Laporan Kebencanaan Geologi 04 Agustus 2017 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:
 
Hari ini, Jumat, 04 Agustus 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
 
G. Sinabung:
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini tampak jelas hingga berkabut. Teramati hembusan asap putih tebal mencapai ketinggian 200-300 m di atas kawah puncak, condong ke arah Tenggara dan Timur. Terjadi letusan sebanyak 1 kali, kolom abu tidak teramati karena tertutup kabut tebal. Tidak terdengar suara gemuruh dan dentuman dari Pos Sinabung yang berjarak 8 km di Tenggara dari puncak. Guguran lava meluncur sejauh 700-2000 m ke arah Tenggara dan Timur. Terjadi awan panas guguran 1 kali, jarak luncur tidak teramati karena tertutup kabut tebal.
Bendungan Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas di Sungai Laborus masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi: 
-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga  kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
VONA Terakhir kode warna ORANGE, terbit Tanggal 03 Agustus 2017 Pukul 12:31 WIB, terkait awan panas guguran selama 309 detik (jarak luncur tidak teramati karena kabut tebal), meluncur ke arah tenggara dan timur.

G. Dukono:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Secara visual gunungapi tampak jelas hingga berkabut. Kolom abu erupsi putih-kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 200-400 m dari puncak, condong ke arah Timur. Letusan terbesar terjadi sebanyak 308 kali. Tidak teramati adanya jatuhan abu di Pos Dukono. Terdengar suara gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km ke Utara dari puncak. 
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Kode warna ORANGE, terbit 03 Agustus 2017 pukul 09:12 WIT. Tinggi kolom abu 1629 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Timur.

G. Ibu:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual Ibu tampak cerah. Kolom abu erupsi putih kelabu, tekanan lemah sampai sedang mencapai ketinggian 200-500 m dari puncak, condong ke arah Timur.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 19 Juni 2017 pukul 09:35 WIT Kepulan abu vulkanik setinggi 1525 m di atas permukaan laut atau 200 m dari puncak, kolom abu condong ke arah ke Barat.

G. Sangeangapi
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Sangeangapi (1949 m dpl). Gunung tampak sering berkabut.Teramati asap mengepul dari kawah mencapai ketinggian 25-50 m dari tepi kawah. 
Rekomendasi:
(1) Masyarakat, petani, pengunjung, dan wisatawan harus menjaga kewaspadaan dan tidak diperbolehkan mendekati dan beraktivitas di dalam daerah:1. Radius 1.5 km dari pusat aktivitas G. Sangeangapi.
(2) Luncuran aliran piroklastik dan daerah di antara Lembah Sori Wala dan Sori Mantau hingga mencapai pantai, serta pada  Lembah Sori Boro dan Sori Oi.
(3) Daerah aliran lahar pada saat musim hujan di semua lembah sungai yang berhulu dari pusat aktivitas/puncak G. Sangeangapi
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 19 Juli 2017 pukul 16:08 WITA. Tinggi kolom abu vulkanik setinggi 2649 m di atas permukaan laut atau 700 m dari puncak. Condong ke arah Baratlaut.
Untuk Gunungapi status Normal:  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di dekat kawah untuk menghindari potensi ancaman gas  beracun.

2. Gerakan Tanah
 
Prakiraan wilayah potensi gerakan tanah pada bulan Agustus 2017: Seluruh Wilayah Indonesia dari Sumatera sampai Papua masih berpotensi terjadinya gerakan tanah, dan wilayah Indonesia Bagian timur meliputi wilayah Sulawesi, Maluku bagian utara  dan Papua potensi terjadinya gerakan tanah relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah Sumatera, Kalimantan, Bali dan Nusatenggara. Kejadian gerakan tanah diperkirakan akan masih terus mengancam terutama di wilayah Jawa mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi di:
1. Kota Jayapura, Provinsi Papua, 
2. Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara
Penyebab:
Penyebab gerakan tanah diperkirakan karena curah hujan yang tinggi; lereng yang agak terjal; minimnya pepohonan penahan lereng; tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air dan kurang berfungsinya drainase/saluran air., terjadinya pembendungan alam.
Dampak :
1. Gerakan tanah terjadi di Ruas jalan Nafri Kota Jayapura, Provinsi Papua, mengakibatkan badan jalan tertutup material longsoran sehingga lalu lintas di jalan tersebut terputus. 
2. Gerakan tanah  diperkirangan memicuh banjir bandang mengakibatkan saluran irigasi Sungai Bah Jambi2 jebol. Dampak lanjutan nya petani mengalami gagal panen. 
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

Gempa bumi di perairan selatan Jawa Tengah 3 Agustus 2017
Gempa bumi terjadi pada hari Kamis, 3 Agustus 2017, pukul 23:14 WIB. Berdasarkan informasi BMKG pusat gempa bumi terletak pada koordinat 108,99° BT dan 8,41° LS, dengan magnitudo 5,3 SR pada kedalaman 22 km, berjarak 79 km barat daya Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. 
Penyebab gempa bumi diperkirakan berasosiasi dengan penunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia dan mempunyai mekanisme sesar naik.
Dampak gempa bumiGoncangan gempa bumi dirasakan hingga intensitas III MMI di Cilacap, Kulon Progo, Yogyakarta, Godean, Bantul, Purworejo, Pangandaran dan Kebumen.Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Belum ada informasi kerusakan. 
Rekomendasi
(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat.
(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan.

