Laporan Kebencanaan Geologi 09 Agustus 2017 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:
 
Hari ini, Rabu, 09 Agustus 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
 
G. Sinabung:
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini tampak sering berkabut. Teramati hembusan asap putih tebal tekanan lemah sampai sedang, tinggi 50-700 m. Angin bertiup ke arah Tenggara dan Timur. Secara visual dan melalui rekaman seismograf terjadi letusan sebanyak 6 kali, kolom abu tebal tekanan lemah sampai sedang mencapai ketinggian 1300-4000 m dari puncak. Tidak terdengar suara gemuruh dan dentuman dari Pos Sinabung yang berjarak 8 km di Tenggara dari puncak. Erupsi disertai guguran lava meluncur ke lereng Tenggara dan Timur sejauh 700-1000 m dan tidak diikuti awan panas guguran.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi: 
-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga  kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna RED, terbit Tanggal 08 Agustus 2017 Pukul 15:57 WIB, terkait letusan dengan tinggi kolom abu 4000 dari puncak atau 6460 m dari muka laut. Condong ke arah Selatan, Tenggara, dan Timur.

G. Dukono:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Secara visual gunungapi sering berkabut. Teramati kolom abu erupsi menerus putih tebal tekanan lemah sampai sedang, tinggi 500 m condong ke Utara dan Barat. Letusan terbesar terjadi sebanyak 157 kali. Tidak teramati adanya jatuhan abu di Pos Dukono. Terdengar suara gemuruh lemah sampai sedang di Pos Dukono yang berjarak 10 km ke Utara dari puncak. 
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 08 Agustus 2017 pukul 09:16 WIT. Tinggi kolom abu 1729 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Barat.

G. Ibu:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual Ibu tampak cerah. Kolom abu erupsi putih kelabu, tekanan lemah sampai sedang mencapai ketinggian 200-500 m dari puncak, condong ke arah Timurlaut.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 19 Juni 2017 pukul 09:35 WIT Kepulan abu vulkanik setinggi 1525 m di atas permukaan laut atau 200 m dari puncak, kolom abu condong ke arah ke Barat.
Untuk Gunungapi status Normal:  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di dekat kawah untuk menghindari potensi ancaman gas  beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah pada bulan Agustus 2017 relatif sama  dibandingkan dengan potensi terjadinya gerakan tanah pada bulan Juli 2017. Seluruh Wilayah Indonesia dari Sumatera sampai Papua masih berpotensi terjadinya gerakan tanah. Dan wilayah Indonesia Bagian timur meliputi wilayah Sulawesi, Maluku bagian utara  dan Papua potensi terjadinya gerakan tanah relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah Sumatera, Kalimantan, Bali dan Nusatenggara. Kejadian gerakan tanah diperkirakan akan masih terus mengancam terutama di wilayah Jawa mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi di:
1. Kabupaten Kupang, Provinsi NTT  
2. Kabupaten Sidrap, Provinsi Sulawesi Selatan
Penyebab:
Penyebab gerakan tanah diperkirakan karena curah hujan yang tinggi; lereng yang agak terjal; minimnya pepohonan penahan lereng; tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air dan kurang berfungsinya drainase/saluran air.
Dampak :
1. Gerakan tanah / tanah longsor terjadi pada  ruas jalan poros tengah di wilayah Kabupaten Kupang yang mengakibatkan kerusakan di Desa Kofi. 
2. Gerakan tanah / tanah longsor dan  banjir bandang melanda Desa Dengeng-dengeng, Kecamatan Pitu Riase, Sidrap, Senin (7/8/2017). Dampak kejadian tersebut mengakibatkan tiga unit rumah warga hanyut, serta beberapa rumah lainnya rusak dan tidak ada korban jiwa 
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


