Laporan Kebencanaan Geologi 03 Februari 2018 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:
Hari ini, Sabtu 03 Februari 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
 
G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 27 November 2017 pukul 06.00 WITA status G. Agung dinaikkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga hari ini secara visual puncak gunungapi tidak dapat teramati dengan baik karena sepanjang hari gunung tertutup kabut. Angin umumnya berhembus ke arah timur. Rekaman seismograf tanggal 02 Februari 2018 tercatat:- 3 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- Nihil Gempa Tektonik Lokal (TL)- 3 kali Gempa Hembusan- Tremor menerus dengan amplitudo 1-3 mm (dominan 1 mm).
Tanggal 03 Februari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 3 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- Nihil Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- Nihil Gempa Tektonik Lokal (TL)- 1 kali Gempa Hembusan- Tremor menerus dengan amplitudo 1-3 mm (dominan 1 mm)
Rekomendasi:- Masyarakat disekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari kawah G. Agung.-Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yg paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran sungai-sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai dan mengantisipasi potensi ancaman bahaya sekunder berupa lahar hujan terutama pada musim penghujan seperti saat ini.- Status Level IV (Awas) hanya berlaku di dalam radius 6 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Januari 2018 pukul 22:37 WITA, , terkait letusan dengan ketinggian abu 4142 m di atas permukaan laut atau 1000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-timurlaut.

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap di kawah utama dengan ketinggian 100-500 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas sedang. Angin umumnya berhembus ke arah selatan dan baratdaya. Tidak teramati adanya  letusan. Guguran material pijar dengan jarak luncur 1500 m ke arah selatan. Melalui rekaman seismograf pada 02 Februari 2018 tercatat:- 1 kali Gempa Hembusan- Nihil Gempa Letusan- 13 kali Gempa Guguran- 18 kali Gempa Low-Frequency- 7 kali Gempa Fase Banyak- Nihil Gempa Tremor Non Harmonik.- Nihil Gempa Vulkanik Dangkal.- Nihil Gempa Vulkanik Dalam.- Nihil Gempa Tektonik Lokal
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 01 Februari 2018 pukul 21:42 WIB, terkait letusan selama 417 detik. Tinggi kolom abu tebal putih keabuan tekanan sedang mencapai ketinggian 3960 m dari permukaan laut atau 1500 m dari puncak  condong ke arah selatan.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap hembusan di kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas sedang hingga tebal. Melalui seismograf tanggal 02 Februari 2018 tercatat:- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0,5-22 mm (dominan 2 mm).- Gempa Letusan nihil.- Gempa Tektonik Lokal nihil.
Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 02 Februari 2018 pukul 08:08 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1729 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara dan timur.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap dan abu erupsi dengan ketinggian 300 - 600 meter dari atas puncak, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas tipis hingga sedang. Angin bertiup pelan hingga sedang ke arah barat hingga selatan. Seismograf mengalami kerusakan dan perbaikan akan segera diperbaiki. Kegempaan terakhir pada 30 Januari 2018  terekam :  - 45 kali gempa letusan- 32 kali gempa Hembusan- 5 kali gempa Tremor Harmonik
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi.
Dari kemarin sampai pagi ini ini secara visual gunung umumnya tertutup Kabut. Pengamatan secara visual asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 5-20 m. Melalui rekaman seismograf pada 02 Februari 2018 merekam gempa-gempa sebagai berikut :- 10 kali Gempa Hembusan.- Nihil Gempa Fase Banyak- Nihil Gempa Vulkanik Dangkal- Nihil Gempa Vulkanik Dalam- 1 kali Gempa Tektonik Lokal (terasa).
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/pendaki/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian, dan tidak beraktivitas dalam zona perkiraan bahaya di dalam area kawah G. Ili Lewotolok dan di seluruh area dalam radius 2 km dari puncak/pusat aktivitas G. Ili Lewotolok.
VONA:Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Januari   2018 yang dibandingkan bulan  Februari  2018,   realtif masih sama dan tetap tinggi potensinya di seluruh wiilayah Indonesia. Kewaspadaan tinggi terhadap potensi  kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi :
1.Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat 2.Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah 3.Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah4.Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah5.Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur
Penyebab gerakan tanah diperkirakan  akibat lereng  terjal, minimnya pepohonan penahan lereng, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air, adanya lapisan kedap air bertindak yang bertindak sebagai bidang gelincir gerkan tanah, serta di picu oleh oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau sesudah terjadinya gerakan tanah.
Dampak  : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan  3 rumah warga rusak berat dan puluhan rumah lainnya terancam, sehingga warga mengungsi di Kabupaten Lombok Barat (Provinsi Nusa Tenggara Barat ); talud runtuh dan 2 rumah warga rusak berat serta penghuninya mengungsi di Kabupaten Kendal (Provinsi Jawa Tengah); lalu lintas terhambat karena jalan amblas di  Kabupaten Banjar negara (Provinsi Jawa Tengah); satu rumah warga rusak berat di Kabupaten Magelang ( Provinsi Jawa Tengah); 1 rumah warga hancur di Kabupaten Malang (Provinsi Jawa Timur)
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi
  
