Laporan Kebencanaan Geologi 14 Juli 2017 (06:00 Wib)


I. SUMMARY:
 
Hari ini, Jumat, 14 Juli 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung:
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini sering tampak berkabut dan tidak teramati hembusan asap kawah. Secara visual dan instrumental melalui rekaman seismograf teramati erupsi/letusan sebanyak 5 kali, abu tebal tekanan kuat mencapai ketinggian 1000 m dari puncak, condong ditiup angin ke arah Tenggara dan Timur. Erupsi disertai guguran lava yang meluncur sejauh 500-1000 m ke lereng Selatan, Tenggara, dan Timur. Tidak terdengar suara gemuruh dari Pos Sinabung yang berjarak 8 km di Tenggara dari puncak. Bendungan Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas di Sungai Laborus masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi: 
-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga  kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
Kode ORANGE, terbit Tanggal 11 Juli 2017 Pukul 08:34 WIB, terkait erupsi  yang disertai kepulan abu vulkanik setinggi 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak, kolom abu letusan ke arah Timur Dan Tenggara.

G. Dieng:
Tingkat aktivitas Level I (NORMAL). Kawah Sileri  (1879 m dpl) merupakan salah satu kawah yang paling aktif diantara 20 kawah yang ada di dataran tinggi Gunungapi Dieng. Kawah ini selalu digenangi air dan terletak di lembah serta diapit oleh beberapa puncak. Pasca erupsi freatik pukul 11:54:24 WIB Tanggal 02 Juni 2017 yang mencapai ketinggian 150 m dari permukaan kawah dari kemarin sampai pagi ini kawah tampak jelas melalui rekaman CCTV. Saat ini asap kawah putih tipis sampai tebal mengepul dengan tekanan sedang mencapai ketinggian 80 m di atas permukaan kawah. Angin bertiup ke arah Utara, Timurlaut, Timur, Selatan dan Barat. Tinggi bualan lumpur hitam 0,5 m. Hasil pengukuran terakhir kimia fisika kawah:
- Tanggal 11 Juli 2017: Suhu kawah Sileri: 54.7-55.5°C, pH air 6.45, gas di udara: CO2 0.04%vol, SO2 0.1 ppmv.
Rekomendasi:
- Masyarakat tidak melakukan aktivitas di Kawah Timbang karena adanya ancaman bahaya gas beracun CO2 dan H2S di atas ambang batas yang berbahaya bagi kehidupan.
- Bagi wisatawan yang mengunjungi kawasan wisata Kawah Sileri disarankan tidak terlalu mendekat dalam jarak 100 m dari tepi kawah untuk  menghindari adanya peningkatan aktivitas vulkanik dan dampak letusan freatik berupa semburan uap dan lumpur panas yang mungkin terjadi setiap saat. Masyarakat dan pengunjung diharapkan untuk selalu meningkatkan kewaspadaan.
VONA:
Pasca erupsi freatik, VONA tidak terbit karena kegiatan Kawah Sileri tidak mengeluarkan abu yang dilontarkan ke udara sehingga tidak membahayakan penerbangan.

G. Dukono:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi tampak jelas hingga berkabut. Kolom abu erupsi putih-kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 200-300 m dari puncak, condong ke arah Barat. Letusan terbesar terjadi sebanyak 25 kali. Tidak teramati adanya jatuhan abu di Pos Dukono. Terdengar suara gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km ke Utara dari puncak. Amplitudo dominan tremor hembusan 0.5-24 mm (dominan 2 mm).
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Kode ORANGE, terbit 12 Juli 2017 pukul 07:56 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1829 m di atas permukaan laut atau 600 m dari puncak, kolom abu bergerak ke arah Barat dan Baratlaut.

