Laporan Kebencanaan Geologi 02 September 2017 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:
 
Hari ini, Sabtu, 2 September 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
 
G. Sinabung:
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini tampak sering berkabut. Teramati asap putih tipis mencapai ketinggian 700 m dari puncak, condong ke arah Timur-Tenggara. Secara visual dan melalui rekaman seismograf teramati 4 kali erupsi letusan dengan tinggi kolom abu mencapai 700-1500 m di atas puncak, condong ke Timur Tenggara dan Selatan. Teramati guguran lava yang meluncur sejauh 700-1500 m ke arah Tenggara-Timur. 
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi: 
-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga  kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit Tanggal 1 September 2017 Pukul 14:58 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3560 m di atas permukaan laut atau 1100 m di atas puncak, condong ke arah Timur-Timurlaut.

G. Dukono:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi terlihat jelas dan terkadang berkabut. Teramati kolom abu erupsi menerus putih kelabu tebal tekanan lemah - sedang mencapai ketinggian 200-400 m condong ke Barat. Letusan terbesar terjadi sebanyak 87 kali. Tidak teramati adanya jatuhan abu di Pos Dukono. 
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 1 September 2017 pukul 10:02 WIT. Tinggi kolom abu 1429 m di atas permukaan laut atau 200 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Baratdaya.

G. Ibu:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual G. Ibu jelas hingga tertutup kabut. Teramati tinggi kolom erupsi putih kelabu mencapai 300-400 m di atas puncak, condong ke utara-timurlaut. 
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT Kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu condong ke arah Utara.
Untuk Gunungapi status Normal:  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di dekat kawah untuk menghindari potensi ancaman gas  beracun.

2. Gempa Bumi
Kejadian gempa bumi tanggal 1 September 2017:
1. Gempa bumi di Tenggara Bolaang Mongondow Timur *
2. Gempa bumi di Tenggara Malang *

*Gempa bumi di Tenggara Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara 
Informasi Gempa bumi:
Gempa bumi terjadi pada hari Jumat, tanggal 1 Agustus 2017, pukul 05:57:37 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempa bumi berada pada koordinat 0.17°LU dan 125,20°BT, dengan magnitudo 5,4 SR pada kedalaman 10 km, berjarak 127 km Tenggara Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara. 
Penyebab Gempa bumi:
Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas tektonik Lempeng Laut Maluku yang menunjam ke arah barat Sangihe. 
Dampak Gempa bumi:
Belum ada laporan mengenai kerusakan. Gempa bumi ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Rekomendasi:
• Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan dan informasi dari pemerintah daerah setempat.
• Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan.


*Gempa bumi di Tenggara Malang, Jawa Timur:
Informasi Gempa bumi:
Gempa bumi terjadi pada hari Jumat, 1 September 2017, pukul 10:47:32 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 112.88° BT dan 11.63° LS, dengan magnitudo 5,0 SR pada kedalaman 10 km, berjarak 376 km tenggara Kab.Malang, Jatim.
Penyebab gempa bumi:
Gempa bumi terjadi pada kedalaman dangkal dan berpusat di lempeng samudra Indo-Australia, di luar zona subduksi atau disebut gempa bumi outer rise.
Dampak gempa bumi:
Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Belum ada informasi kerusakan.
Rekomendasi:
• Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. 
• Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan.


II. DETAIL
1. Gunung Api
 
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung*, Sumut); 
b. Sebanyak 17 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, dan Banda Api); 
c. Sisanya 51 gunung api: Status Normal/Level 1.
*Gunungapi Sinabung.
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin hingga pagi ini Sinabung tampak jelas hingga berkabut. Kepulan asap putih tipis teramati mencapai ketinggian 700 m condong ke arah Timur-Tenggara. Secara visual dan melalui rekaman seismograf teramati 4 kali erupsi letusan dengan tinggi kolom mencapai 1500 m di atas puncak, condong ke Timur, Tenggara dan Selatan. Teramati guguran lava yang meluncur sejauh 1500 m ke arah Tenggara-Timur. Tidak terdengar suara gemuruh/dentuman di Pos Sinabung yang berjarak 8 km di Tenggara dari puncak.
Hasil pengukuran volume kubah lava terakhir pasca letusan besar Tanggal 2-3 Agustus 2017 yang dilakukan pada Tanggal 25 Agustus 2017 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,5 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

*Gunungapi Dukono.
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung api tampak jelas hingga berkabut. Kolom abu erupsi menerus putih kelabu tekanan lemah - sedang mencapai ketinggian 200-400 m dari puncak, condong  ditiup angin ke arah Barat. Terdengar suara gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak. Letusan terbesar terekam sebanyak 87 kali dengan amplitudo dominan tremor menerus berkisar 0,5-22 mm (dominan 2 mm).
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