Gempa bumi di Laut Maluku, Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara 
Informasi Gempa bumi:Gempa bumi terjadi pada hari Jumat tanggal 2 Februari 2018 pukul 07:20:40 WIB. Menurut BMKG pusat gempa bumi berada pada koordinat 0.22°LS dan 125.22°BT, dengan magnituda 5.6 SR pada kedalaman 10 km, berada pada jarak 133 km tenggara Bolaang Mongondow Timur. 
Kondisi Wilayah Gempa bumi:Secara geologi, daerah yang terkena gempa bumi tersusun oleh batuan vulkanik yang berumur Tersier, dan endapan aluvium yang berumur Kuarter. Goncangan gempa bumi juga akan dirasakan di daerah yang tersusun batuan sedimen Tersier dan Batuan berumur Pra-Tersier yang telah terlapukkan yang berada di sekitar daerah tersebut. Endapan yang bersifat lepas dan belum terkonsolidasi akan berpotensi memperkuat efek goncangan gempa bumi, sehingga rentan terhadap goncangan gempa bumi. 
Penyebab Gempa bumi:Berdasarkan data posisi dan kedalaman pusat gempa bumi, diperkirakan gempa bumi ini berasosiasi dengan zona subduksi punggungan Mayu
Dampak Gempa bumi:Hingga laporan Tanggapan ini dibuat belum ada informasi mengenai korban jiwa maupun kerusakan bangunan. Gempa bumi ini tidak mengakibatkan tsunami, karena walaupun pusat gempa bumi berada di laut, energinya tidak cukup kuat untuk memicu tsunami.
Rekomendasi:- Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi yang diikuti oleh tsunami.- Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi.

Gempa bumi di barat laut Kepulauan Aru, Provinsi Maluku
Informasi Gempa bumi:Gempa bumi terjadi pada hari Jumat, tanggal 2 Februari 2018, pukul 12:43:34 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempabumi berada pada koordinat 5,29 °LS dan 133,91°BT, dengan magnitudo 5,5 SR (Skala Richter) pada kedalaman 90 km, dan berjarak sekitar 123 km barat laut Kep. Aru. 
Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi:Goncangan gempabumi diperkirakan terasa di Kepulauan Aru dan Kei. Daerah tersebut disusun oleh endapan Kuarter (endapan pantai dan sungai), batuan Tersier (batugamping dan batuan sedimen). Sebagian batuan Tersier tersebut telah mengalami pelapukan. Endapan Kuarter dan batuan sedimen Tersier yang telah mengalami pelapukan bersifat, urai, lepas, belum kompak dan bersifat memperkuat efek goncangan, sehingga rawan terhadap goncangan gempa bumi. 
Penyebab gempa bumi:Berdasarkan posisi dan kedalaman pusat gempa bumi, kejadian gempa bumi ini diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas zona penunjaman yang terletak di sebelah barat Kepulauan Aru. Zona penunjaman ini terbentuk akibat tumbukan antara lempeng Australia dan busur kepulauan (island arc). 
Dampak gempa bumi: Belum ada laporan korban jiwa dan kerusakan bangunan yang disebabkan kejadian gempa bumi ini. Goncangan gempa bumi di Kepulauan Aru diperkirakan pada skala IIII MMI (Modified Mercalli Intensity), di Kota DoboGempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami, karena walaupun gempa bumi berpusat di laut, namun energinya tidak cukup kuat untuk memicu terjadinya tsunami.
Rekomendasi:- Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.- Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang energinya lebih kecil dari gempa bumi utama.