G. Ibu:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual cerah hingga mendung. Kolom abu erupsi putih kelabu, tekanan lemah sampai sedang mencapai ketinggian 300-600 m dari puncak, condong ke arah Utara dan Timurlaut. Letusan terjadi sebanyak 102 kali.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA:
Terakhir Kode ORANGE, terbit 19 Juni 2017 pukul 09:35 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1525 m di atas permukaan laut atau 200 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Barat.
Untuk Gunungapi status Normal:  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di dekat kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah pada bulan Juli  2017 relatif meningkat dibandingkan dengan potensi terjadinya gerakan tanah pada bulan Juni 2017. Seluruh Wilayah Indonesia dari sumatera sampai Papua berpotensi terjadinya gerakan tanah, namun wilayah Indonesia Bagian timur meliputi wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua potensi terjadinya gerakan tanah relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah Sumatera, Kalimantan, Bali dan Nusatenggara . Kejadian gerakan tanah diperkirakan akan masih terus mengancam terutama di wilayah Jawa mengingat , pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

Gerakan Tanah terakhir terjadi di:

1. Kabupaten Berau, Kalimantan Tengah
Penyebab:Gerakan tanah diperkirakan  akibat  kemiringan lereng yang terjal, penataan air permukaan yang kurang baik, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
Dampak :
1. Gerakan tanah terjadi di poros km 24 dan km 39 di kecamatan Kelay, Kabupaten Berau mengakibatkan terganggunya arus lalu lintas di jalan yang menghubungkan Berau-Samarinda. 
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi
Gempa bumi di Timur Laut Bima, NTB
Informasi Gempa bumi;
Gempa bumi terjadi pada hari Kamis, 13 Juli 2017, pukul  21:30:33 WIB. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa bumi terletak pada koordinat 119.23° BT dan 8,25° LU, dengan  Magnitudo 5.0 SR,  pada kedalaman 10 km, berjarak 58 km timur laut Bima, NTB.
Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi;
Pusat gempabumi berada di laut, yaitu di Kabupaten Bima. Daerah yang terdekat dengan pusat gempa bumi diantaranya daerah Labuhbili, Kilo, Kambu, Doropi dan Oi Sengari. Sebagian besar daerah tersebut tersusun oleh endapan Aluvium, endapan sedimen Kuarter, endapan gunungapi Kuarter, dan endapan sedimen Tersier. Pada daerah yang disusun oleh endapan aluvium, dan endapan Kuarter diperkirakan goncangan gempabumi akan lebih kuat karena batuan ini bersifat urai, lepas, belum kompak dan memperkuat efek getaran, sehingga rentan terhadap goncangan gempabumi.
Penyebab gempa bumi;
Berdasarkan posisi dan kedalaman pusat gempa bumi, gempa bumi ini diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas Flores Back-thrust yang berarah barat-timur, di sebelah utara pusat gempa bumi. 
Dampak gempa bumi;
Sampai laporan ini dibuat tidak ada laporan mengenai adanya korban jiwa dan kerusakan bangunan akibat goncangan gempabumi ini.
Rekomendasi;
• Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil.
• Gempabumi ini tidak menimbulkan tsunami, walaupun pusat gempanya berada di laut, namun energi gempa ini tidak cukup kuat untuk menimbulkan tsunami.

II. DETAIL
 
1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung*, Sumut); 
b. Sebanyak 17 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, dan Banda Api); 
c. Sisanya 51 gunung api: Status Normal/Level 1 termasuk *Dieng. 

*Gunungapi Sinabung.
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin hingga pagi ini Sinabung tampak sering berkabut dan tidak teramati kepulan asap kawah. Secara visual dan melalui rekaman seismograf teramati erupsi letusan sebanyak 5 kali, kepulan abu tebal tekanan sedang-kuat mencapai ketinggian 1000 m dari puncak condong ditiup angin ke arah Tenggara dan Timur. Erupsi disertai guguran lava meluncur sejauh 500-1000 m ke lereng Selatan, Tenggara, dan Timur. Tidak terdengar suara gemuruh di Pos Sinabung yang berjarak 8 km di Tenggara dari puncak.
Hasil pengukuran terakhir 26 Juni 2017 volume kubah lava yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava ke depan adalah sekitar 1,68 juta m3. Sampai sekarang kubah lava masih tumbuh secara perlahan dan volumenya menjadi sekitar 2 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas pada tanggal 10 April 2017 yang lalu, meluncur sejauh 3,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau kecil yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

