Laporan Kebencanaan Geologi 11 Juli 2017 (06:00 Wib)

LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI  11 JULI 2017 (06:00 WIB)

I. SUMMARY:
 
Hari ini, Selasa, 11 Juli 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
 
G. Sinabung:
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini  sering tampak berkabut. Secara visual teramati hembusan uap putih tebal tekanan sedang mengepul mencapai ketinggian 1000 m dari puncak. Secara visual dan melalui rekaman seismograf juga teramati erupsi letusan sebanyak 4 kali, abu tebal tekanan kuat mengepul mencapai ketinggian 1000-2500 m dari puncak, condong ditiup angin ke arah Tenggara, Timur dan Timurlaut. Erupsi disertai guguran lava yang meluncur sejauh  1000-2000 m ke lereng Selatan, Tenggara, dan Timur. Tidak terdengar suara gemuruh dari Pos Sinabung yang berjarak 8 km di Tenggara dari puncak. Bendungan Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas di Sungai Laborus masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi:
-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga  kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA:
Kode ORANGE, terbit Tanggal 11 Juli 2017 Pukul 01:06 WIB, terkait erupsi  yang disertai kepulan abu vulkanik setinggi 4460 m di atas permukaan laut atau 2000 m dari puncak, kolom abu letusan ke arah Timur.

G. Dieng:
Tingkat aktivitas Level I (NORMAL). Kawah Sileri  (1879 m dpl) merupakan salah satu kawah yang paling aktif diantara 20 kawah yang ada di dataran tinggi Gunungapi Dieng. Kawah ini selalu digenangi air dan terletak di lembah serta diapit oleh beberapa puncak. Pasca erupsi freatik pukul 11:54:24 WIB Tanggal 02 Juni 2017 yang mencapai ketinggian 150 m dari permukaan kawah dari kemarin sampai pagi ini kawah tampak jelas melalui rekaman CCTV. Asap kawah putih tipis sampai tebal mengepul dengan tekanan sedang mencapai ketinggian 70 m di atas permukaan kawah. Angin bertiup ke arah Utara. Tinggi bualan lumpur hitam 0,5 m. Hasil pengukuran terakhir kimia fisika kawah  tanggal 09 Juli 2017: Suhu kawah=56 oC, pH=6,21. Hari ini tidak dilakukan pengukuran gas CO2 dan H2S.

Rekomendasi:
-Masyarakat tidak melakukan aktivitas di Kawah Timbang karena adanya ancaman bahaya gas beracun CO2 dan H2S di atas ambang batas yang berbahaya bagi kehidupan 
-Bagi wisatawan yang mengunjungi kawasan wisata Kawah Sileri disarankan tidak terlalu mendekat dalam jarak 100 m dari tepi kawah untuk  menghindari adanya peningkatan aktivitas vulkanik dan dampak letusan freatik berupa semburan uap dan lumpur panas yang mungkin terjadi setiap saat. Masyarakat dan pengunjung diharapkan untuk selalu meningkatkan kewaspadaan.

VONA:
Pasca erupsi freatik VONA tidak terbit karena kegiatan  Kawah Sileri tidak mengeluarkan abu yang dilontarkan ke udara sehingga tidak membahayakan penerbangan.

G. Dukono:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi tampak jelas hingga berkabut. Kolom abu erupsi putih-kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 500-1000 m dari puncak, condong ke arah Timur. Letusan terbesar terjadi sebanyak 26 kali. Tidak teramati adanya jatuhan abu di Pos Dukono. Terdengar suara gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km ke Utara dari puncak. Amplitudo dominan tremor hembusan 0.5-28 mm (dominan 2 mm).

Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:Kode ORANGE, terbit 10 Juli 2017 pukul 05:26 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 2229 m di atas permukaan laut atau 1000 m dari puncak, kolom abu bergerak ke arah Tenggara.

G. Ibu:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual cerah hingga mendung. Kolom abu erupsi putih kelabu, tekanan lemah sampai sedang mencapai ketinggian 300-600 m dari puncak, condong ke arah Timur. Letusan terjadi sebanyak 83 kali.

Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu

VONA:
Terakhir Kode ORANGE, terbit 19 Juni 2017 pukul 09:35 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1525 m di atas permukaan laut atau 200 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Barat.
Untuk Gunungapi status Normal:  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di dekat kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah pada bulan Juli  2017 relatif meningkat dibandingkan dengan potensi terjadinya gerakan tanah pada bulan Juni 2017. Seluruh Wilayah Indonesia dari sumatera sampai Papua berpotensi terjadinya gerakan tanah, namun wilayah Indonesia Bagian timur meliputi wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua potensi terjadinya gerakan tanah relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah Sumatera, Kalimantan, Bali dan Nusatenggara . Kejadian gerakan tanah diperkirakan akan masih terus mengancam terutama di wilayah Jawa mengingat , pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

Gerakan Tanah terakhir terjadi di:
1. Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat
2. Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali

Penyebab:
Gerakan tanah diperkirakan  akibat  kemiringan lereng yang terjal, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah, erosi lateral sungai.

Dampak :
1. Gerakan tanah terjadi pada tebing setinggi 7 meter di tepian Sungai Cibagolo, Kecamatan Bogor Utara, mengakibatkan sungai meluap dan merendam ratusan rumah setinggi 1 meter. 
2. longsoran tanah yang terjadi pada senderan pura setinggi 20 meter yang mengakibatkan tertutupnya badan jalan menuju Pura Agung Besakih dan mengancam bangunan Pura Prajepati Hyang Aluh, Karangasem  
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

Gempa bumi di perairan selatan Jawa Barat
Informasi Gempa bumi;
Gempa bumi terjadi pada hari Minggu, 11 Juli 2017, pukul 00:24:04 WIB. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa bumi terletak pada koordinat 107.80° BT dan 8.40° LS, sebesar Magnitudo 5.0 pada kedalaman 10 km, berjarak 91 km barat daya Kab. Tasikmalaya. Berdasarkan the United States Geological Survey (USGS), pusat gempa bumi terletak pada koordinat 107,803° BT dan 8,521° LS, dengan magnitudo 4,3 mb pada kedalaman 40,9 km.

Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi;
Pusat gempa bumi berada di Samudera Indonesia di selatan Jawa Barat. Daratan selatan Jawa Barat umumnya disusun oleh batuan sedimen, batuan gunungapi, dan batuan berumur Tersier lainnya yang telah mengalami pelapukan. Guncangan gempa bumi akan terasa lebih kuat di daerah sekitar yang disusun oleh batuan gunungapi berumur Kuarter dan batuan sedimen berumur Tersier yang telah mengalami pelapukan karena bersifat urai dan memperkuat efek goncangan gempa bumi.


Penyebab Gempa bumi;
Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas penunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia.

Dampak gempa bumi;
Menurut BMKG, gempa bumi ini dirasakan di Pangandaran dengan intensitas II MMI. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami, Dan belum ada informasi kerusakan.

Rekomendasi;
• Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat.
• Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan.

II. DETAIL
 
1. Gunung Api
 
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung*, Sumut); 
b. Sebanyak 17 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, dan Banda Api); 
c. Sisanya 51 gunung api: Status Normal/Level 1 termasuk *Dieng. 

*Gunungapi Sinabung.
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin hingga pagi ini Sinabung tampak sering berkabut. Teramati  hembusan asap putih tebal mengepul tekanan sedang mencapai ketinggian 1000 m dari puncak. Secara visual dan melalui rekaman seismograf teramati erupsi letusan sebanyak 4 kali, kepulan abu tebal tekanan sedang-kuat mencapai ketinggian 1000-2500 m dari puncak condong ditiup angin ke arah Timur. Erupsi disertai guguran lava meluncur sejauh 1000-2500 m ke lereng Selatan, Tenggara, dan Timur. Tidak terdengar suara gemuruh di Pos Sinabung yang berjarak 8 km di Tenggara dari puncak.
Hasil pengukuran terakhir 26 Juni 2017 volume kubah lava yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava ke depan adalah sekitar 1,68 juta m3. Sampai sekarang kubah lava masih tumbuh secara perlahan dan volumenya menjadi sekitar 2 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas pada tanggal 10 April 2017 yang lalu, meluncur sejauh 3,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau kecil yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