II. DETAIL
 
1. Gunung Api
 
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung*, Sumut); 
b. Sebanyak 17 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi*, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, dan Banda Api); 
c. Sisanya 51 gunung api: Status Normal/Level 1.

*Gunungapi Sinabung.
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin hingga pagi ini Sinabung tampak jelas hingga berkabut. Saat jelas teramati kepulan asap putih tebal mencapai ketinggian 200-300 m di atas kawah puncak,  condong ditiup angin ke arah Tenggara danTimur. Melalui rekaman seismograf  teramati erupsi letusan sebanyak 1 kali, kepulan abu tidak teramati karena tertutup kabut tebal. Teramati  guguran lava meluncur sejauh 700-2000 m ke lereng Tenggara dan Timur. Terjadi awan panas guguran 1 kali, jarak luncur tidak teramati karena tertutup kabut tebal. Tidak terdengar suara gemuruh/dentuman di Pos Sinabung yang berjarak 8 km di Tenggara dari puncak.
Hasil pengukuran terakhir 19 Juli 2017 volume kubah lava yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 2,3 juta m3. Pasca letusan besar 02 Agustus 2017 kubah lava di puncak sudah jauh berkurang.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas pada tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas 02 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau kecil yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

*Gunungapi Dukono.
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung api tampak cerah-berkabut. Kolom abu erupsi menerus kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 200-400 m dari puncak, condong ke arah timur. Letusan terbesar terekam sebanyak 308 kali dengan amplitudo dominan tremor menerus berkisar 0,5-28 mm (dominan 4 mm).
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Tobelo tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

*Gunungapi Ibu.
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya hanya di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Secara visual gunungapi tampak cerah. Kolom abu erupsi menerus putih kelabu sedang mencapai ketinggian 200-500 m dari puncak, condong ke Timur.  Kegempaan:- Letusan 45 kali- Hembusan 26 kali- Guguran 15 kali

* Gunungapi Sangeangapi.
Gunungapi Sangeangapi (1949 m dpl) di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya bertipe efusif (aliran) maupun eksplosif (lontaran). Letusan terbesar terakhir kali terjadi pada 30 Mei 2014 dimana ketinggian kolom abu mencapai ketinggian 12-14 km di atas permukaandi laut. Pasca letusan tersebut, aktivitas Sangeangapi belum sepenuhnya normal atau belum kembali ke kondisi kesetimbangannya. Oleh karena itu, status Level II (Waspada) dipertahankan. Setelah itu, aktivitas efusif berupa aliran lava terus terjadi dan dalam satu tahun terakhir indikasi aliran lava secara periodik dapat diamati melaui citra satelit Modis (NASA). 
Pada tanggal 15 Juli 2017 pukul 11:54 WITA G. Sangeangapi mengalami letusan eksplosif minor. Kolom abu kepulan asap kawah berwarna kelabu, tekanan sedang mencapai ketinggian 200 m dari puncak, kolom abu condong ke arah Barat.
Hasil pengamatan dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak sering berkabut dan secara visual teramati kepulan asap mencapai ketinggian 25-50 m dari puncak. Pengamatan seismik merekam- Tremor Harmonik 51 kali- Hembusan 1 kali- Vulkanik Dalam 1 kali.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak)/BPBD.
Informasi mengenai abu vulkanik produk aktivitas gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (http://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll

*VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung,VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit Tanggal 03 Agustus 2017 Pukul 12:31 WIB, terkait dengan awan panas guguran selama 309 detik (jarak luncur tidak teramati karena tertutup kabut tebal),   ke arah Tenggara dan Timur.
(2) G. Dukono, Maluku Utara. VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 03 Agustus 2017 pukul 09:12 WIT terkait dengan erupsi yang disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1629 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak ke arah Timur.
(3) G. Ibu, VONA Terakhir dengan kode warna ORANGE, terbit 19 Juni 2017 pukul 09:35WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1525 m di atas permukaan laut atau 200 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Barat.
(4) G. Sangeangapi, VONA Terakhir dengan kode warna ORANGE, terbit 19 Juli 2017 pukul 16:08 WITA terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 2649 m di atas permukaan laut atau 700 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Baratlaut.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
 
