, utara dan timur; Nusa Tenggara Barat bagian tengah dan timur; Nusa Tenggara Timur, baratdaya dan tenggara; Maluku; Maluku Utara; Papua Barat bagian utara, tengah dan selatan; Papua bagian utara dan tengah.
Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:
1. Kota Ambon, Provinsi Maluku*,  
2.  Kota Depok, Provinsi Jawa Barat,  
3. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat,  
4. Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur,  
5. Kabupaten Aceh Tengah,  Provinsi Aceh,  
6.Kota Balikpapan , Provinsi Kalimantan Timur.   

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru: 
1. Kota Ambon, Provinsi Maluku
Gerakan tanah terjadi di sejumlah titik di Kampung Rinjani, Batu Meja, Batu Gaja dan kawasan Mangga Dua, Kota Ambon, Maluku pada hari Sabtu dini hari, 2 September 2017. Gerakan tanah mengakibatkan rusaknya sejumlah rumah sebanyak 6 unit.
Sumber: http://regional.kompas.com/read/2017/09/02/16102851/enam-rumah-warga-di-ambon-rusak-tertimbun-longsor 
Gerakan tanah berupa longsoran bahan rombakan pada tebing di sekitar pemukiman. Penyebab gerakan tanah diantaranya karena  kemiringan lereng yang terjal, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air.
Rekomendasi:
• Masyarakat di sekitar lokasi bencna harap meningkatkan kewaspadaan terutama saat turun hujan deras terhadap potensi terjadi gerakan tanah susulan.
• Segera membersihkan material longsor yang menimbun pemukiman, tanpa mengurangi kewaspadaan saat melakukan pembersihan tersebut terhadap potensi terjadi gerakan tanah susulan.
• Pembuatan dinding penahan lereng dan mengatur drainase.
• Sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat agar mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat.

3. Gempa Bumi
 
*Gempa bumi di Selat Sunda
Informasi Gempa Bumi;
Gempa bumi terjadi pada hari Sabtu, 2 September 2017, pukul 10:32 WIB. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa bumi terletak pada koordinat 104,71° BT dan 6,23° LS, dengan kekuatan M5,4 pada kedalaman 65 km, berjarak 91 km barat daya Pesawaran, Lampung. Berdasarkan GeoForschungsZentrum (GFZ), Jerman,  pusat gempa bumi berada pada koordinat 104,68° BT dan 6,22° LS, dengan magnitudo M5,0 pada kedalaman 96 km. The United States Geological Survey (USGS), Amerika, menginformasikan bahwa pusat gempa bumi terletak pada koordinat 104,877° BT dan 6,006° LS, dengan magnitudo M5,1 pada kedalaman 80 km. 
Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi;Pusat gempa bumi berada di Selat Sunda berdekatan dengan wilayah selatan pulau Sumatera atau selatan Provinsi Lampung. Daerah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi disusun oleh batuan sedimen berumur Tersier dan batuan vulkanik berumur Tersier dan Kuarter. Guncangan gempa bumi akan terasa kuat pada batuan Kuarter serta batuan Tersier yang telah mengalami pelapukan karena bersifat urai, lepas, tidak kompak dan memperkuat efek guncangan.
Penyebab gempa bumi;
Berdasarkan posisi pusat gempa bumi dan kedalamannya, gempa bumi berasosiasi dengan sumber gempa bumi yang berada pada Lempeng Eurasia di atas lajur kegempaan beniof atau disebut sebagai gempa bumi Intraplate.
Dampak gempa bumi;
Berdasarkan BMKG, guncangan gempa bumi dirasakan di Tanggamus dan Liwa, Lampung dengan intensitas II-III MMI (Modified Mercalli Intensity). Gempa bumi ini tidak memicu tsunami, karena meskipun berpusat di laut namun energinya tidak cukup kuat untuk memicu tsunami. Hingga tanggapan ini dibuat, belum ada informasi kerusakan dan korban yang diakibatkan gempa bumi ini.
Rekomendasi;(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempabumi dan tsunami.(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan, yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil.

*Gempa bumi di Baratlaut Maluku Tenggara Barat.
Informasi Gempabumi;
Gempabumi terjadi pada hari Minggu, 3 September 2017 pukul 02:06:49 WIB. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pusat gempa bumi berada pada koordinat 130,09° BT dan 7,18° LS (146 km Baratlaut Maluku Tenggara Barat), dengan magnitudo 5,0 SR pada kedalaman 94 km. 
Kondisi geologi;Pusat gempa bumi berada di dasar laut Perairan Laut Banda,  daratan terdekat adalah Kepulauan Tanimbar yang terdiri dari Batuan Berumur Tersier sampai Kuarter. Batuan Tersier terdiri atas batuan sedimen karbonat yang sudah tersesarkan. Sedangkan, Batuan Kuarter yang berada di pesisir barat Kepulauan Tanimbar terdiri atas batuan karbonat dan bancuh yang bersifat lepas. Goncangan gempa bumi akan terasa lebih kuat di daerah yang disusun oleh batuan kuarter yang bersifat lepas dan tidak terkonsolidasi, karena sifat batuan yang demikian akan memperkuat efek goncangan gempa bumi.
Penyebab gempa bumi;
Berdasarkan posisi dan kedalamannya yang dalam (94 km) gempabumi ini diperkirakan berasosiasi dengan aktifitas pensesaran aktif pada lempeng benua Eurasia di bawah Laut Banda.
Dampak gempa bumi;
Sampai laporan ini dibuat tidak ada laporan mengenai adanya korban jiwa dan kerusakan bangunan akibat goncangan gempa bumi ini. Gempabumi ini tidak berpotensi menimbulkan gelombang tsunami karena energinya tidak cukup menghasilkan gelombang tsunami.
Rekomendasi;
• Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari pemerintah daerah dan BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
• Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa susulan, yang diharapkan berkekuatan lebih kecil.

Bandung, 03 September 2017
PVMBG Badan Geologi, KESDM
Kasbani

<Berita Terkini>