*Gunungapi Dieng.
Gunungapi Dieng di Jawa Tengah memiliki sekitar 20 kawah aktif yang tersebar di dataran tinggi Dieng dalam wilayah seluas sekirar 5x12 km2 yang memanjang arah barat timur. Diantara kawah-kawah aktif hanya dua kawah aktif yang berpotensi menimbulkan bencana karena sering mengakibatkan korban jiwa, yaituKawah Sileri (semburan uap dan lumpur panas serta gas beracun) Kawah Timbang (hembusan gas beracun). Kawah Sileri terletak di Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah. Kawah Sileri merupakan salah satu objek wisata di Dataran Dieng, memiliki bentuk unik berupa kepundan datar, sehingga permukaan air kawah yang selalu mendidih terus mengalir ke permukaan yang lebih rendah. Luas permukaan kawah lonjong memanjang barat timur seluas 150x90 m2. Kawah ini cukup tinggi aktivitasnya, sempat beberapa kali meletus dalam sejarah sehingga menjadi kawah yang sangat berbahaya untuk dikunjungi di Dieng. Ancaman bahaya Kawah Sileri dalam daerah berjarak 100 m dari tepi kawah. Sebelum erupsi 2 Juli 2017 dalam Tahun 2017 Kawah Sileri sudah didahului sebanyak dua kali erupsi  letusan freatik, yaitu:-30 April: tinggi lontaran lumpur 10 m, jangkauan lontaran dari tepi kawah kawah 10 m.-24 Mei 2017 tinggi lontaran lumpur 20 m, jangkauan lumpur 50 m dari pusat kawah dan jatuhnya masih di dalam kawah.
Pasca erupsi freatik 2 Juli 2017 kegiatan Kawah Sileri mulai menurun. Asap putih tipis mengepul mencapai ketinggian 70 m. Angin bertiup lemah ke arah Utara. Bualan lumpur hitam mencapai ketinggian 0,5 m. Hasil pengukuran terakhir kimia fisika kawah:
-Tanggal 8 Juli 2017: Suhu 55,0-74,5 oC, pH=6,42, CO2=0,17%vol, H2S=3 ppm, dan SO2=0,1 ppm.
-Tanggal 09 Juli 2017 Suhu 56oC dan pH 6,21. Hari ini tidak dilakukan pengukuran konsentrasi gas CO2 dan H2S.
Sedangkan hasil ukur parameter kimia fisika Pada Tanggal 05 Juli 2017 di tepi Kawah Timbang adalah Suhu maksimum 57,4oC dan CO2 maksimum 0,26%vol masih di bawah ambang batas.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus melakukan pemantauan kawah-kawah di Dieng secara intensif dan melakukan koordinasi dengan pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, dan POLRI) di tiga kabupaten (Banjarnegara, Wonosobo, dan Batang) maupun melakukan sosialisasi langsung ke masyarakat setempat untuk meredakan kepanikan pasca erupsi freatik.

*Gunungapi Dukono.
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung api tampak cerah-berkabut. Kolom abu erupsi menerus kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 400-1000 m dari puncak, condong ke arah Tenggara. Letusan terbesar terekam sebanyak 26 kali dengan amplitudo dominan tremor menerus berkisar 0.5-28 mm (dominan 2 mm).
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Tobelo tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

*Gunungapi Ibu.
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya hanya di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi cerah hingga mendung/hujan. Kolom abu erupsi menerus putih kelabu sedang mencapai ketinggian 300-600 m dari puncak, condong ke Timur.  Letusan terekam tanggal:
-09 Juli 2017 terjadi sebanyak 91 kali,-10 Juli 2017 terjadi sebanyak 82 kali.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.
Informasi mengenai abu vulkanik produk aktivitas gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (http://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG,
- Air Nav,
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin,
- VAAC Tokyo,
- dll

*VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara. VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit Tanggal 11 Juli 2017 Pukul 01:06 WIB, terkait erupsi yang disertai abu vulkanik setinggi 4460 m di atas permukaan laut atau 2000 m dari puncak, kolom abu letusan mengarah ke arah Timur.
(2) G. Dieng,Pasca erupsi freatik VONA tidak terbit karena kegiatan Kawah Sileri tidak menghasilkan semburan abu ke udara sehingga tidak membahayakan penerbangan.
(3) G. Dukono, Maluku Utara. VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 10 Juli 2017 pukul 05:26 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 2229 m di atas permukaan laut atau 1000 m dari puncak, kolom abu condong ke arah ke Tenggara.
(4) G. Ibu, VONA Terakhir dengan kode warna ORANGE, terbit 19 Juni 2017 pukul 09:35WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1525 m di atas permukaan laut atau 200 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Barat. Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
 