II. DETAIL:
 
1. Gunung Api
 
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung*, Sumut); 
b. Sebanyak 17 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, dan Banda Api); 
c. Sisanya 51 gunung api: Status Normal/Level 1.
*Gunungapi Sinabung.
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin hingga pagi ini Sinabung tampak sering berkabut. Kepulan asap putih tebal teramati mencapai ketinggian 50-500 m, condong ditiup angin ke Tenggara dan Timur. Secara visual dan melalui rekaman seismograf  teramati erupsi letusan sebanyak 6 kali, kepulan abu tebal tekanan lemah sampai sedang mencapai ketinggian 1300-4000 m. Erupsi disertai guguran lava meluncur ke lereng Tenggara dan Timur sejauh 700-1000 m dan awan panas guguran meluncur ke lereng Tenggara dan Timur sejauh 700-1000 m. Tidak terdengar suara gemuruh/dentuman di Pos Sinabung yang berjarak 8 km di Tenggara dari puncak.
Hasil pengukuran volume kubah lava terakhir pasca letusan besar Tanggal 02-03 Agustus 2017 dilakukan pada Tanggal 06 Agustus 2017  yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 23700 m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

*Gunungapi Dukono.
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung api tampak sering berkabut. Kolom abu erupsi menerus putih keabuan tekanan lemah sampai sedang mencapai ketinggian 500 m dari puncak, condong  ditiup angin ke arah Barat. Letusan terbesar terekam sebanyak 157 kali dengan amplitudo dominan tremor menerus berkisar 0,5-20 mm (dominan 4 mm).
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Tobelo tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

*Gunungapi Ibu.
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya hanya di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Secara visual gunungapi tampak cerah. Kolom abu erupsi menerus putih kelabu sedang mencapai ketinggian 200-500 m dari puncak, condong ke Timurlaut dan Utara. Tidak terdengar suara dentuman/gemuruh di Pos Ibu yang berjarak 10 km di barat puncak. Kegempaan:- Letusan 79 kali- Hembusan 33 kali- Tremor Harmonis nihil- Guguran 21 kali
Informasi mengenai abu vulkanik produk aktivitas gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (http://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll

*VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna RED, terbit Tanggal 08 Agustus 2017 Pukul 15:57 WIB, terkait dengan letusan dengan tinggi kolom abu 4000 m dari puncak atau 6460 m dari permukaan laut. Condong ke arah Selatan, Tenggara dan Timur.
(2) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 08 Agustus 2017 pukul 09:16 WIT terkait dengan erupsi yang disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1729 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak, kolom abu bergerak ke arah Barat.
(3) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 19 Juni 2017 pukul 09:35WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1525 m di atas permukaan laut atau 200 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Barat.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Pada bulan Agustus  2017, potensi terjadinya gerakan tanah  diperkirakan masih tetap berpeluang di seluruh di wilayah Indonesia dari  Pulau Sumatra hingga Papua. Beberapa wilayah Sumatera pada bulan Agustus 2017 sedikit mengalami peningkatan utamanya   di wilayah Aceh dan Sumatera Barat, Sumatra Utara. Untuk  wilayah timur Indonesia seperti Papua, Maluku bagian Utara dan Sulawesi berpotensi terjadinya gerakan tanah relatif tinggi dibandingkan wilayah lainnya di Indonesia. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  seperti, Aceh bagian barat dan tengah; Sumatra Utara bagian barat dan tengah; Sumatra Barat bagian utara, tengah dan barat, Bengkulu bagian utara, tengah dan selatan; Jambi bagian barat daya; Sumatra Selatan bagian barat; Sebagian Lampung barat;  Banten barat-barat daya, selatan dan tenggara; Jawa Barat bagian tengah dan selatan; Jawa Tengah bagian utara, tengah, tenggara; Yogyakarta bagian utara; Jawa Timur bagian selatan dan tengah; Bali bagian tengah; sebagian kecil bagian tengah dari Kalimantan Selatan; bagian tenggara dari Kalimantan Utara; Sulawesi Utara bagian tengah; Sebagian utara Gorontalo; Sulawesi Barat bagian tenggara dan tengah; Sulawesi Selatan bagian selatan, utara dan timur; Nusa Tenggara Barat bagian tengah dan timur; Nusa Tenggara Timur, baratdaya dan tenggara; Maluku; Maluku Utara; Papua Barat bagian utara, tengah dan selatan; Papua bagian utara dan tengah.
Kejadian tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:
1. Kabupaten Kupang, Provinsi NTT*,
2. Kabupaten Sidrap, Provinsi Sulawesi Selatan*,  
3. Kabupaten Kotawaringan Barat, Provinsi Kalimantan Tengah,
4. Kabupaten Nias, Provinsi Sumatera Utara,
5. Kabupaten Morowali Utara, Provinsi Sulawesi Tengah,
6. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah,
7. Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat,  
8. Kota Jayapura, Provinsi Papua,  
9. Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara,  
10. Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Provinsi Sulawesi Utara.  