*Gunungapi Ibu.
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya hanya di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Secara visual teramati tinggi kolom erupsi abu mencapai 200-500 m di atas puncak, condong ke utara-timurlaut. Tidak terdengar suara dentuman/gemuruh di Pos Ibu yang berjarak 10 km di barat puncak. Kegempaan  :- Letusan 62 kali- Hembusan 16 kali- Guguran  11 kali
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik produk aktivitas gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (http://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll
*VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit Tanggal 1 September 2017 Pukul 14:58 WIB, terkait dengan letusan yang disertai kepulan kolom abu mencapai ketinggian 3560 m di atas permukaan laut atau 1100 m di atas puncak, condong ke arah Timur-Timurlaut.
(2) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 1 September 2017 pukul 10:02 WIT terkait dengan erupsi yang disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1429 m di atas permukaan laut atau 200 m dari puncak, kolom abu bergerak ke arah Baratdaya.
(3) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.


3. Gempa Bumi

*Gempa bumi di Tenggara Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara. 
Informasi Gempa bumi:
Gempa bumi terjadi pada hari Jumat, tanggal 1 Agustus 2017, pukul 05:57:37 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempa bumi berada pada koordinat 0.17°LU dan 125,20°BT, dengan magnitudo 5,4 SR pada kedalaman 10 km, berjarak 127 km Tenggara Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara. 
Kondisi Daerah Sekitar Lokasi Gempa bumi:Secara geologi, daerah yang terkena gempabumi tersusun oleh batuan volkanik yang berumur Tersier, dan endapan aluvium yang berumur Kuarter. Goncangan gempabumi juga akan dirasakan di daerah yang tersusun batuan sedimen Tersier dan Batuan berumur Pra-Tersier yang telah terlapukkan yang berada di sekitar daerah tersebut. Endapan yang bersifat lepas dan belum terkonsolidasi akan berpotensi memperkuat efek goncangan gempabumi, sehingga rentan terhadap goncangan gempa bumi. 
Penyebab Gempa bumi:
Berdasarkan data posisi dan kedalaman pusat gempa bumi, diperkirakan pusat gempa bumi berasosiasi dengan aktivitas tektonik Lempeng Laut Maluku yang menunjam ke arah barat Sangihe. 
Dampak Gempa bumi:
Hingga tanggapan ini dibuat belum ada laporan mengenai kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi ini. Gempa bumi ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Rekomendasi:
• Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan dan informasi dari pemerintah daerah setempat, serta tidak terpancing isu yang tidak bertanggung jawab tentang gempa bumi dan tsunami.
• Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil


*Gempa bumi di tenggara Kab. Malang, Jawa Timur
Informasi Gempa bumi:
Gempa bumi terjadi pada hari Jumat, 1 September 2017, pukul 10:47:32 WIB. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa bumi terletak pada koordinat 112.88° BT dan 11.63° LS, dengan magnitudo 5,0 SR pada kedalaman 10 km, berjarak 376 km tenggara Kab.Malang, Jatim.
Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi:Gempabumi melanda wilayah selatan pantai Jawa Timur. Wilayah tersebut pada umumnya disusun oleh batuan berumur Tersier (batuan sedimen, batuan gunungapi dan endapan Kuarter berupa endapan aluvial pantai, aluvial sungai dan batuan gunungapi muda. Batuan berumur Tersier sebagian telah mengalami pelapukan. Batuan yang telah mengalami pelapukan dan batuan berumur Kuarter tersebut bersifat urai, lepas, belum kompak sehingga bersifat memperkuat efek guncangan gempabumi.
Penyebab gempa bumi: 
Gempa bumi terjadi pada kedalaman dangkal dan berpusat di lempeng samudra Indo-Australia, di luar zona subduksi atau disebut gempa bumi outer rise.
Dampak gempa bumi:
Intensitas guncangan gempa bumi terbesar akan dirasakan di wilayah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi, kemudian intensitasnya semakin melemah seiring bertambahnya jarak dengan pusat gempa bumi. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami, karena meskipun berpusat di laut namun energinya tidak cukup kuat untuk menyebabkan deformasi di bawah laut. Hingga tanggapan ini dibuat, belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.
Rekomendasi:
• Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempabumi dan tsunami.
• Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan, yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil.



Bandung, 02 September 2017
PVMBG Badan Geologi, KESDM
Kasbani

<Berita Terkini>