Pada bulan Juli  2017, Gerakan Tanah diperkirakan masih berpeluang di seluruh di wilayah Indonesia dari  Pulau Sumatra hingga Papua. Namun  di Wilayah Timur Indonesia seperti Papua, Maluku dan Sulawesi berpotensi terjadinya gerakan tanah relatif tinggi dibandingkan wilayah lainnya di Indonesia. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  seperti, Aceh bagian barat dan tengah; Sumatra Utara bagian barat dan tengah; Sumatra Barat bagian utara, tengah dan barat, Bengkulu bagian utara, tengah dan selatan;Jambi bagian barat daya; sebagian kecil baratdaya Prov. Riau; Sumatra Selatan bagian barat; Sebagian Lampung barat dan selatan;  Banten barat-barat daya, selatan dan tenggara; Jawa Barat bagian tengah dan selatan; Jawa Tengah bagian utara, tengah, tenggara; Yogyakarta bagian barat, utara, dan selatan; Jawa Timur bagian selatan dan tengah; Bali bagian tengah dan utara; sebagian  wilayah Kalimantan barat dan Timur; sebagian kecil bagian tengah dari Kalimantan Selatan; bagian tenggara dari Kalimantan Utara; Sulawesi Utara bagian tengah; Sebagian utara Gorontalo; Sulawesi Barat bagian tenggara dan tengah; Sulawesi Selatan bagian selatan, utara dan timur; Nusa Tenggara Barat bagian barat, tengah dan timur; Nusa Tenggara Timur bagian utara, baratdaya dan tenggara; Maluku; Maluku Utara; Papua Barat bagian utara, tengah dan selatan; Papua bagian utara dan tengah.
Kejadian tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di :  

1. Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat*,  
2. Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali*,  
3. Kabupaten  Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara,  
4.Kabupaten Nias, Provinsi Sumatera Utara,  
5. Kabupaten Klungkung, Provinsi  Bali,  
6.Kabupaten  Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan,  
7. Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur,
8.Kabupaten  Bolaang Mongondow Timur, Provinsi Sulawesi Utara,  
9. Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara,  
10.Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara.
*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru: 

1. Kota Bogor, Jawa Barat
Bencana gerakan tanah terjadi di Kampung Bantarjati RT 05 RW 10, Kelurahan Bantarjati, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat pada hari Minggu, 9 Juli 2017 pukul 18.00 WIB. Gerakan tanah terjadi pada tebing setinggi 7 meter di tepian Sungai Cibagolo, mengakibatkan sungai meluap dan merendam ratusan rumah setinggi 1 meter. 
Sumber berita: http://bogordaily.net/2017/07/tebingan-longsor-ratusan-rumah-terendam-banjir-di-bantarjati/
Penyebab Penyebab gerakan tanah diperkirakan karena curah hujan yang tinggi dan erosi dari aliran sungai.
Rekomendasi:
- Segera melakukan pembersihan material longsor yang menghambat aliran sungai agar banjir segera surut.
- Masyarakat yang berada di sekitar lokasi gerakan tanah dan yang melakukan normalisasi aliran sungai agar tetap waspada karena masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
- Warga yang terdampak agar mengungsi ke tempat yang lebih aman hingga ada penanganan dan arahan dari pemerintah setempat.
- Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor.
- Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah setempat.

2. Kabupaten Karangasem, Bali
Bencana gerakan tanah terjadi di Pura Prajepati Hyang Aluh, Desa Besakih, Kec. Rendang, Kab. Karangasem, Bali pada hari Sabtu malam, 8 Juli 2017 pukul 20.00. Gerakan tanah berjenis longsoran tanah yang terjadi pada senderan pura setinggi 20 meter yang mengakibatkan tertutupnya badan jalan menuju Pura Agung Besakih dan mengancam bangunan Pura Prajepati Hyang Aluh. 
http://tv.kompas.com/read/2017/07/10/d5e514996506292b7cf620/diguyur.hujjan.deras.tebing.20.meter.longsor
Penyebab gerakan tanah :
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat curah hujan yang tinggi, kemiringan lereng yang cukup curam, dan kondisi tanah yang labil.Sumber berita:
Rekomendasi:
- Masyarakat yang beraktivitas dan melintas di jalan tersebut agar lebih waspada terhadap longsor susulan terutama pada saat hujan turun dalam waktu lama.
- Segera membersihkan material longsor yang menutupi jalan agar akses jalan kembali terhubung dengan tetap berhati-hati terhadap longsor susulan.
- Memelihara pepohonan berakar kuat dan dalam di daerah perbukitan dan lereng terjal untuk menjaga material lereng dari erosi dan limpasan air hujan.
- Memberi perkuatan atau penahan pada lereng yang dilengkapi dengan sistem drainase agar tanah pada lereng tidak mudah jenuh oleh air permukaan.
- Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu-rambu peringatan sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
- Agar masyarakat mengikuti arahan pemerintah setempat dan instansi yang berwenang.


Salam hormat
Ego Syahrial
Ka Badan Geologi

<Berita Terkini>