1. Kabupaten Kupang, Provinsi NTT 
Pada tanggal 8 Agustus 2017  terjadi gerakan tanah / tanah longsor terjadi pada  ruas jalan poros tengah di wilayah Kecamatan FatuleuTengah, Kabupaten Kupang yang mengakibatkan kerusakan di Desa Kofi. Di wilayah FatuleuTengah itu tercatat  beberapa titik longsor.
Sumber:
http://kupang.tribunnews.com/2017/08/08/hati-hati-ruas-jalan-poros-tengah-longsor-di-kofi-fatuleu-tengah
Penyebab gerakan tanah diduga karena tingkat pelapukan yang  tinggi dan dipicu curah hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yg cukup lama. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.
Rekomendasi :
• Tidak melakukan aktifitas disekitar daerah longsoran
• Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan
• Memasang rambu-rambu lokasi rawan bencana longsor pada titik lokasi yang terdampak
• Para pengguna jalan dihimbau untuk selalu waspada terutama pada saat dan setelah turun hujan
• Masyarakat setempat dihimbau untuk menjauhi lokasi bencana dan selalu mengikuti arahan dari Pemerintah Daerah setempat.

2. Kabupaten Sidrap, Provinsi Sulawesi Selatan
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dan banjir bandang Banjir bandang melanda Desa Dengeng-dengeng, Kecamatan Pitu Riase, Sidrap, Senin (7/8/2017). Hujan deras yang mengguyur Dengeng - Dengeng, Sidrap, sejak Senin dini hari menyebabkan air Sungai Dengeng-Dengeng meluap. Desa Dengeng-Dengeng Sidrap, selama ini memang dikenal salah satu daerah rawan longsor. Dampak kejadian tersebut mengakibatkan tiga unit rumah warga hanyut, serta beberapa rumah lainnya rusak dan dilaporkan tidak ada korban jiwa atas bencana banjir bandang tersebut.
Sumber:
http://makassar.tribunnews.com/2017/08/07/desa-dengeng-dengeng-sidrap-dilanda-banjir-bandang
Rekomendasi:
• Tidak membangun permukiman di sepanjang lembah/bantaran sungai, terutama di kelokan sungai.
• Apabila hujan turun terus menerus terutama di bagian hulu, maka masyarakat yang terancam (bermukim di bagian hilir aliran sungai) perlu segera diungsikan.
• Rumah-rumah terancam yang berada pada pinggir dan kelokan sungai yang berpotensi banjir/banjir bandang perlu segera di relokasi ke lokasi yang aman.
• Tidak melakukan pemotongan lereng dengan sudut lebih dari 400 dengan tinggi lereng lebih dari 2,5 meter.
• Perlu kontrol aliran sungai untuk memantau terjadinya akumulasi air di daerah hulu sungai.
• Masyarakat segera melaporkan apabila mengetahui adanya pembendungan/akumulasi air di bagian hulu sungai.
• Masyarakat yang beraktivitas di daerah bencana perlu waspada dan segera meninggalkan lembah sungai apabila aliran sungai mulai keruh dan debitnya membesar.
• Melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan debris flow/banjir bandang serta gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah
• Agar masyarakat mengikuti arahan dari Pemerintah Daerah setempat.


Bandung; 9 Agustus 2017
PVMBG Badan Geologi, KESDM

<Berita Terkini>