II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 2 gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung sejak 2 Juni 2015*, Sumut; serta G. Agung sejak 27 November 2017.b. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo*, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api); 
c. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. 
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Sehubungan dengan peningkatan kembali aktivitas vulkanik G. Agung secara signifikan secara visual maupun instrumental, maka pada 27 November 2017 pukul 06:00 WITA tingkat aktivitasnya dinaikkan kembali dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV).
Dari kemarin hingga hari ini secara visual puncak gunungapi tidak dapat teramati dengan baik karena sepanjang hari gunung tertutup kabut dan hujan. Angin umumnya berhembus ke arah timur. Rekaman seismograf tanggal 02 Februari 2018 tercatat:- 3 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 3 kali Gempa Hembusan- Tremor menerus dengan amplitudo 1-3 mm (dominan 1 mm).
Tanggal 03 Februari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 3 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- Nihik Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- Nihil Gempa Tektonik Lokal (TL)- 1 kali Gempa Hembusan- Tremor menerus dengan amplitudo 1-3 mm (dominan 1 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 100-500 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas sedang. Angin umumnya berhembus ke arah selatan dan baratdaya. Tidak ada letusan. Guguran material pijar dengan jarak luncur 1500 m ke arah selatan. Melalui rekaman seismograf pada 02 Februari 2018 tercatat:- 1 kali Gempa Hembusan- Nihil Gempa Letusan- 13 kali Gempa Guguran- 18 kali Gempa Low-Frequency- 7 kali Gempa Fase Banyak- Nihil Gempa Tremor Non Harmonik- Nihil Gempa  Vulkanik Dangkal- Nihil Gempa  Vulkanik Dalam- Nihil Gempa Tektonik Lokal
Hasil pengukuran volume kubah lava yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 3 Januari 2018 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,60 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap hembusan/letusan di kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas sedang hingga tebal. Kolom abu condong ke arah tenggara dan timur. Melalui seismograf tanggal 02 Februari 2018 tercatat:- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0,5-22 mm (dominan 2 mm).- Gempa Letusan 6 kali.- Gempa Tektonik nihil.
Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap dan abu erupsi dengan ketinggian 300 - 600 meter dari atas puncak, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas tipis hingga sedang. Angin bertiup pelan hingga sedang ke arah barat hingga selatan. Seismograf mengalami kerusakan dan perbaikan segera dilakukan. Kegempaan terakhir pada 30 Januari 2018 terekam :  - 45 kali gempa letusan- 32 kali gempa Hembusan- 5 kali gempa Tremor Harmonik
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.
Dari kemarin sampai pagi ini ini secara visual gunung umumnya tertutup Kabut. Pengamatan secara visual asap kawah menunjukkan asap putih tipis tekanan lemah mencapai ketinggian 5-20 m dari puncak. Melalui rekaman seismograf pada 02 Februari 2018 merekam gempa-gempa sebagai berikut :- 10 kali Gempa Hembusan.- Nihil Gempa Fase Banyak.- Nihil Gempa Vulkanik Dangkal.- Nihil Gempa Vulkanik Dalam.- 1 kali Tektonik Lokal (terasa).
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG, - Air Nav, - Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin, - VAAC Tokyo, - dll

VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Agung, Bali.Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Januari 2018 pukul 22:55 WITA, , terkait letusan dengan ketinggian abu 4142 m di atas permukaan laut atau 1000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-timurlaut.
(2) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 01 Februari 2018 pukul 21:42 WIB, terkait letusan selama 417 detik. Tinggi kolom abu tebal putih keabuan tekanan sedang mencapai ketinggian 3960 m dari permukaan laut atau 1500 m dari puncak condong ke arah selatan.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 02 Februari 2018 pukul 08:08 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1729 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara dan timur.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
(5) G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Desember 2017 Pukul 19:52 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Januari   2018 yang dibandingkan bulan  Februari  2018  akan  tetap tinggi potensinya di seluruh indonesia  mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu diwaspadai   utamanya di daerah wulayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai anara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan, Tengah  dan Utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 
1.Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat*,  2.Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah*, 3.Kabupaten Bnjar negara, Provinsi Jawa Tengah*, 4.Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah*, 5.Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur*, 6. Kabupaten Badung, Provinsi  Bali, 6.Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur, 7.Kabupaten Lebak, Provinsi  Banten, 8.Kabupaten Kulonprogo, Provinsi D.I. Yogyakarta, 9. Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, 10. Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur, 11.Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah, 12.Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah, 13. Kabupaten  Manggarai,  Provinsi Nusa Tenggara Timur , 14.Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, 15.Kota Batu (Malang), Provinsi Jawa Timur, 16.Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah, 17.Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali, 18.Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur, 19. Kabupaten  Brebes, Provinsi Jawa Tengah, 20. Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, 21.  Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, 22.Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, 23.Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat 
Gerakan tanah terjadi di Desa Lembah Sari, Kecamatan Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat,  Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), pada hari Jumat 02 Februari 2018 sekitar pukul 08.00 WITA, setelah sebelumnya wilayah Pulau Lombok diguyur hujan deras sejak hari 2 hari terakhir. Jenis gerakan tanah diperkirakan adalah Longsoran bahan rombakan, berasal dari tebing sungai di belakang rumah warga, mengakibatkan 3 rumah warga rusak berat dan puluhan rumah lainnya terancam, sehingga warga mengungsi.
Sumber :http://news.liputan6.com/read/3249245/longsor-di-lombok-3-rumah-rusak-berat
Penyebab gerakan tanah diperkirakan  akibat tebing sungai yang terjal, minimnya pepohonan penahan lereng  , tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air,kurang berfungsinya drainase/saluran air, erosi sungai aliran sungai yang deras yang menggerus rumah diatasnya serta di picu oleh oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau sesudah terjadinya gerakan tanah

2. Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah 
Gerakan tanah terjadi pada talud Sungai Blorong di Desa Kertomulyo, Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah, pada hari Kamis 01 Februari 2018 dini hari saat warga tertidur lelap, setelah sebelumnya wilayah ini diguyur hujan deras. Jenis gerakan tanah diperkirakan Longsoran bahan rombakan dan mengakibatkan talud runtuh dan 2 rumah warga rusak berat serta penghuninya mengungsi. Untuk penanganan darurat guna  antisipasi longsor susulan, aparat desa/kecamatan dan warga membuat penahan tebing dari bambu, sementara Camat Brangsong sudah melaporkan kejadian ini ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kendal untuk segera dilakukan penanganan lebih lanjut.
Sumber :https://daerah.sindonews.com/read/1278485/22/talud-sungai-blorong-longsor-dua-rumah-rusak-1517459721
Penyebab gerakan tanah diperkirakan  akibat tebing sungai yang terjal, minimnya pepohonan penahan lereng  , tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air,kurang berfungsinya drainase/saluran air, serta di picu oleh oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau sesudah terjadinya gerakan tanah

3. Kabupaten Bnjar negara, Provinsi Jawa Tengah
Gerakan tanah terjadi di jalan penghubung antar desa di Desa Kayuares Kecamatan Pagentan, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah pada hari Rabu 31 Januari 2018 sore hari.Jenis gerakan tanah diperkirakan berupa Rayapan, mengakibatkan jalan penghubung menuju desa Kayuares ambles sepanjang kurang lebih 50 meter dengan kedalaman 1 hingga 3.
Sumber: http://jateng.tribunnews.com/2018/02/01/belum-lama-dibangun-jalan-penghubung-di-pagentan-banjarnegara-longsor
Penyebab gerakan tanah diperkirakan  akibat lereng  terjal, minimnya pepohonan penahan lereng, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air,kurang berfungsinya drainase/saluran air, serta di picu oleh oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau sesudah terjadinya gerakan tanah.