Pada bulan Agustus  2017, Potensi terjadinya gerakan tanah  diperkirakan masih tetap berpeluang di seluruh di wilayah Indonesia dari  Pulau Sumatra hingga Papua. Beberapa wilayah Sumatera pada bulan Agustus 2017 sedikit mengalami peningkatan utamanya   di wilayah Aceh dan Sumatera Barat, Sumatra Utara. Untuk  wilayah timur Indonesia seperti Papua, Maluku bagian Utara dan Sulawesi berpotensi terjadinya gerakan tanah relatif tinggi dibandingkan wilayah lainnya di Indonesia. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  seperti, Aceh bagian barat dan tengah; Sumatra Utara bagian barat dan tengah; Sumatra Barat bagian utara, tengah dan barat, Bengkulu bagian utara, tengah dan selatan; Jambi bagian barat daya; Sumatra Selatan bagian barat; Sebagian Lampung barat;  Banten barat-barat daya, selatan dan tenggara; Jawa Barat bagian tengah dan selatan; Jawa Tengah bagian utara, tengah, tenggara; Yogyakarta bagian utara; Jawa Timur bagian selatan dan tengah; Bali bagian tengah; sebagian kecil bagian tengah dari Kalimantan Selatan; bagian tenggara dari Kalimantan Utara; Sulawesi Utara bagian tengah; Sebagian utara Gorontalo; Sulawesi Barat bagian tenggara dan tengah; Sulawesi Selatan bagian selatan, utara dan timur; Nusa Tenggara Barat bagian tengah dan timur; Nusa Tenggara Timur, baratdaya dan tenggara; Maluku; Maluku Utara; Papua Barat bagian utara, tengah dan selatan; Papua bagian utara dan tengah.

Kejadian tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:
1. Kota Jayapura, Provinsi Papua*,            
2. Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara*,  
3. Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Provinsi Sulawesi Utara,  
4. Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat,  
5. Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur,  
6.  Kota Malang, Provinsi Jawa Timur,
7.Kabupaten Mimika , Provinsi Papua,  
8. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat,  
9. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat  

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru: 

1. Kota Jayapura, Provinsi Papua 
Gerakan tanah terjadi di Ruas jalan Nafri Kota Jayapura, Provinsi Papua, pada hari Rabu 3 Agustus 2017, pukul 05.00 WIT, gerakan tanah disamping meneyebabkan longsor juga menyebabkan banjir. Gerakan tanah yang diperkirakan berupa Longsoran bahan rombakan ini berasal dari tebing disisi badan jalan Jalan Nafri dan mengakibatkan badan jalan tertutup material longsoran sehingga lalu lintas di jalan tersebut terputus. Jalan Nafri merupakan jalan utama yang menghubungkan antara Kota Jayapura  dengan Skouw serta Wutung, perbatasan RI-Papua Nugini (PNG), juga merupakan jalan yang menghubungkan Kota Jayapura dengan Kabupaten Keerom. 
Sumber :
http://www.tabloidjubi.com/artikel-8365-ruas-jalan-nafri-terputus-akibat-tanah-longsor.html
Penyebab gerakan tanah diperkirakan karena curah hujan yang tinggi sejak dini hari; lereng yang agak terjal; minimnya pepohonan penahan lereng; tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air dan kurang berfungsinya drainase/saluran air.
Rekomendasi :
1. Material segera dibersihkan 
2. Perlu pelandaian lereng dan penanaman pohon kuat berakar dalam
3. Perlu pembuatan dinding penahan lereng dan penataan air beserta drainasenya 
4. Perlu kewaspadaan bagi masyarakat pengguna jalan di sekitar lokasi bencana 
5. Perlu pemasangan rambu-rambu bencana gerakan tanah
6. Perlu sosialisasi kepada warga terkait ancaman longsor dan gejala gejalanya sebagai upaya mitigasi gerakan tanah

2. Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara
Gerakan tanah terjadi di Saluran Irigasi Sungai Bah Jambi2, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatra Utara. Tidak disebutkan kapan terjadinya gerakan tanah namun bangunan irigasi tersebut relatif masih baru. Gerakan tanah diperkirakan berupa banjir bandang mengakibatkan saluran irigasi Sungai Bah Jambi2 jebol, sehingga petani di di Nagaro Bah Jambi2 gagal panen.  
Sumber :
http://www.hmstimes.com/hmsnews./petani-menjerit-akibat-irigasi-longsor-pemerintah-belum-bertindak/
Penyebab gerakan tanah diperkirakan karena curah hujan yang tinggi, adanya longsoran pada lereng bagian atas dan terjadi pembendungan aliran yang memicu terjadinya banjir bandang; lereng yang terjal pada lereng bagian atas, minimnya pepohonan penahan lereng, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang; kemungkinan konstruksi irigasi yang kurang memadai; dan kurang berfungsinya drainase/saluran air.
Rekomendasi :
1. Perlu koordinasi penanganan bencana antara Pemda, BPBD, Dinas PSDA dan warga setempat pemilik lahan pertanian
2. Saluran irigasi segera dibangun kembali dengan konstruksi yang kuat, fondasi sampai tanah/batuan yang keras
3. Perlu penataan aliran air sungai beserta drainasenya
4. Perlu reboisasi pada lereng bagian atas
5. Perlu kewaspadaan bagi warga yang bermukim di sekitar lokasi bencana dan sosialisasi kepada warga petani terkait ancaman longsor dan upaya mitigasinya.


PVMBG Badan Geologi, KESDM

<Berita Terkini>