*Gunungapi Dieng.
Gunungapi Dieng di Jawa Tengah memiliki sekitar 20 kawah aktif yang tersebar di dataran tinggi Dieng dalam wilayah seluas sekirar 5x12 km2 yang memanjang arah barat timur. Diantara kawah-kawah aktif hanya dua kawah aktif yang berpotensi menimbulkan bencana karena sering mengakibatkan korban jiwa, yaituKawah Sileri (semburan uap dan lumpur panas serta gas beracun) Kawah Timbang (hembusan gas beracun). Kawah Sileri terletak di Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah. Kawah Sileri merupakan salah satu objek wisata di Dataran Dieng, memiliki bentuk unik berupa kepundan datar, sehingga permukaan air kawah yang selalu mendidih terus mengalir ke permukaan yang lebih rendah. Luas permukaan kawah lonjong memanjang barat timur seluas 150x90 m2. Kawah ini cukup tinggi aktivitasnya, sempat beberapa kali meletus dalam sejarah sehingga menjadi kawah yang sangat berbahaya untuk dikunjungi di Dieng. Ancaman bahaya Kawah Sileri dalam daerah berjarak 100 m dari tepi kawah. Sebelum erupsi 2 Juli 2017 dalam Tahun 2017 Kawah Sileri sudah didahului sebanyak dua kali erupsi  letusan freatik, yaitu:-30 April: tinggi lontaran lumpur 10 m, jangkauan lontaran dari tepi kawah kawah 10 m.-24 Mei 2017 tinggi lontaran lumpur 20 m, jangkauan lumpur 50 m dari pusat kawah dan jatuhnya masih di dalam kawah.
Pasca erupsi freatik 2 Juli 2017 kegiatan Kawah Sileri mulai menurun. Saat ini teramati asap putih tipis mengepul mencapai ketinggian 80 m. Angin bertiup lemah ke arah Utara. Bualan lumpur hitam mencapai ketinggian 0,5 m. Hasil pengukuran terakhir kimia fisika kawah:
-Tanggal 11 Juli 2017: Suhu kawah Sileri: 54.7-55.5°C, pH air 6.45, gas di udara: CO2 0.04%vol, SO2 0.1 ppmv.
Sedangkan hasil ukur parameter kimia fisika Pada Tanggal 05 Juli 2017 di tepi Kawah Timbang adalah Suhu maksimum 57,4°C dan CO2 maksimum 0,26%vol masih di bawah ambang batas.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus melakukan pemantauan kawah-kawah di Dieng secara intensif dan melakukan koordinasi dengan pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, dan POLRI) di tiga kabupaten (Banjarnegara, Wonosobo, dan Batang) maupun melakukan sosialisasi langsung ke masyarakat setempat untuk meredakan kepanikan pasca erupsi freatik.

*Gunungapi Dukono.
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung api tampak cerah-berkabut. Kolom abu erupsi menerus kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 200-300 m dari puncak, condong ke arah Barat. Letusan terbesar terekam sebanyak 25 kali dengan amplitudo dominan tremor menerus berkisar 0.5-24 mm (dominan 2 mm).
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Tobelo tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

*Gunungapi Ibu.
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya hanya di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi cerah hingga mendung/hujan. Kolom abu erupsi menerus putih kelabu sedang mencapai ketinggian 300-600 m dari puncak, condong ke Timur.  Letusan terekam tanggal:
-12 Juli 2017 terjadi sebanyak 78 kali.-13 Juli 2017 terjadi sebanyak 102 kali.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.
Informasi mengenai abu vulkanik produk aktivitas gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (http://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll

*VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara. VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit Tanggal 11 Juli 2017 Pukul 08:34 WIB, terkait erupsi yang disertai abu vulkanik setinggi 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak, kolom abu letusan mengarah ke arah Tenggara dan Timur.
(2) G. Dieng,Pasca erupsi freatik VONA tidak terbit karena kegiatan Kawah Sileri tidak menghasilkan semburan abu ke udara sehingga tidak membahayakan penerbangan.
(3) G. Dukono, Maluku Utara. VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 12 Juli 2017 pukul 07:56 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1829 m di atas permukaan laut atau 600 m dari puncak, kolom abu condong ke arah ke Barat.
(4) G. Ibu, VONA Terakhir dengan kode warna ORANGE, terbit 19 Juni 2017 pukul 09:35WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1525 m di atas permukaan laut atau 200 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Barat. 
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah

Pada bulan Juli  2017, Gerakan Tanah diperkirakan masih berpeluang di seluruh di wilayah Indonesia dari  Pulau Sumatra hingga Papua. Namun  di Wilayah Timur Indonesia seperti Papua, Maluku dan Sulawesi berpotensi terjadinya gerakan tanah relatif tinggi dibandingkan wilayah lainnya di Indonesia. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  seperti, Aceh bagian barat dan tengah; Sumatra Utara bagian barat dan tengah; Sumatra Barat bagian utara, tengah dan barat, Bengkulu bagian utara, tengah dan selatan;Jambi bagian barat daya; sebagian kecil baratdaya Prov. Riau; Sumatra Selatan bagian barat; Sebagian Lampung barat dan selatan;  Banten barat-barat daya, selatan dan tenggara; Jawa Barat bagian tengah dan selatan; Jawa Tengah bagian utara, tengah, tenggara; Yogyakarta bagian barat, utara, dan selatan; Jawa Timur bagian selatan dan tengah; Bali bagian tengah dan utara; sebagian  wilayah Kalimantan barat dan Timur; sebagian kecil bagian tengah dari Kalimantan Selatan; bagian tenggara dari Kalimantan Utara; Sulawesi Utara bagian tengah; Sebagian utara Gorontalo; Sulawesi Barat bagian tenggara dan tengah; Sulawesi Selatan bagian selatan, utara dan timur; Nusa Tenggara Barat bagian barat, tengah dan timur; Nusa Tenggara Timur bagian utara, baratdaya dan tenggara; Maluku; Maluku Utara; Papua Barat bagian utara, tengah dan selatan; Papua bagian utara dan tengah.

Kejadian tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di :
1.Kabupaten Berau, Kalimantan Tengah*,  
2.Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah,
3.Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh,
4.Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur,
5.Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh,
6.Kabupaten Nias, Provinsi Sumatra Utara,  
7.Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat,  
8.Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat,  
9.Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat,    
10.Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali,  
11.Kabupaten  Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara,  
12.Kabupaten Nias, Provinsi Sumatera Utara,  
13.Kabupaten Klungkung, Provinsi  Bali  

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru: 

1. Kabupaten Berau, Kalimantan Tengah
Gerakan tanah terjadi di poros km 24 dan km 39 di kecamatan Kelay, Kabupaten Berau mengakibatkan terganggunya arus lalu lintas di jalan yang menghubungkan Berau-Samarinda. Gerakan tanah terjadi akibat intensitas curah hujan yang tinggi ditambah dengan beban kendaraan yang berat yang melintasi jalan tersebut. Di beberapa titik terdapat potensi longsoran susulan yang menggerus badan jalan.
Sumber :
http://kaltim.tribunnews.com/2017/07/13/truk-cpo-disebut-sebagai-penyebab-jalan-longsor-di-jalan-poros-samarinda-berau
Rekomendasi:
• Masyarakat yang beraktifitas di sekitar lokasi bencana serta pengguna jalan harus waspada bila melalui jalur jalan ini, terutama pada waktu hujan;
• Segera membersihkan material longsoran yang menutupi badan jalan agar dapat dilalui kembali kendaraan. Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsoran susulan yang bisa menimpa petugas kebersihan;
• Menanam tanaman yang berakar kuat dan panjang untuk menjaga kestabilan lereng;
• Memasang rambu peringatan rawan longsor bagi pengguna jalan;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah;
• Masyarakat agar selalu mengikuti arahan BPBD atau pemerintah daerah setempat.


Salam hormat
Ego Syahrial
Ka Badan Geologi


<Berita Terkini>