4.Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah
Gerakan tanah terjadi di lokasi pemasangan alat EWS longsor di Bukit Menoreh, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa tengah, pada hari Rabu 31 Januari 2018 petang sekitar pukul 17.30 WIB (longsor pertama) dan Kamis 1 Februari 2018 dinihari sekitar pukul 02.30 WIB (longsor kedua). Gerakan tanah terjadi sejak 25 Januari 2018 lalu, dimana beberapa bagian terjadi tanah ambles dan peralatan EWS sederhana (dari potongan kayu dan bambu) dipasang di beberapa lokasi (termasuk salah satunya di lokasi rumah warga yang rumahnya rusak terkena gerakan tanah) guna memantau longsor. Tanggal 30 Januari 2018 di bagian belakang rumah warga tersebut amblesnya sudah mencapai sekitar 50 cm, dan di bagian samping rumah 12 cm. Sehari kemudian, Rabu 31 Januari 2018 tingkat amblesnya bertambah, di belakang rumah menjadi sekitar 70 cm dan sirine EWS berbunyi. Jenis gerakan tanah diperkirakan berupa Rayapan, mengakibatkan 1 rumah warga rusak berat.
Sumber: http://krjogja.com/web/news/read/56761/Tanah_Tebing_di_Lereng_Menoreh_Longsor
Penyebab gerakan tanah diperkirakan  akibat lereng  terjal, minimnya pepohonan penahan lereng, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air, adanya lapisan kedap air bertindak yang bertindak sebagai bidang gelincir gerkan tanah vegetasi kurang rapat, kurang berfungsinya drainase/saluran air, serta di picu oleh oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau sesudah terjadinya gerakan tanah.

5. Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur
Gerakan tanah terjadi di Desa Beji, Kecamatan Junrejo, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, pada hari Kamis 01 Februari 2018 sekitar pukul 21.00 WIB, setelah sebelumnya hujan deras. Jenis gerakan tanah diperkirakan Longsoran bahan rombakan dan mengakibatkan 1 rumah warga hancur terbawa longsor. Tim BPBD dan Tagana Kab. Malang masih membersihkan puing-puing dan barang yang bisa diselamatkan.
Sumber :http://suryamalang.tribunnews.com/2018/02/02/rumah-warung-milik-hariono-di-junrejo-amblas-terseret-longsor-simak-kronologisnya
Penyebab gerakan tanah diperkirakan  akibat lereng  terjal, minimnya pepohonan penahan lereng, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air, adanya lapisan kedap air bertindak yang bertindak sebagai bidang gelincir gerkan tanah, serta di picu oleh oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau sesudah terjadinya gerakan tanah.
Rekomendasi : 
- Agar masyarakat yang tinggal, yang beraktivitas dan melintas di sekitar daerah bencana lebih waspada, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadi longsor susulan, terutama pada saat hujan lebat dengan durasi yang cukup lama;
- Menata aliran air permukaan pada lereng tersebut agak tidak masuk ke dalam lokasi longsoran;
- Segera membersihkan material longsor yang menutup jalan agar lalu lintas pulih kembali, dengan tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman longsor susulan;
- Masyarakat pengguna jalan agar selalu waspada karena masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan;
- Rumah warga segera diperbaiki dan digeser agar menjauh dari tebing sungai;
- Perlu kewaspadaan bagi warga yang bermukim di dekat tebing terjal, bila perlu mengungsi jika terjadi hujan deras- Rumah-rumah sebaiknya dibuat dengan konstruksi kayu dengan fondasi umpak- Rumah warga digeser/dipindah menjauh dari tebing terjal;
- Penanaman pepohonan berakar kuat dan dalam untuk memperkuat lereng;
- Dilarang melakukan pemotongan lereng tegak dan memperhatikan aspek keteknikan tanah dan batuan;
- Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu peringatan rawan longsor;
- Segera memberi dinding penahan erosi pada tebing sungai agar tidak mudah tererosi;
- Menghindari aktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah hingga ada perkuatan pada lereng dan dinyatakan aman oleh pemerintah setempat;
- Membuat rambu-rambu lalu lintas peringatan rawan longsor, agar pengguna jalan waspada bila melalui jalur jalan ini, terutama di musim hujan;
- Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu-rambu peringatan sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah;
- Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah daerah atau  BPBD setempat.

Bandung, 03 Februari 2018
PVMBG Badan Geologi, KESDM
Kasbani