The Light Of Life

lightoflife
Peresmian Light of Life oleh Reza Pahlevi
 
Dalam rangka memperingati 13 tahun gempa dan tsunami Aceh, Badan Geologi melalui Museum Tsunami Aceh bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh menyelenggarakan acara bertema "The Light of Life", di Museum Tsunami Aceh (23-26 Desember 2017). Serangkaian acara digelar berupa Temporary Exhibition (Pameran Temporer), Museum Trip at Night (kunjungan museum di malam hari), penanaman 13.000 pohon, medical check up, donor darah, kegiatan melukis bebas di atas kain, pemutaran film, dan malam puncaknya yang bertajuk 08.16.
Dalam sambutannya Almuniza menyampaikan seluruh rangkaian kegiatan. Kemudian, dilanjutkan dengan sambutan dari Drs. Reza Fahlevi, M.Si. yang merupakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, sekaligus membuka dengan resmi acara tersebut. Acara berlanjut dengan pengguntingan pita sebagai simbol dimulainya Temporary Exhibition (Pameran Temporer). Di dalam pameran, ditampilkan berbagai poster yang menceritakan tentang tsunami Aceh, koleksi yang berupa Al-Quran, dan senjata yang diserahkan oleh GAM setelah tragedi tsunami. PVMBG pun menampilkan aplikasi kebencanaan geologi MAGMA.

lightoflife1
Acara Pembukaan Light of Life menikmati tari likok Pulo
 
Selain pameran temporer yang ditampilkan oleh Museum Tsunami Aceh dan Badan Geologi, terdapat pula pameran dari berbagai komunitas, yang salah satunya adalah Aceh-Japan Community Art Project 2017. Dalam kegiatannya, mereka menyajikan 16 karya yang lahir dari bencana gempa di Aceh dan gempa Tohoku di Jepang. Pameran lukisan juga diadakan di sekitar kolam lantai satu yang menampilkan karya 13 pelukis Aceh. Komunitas pemahat juga ikut serta meramaikan acara pameran.
Melalui pameran ini diharapkan akan memberikan manfaat positif bagi masyarakat Aceh, nasional maupun dunia serta dapat menyalurkan informasi edukasi akan pentingnya pengetahuan tentang mitigasi bencana.
Adapun kegiatan lainnya berupa kegiatan melukis bebas di atas kain bertemakan "Gempa dan Tsunami" versi anak , donor darah dan medical check up yang diselenggarakan di dekat kolam lantai satu museum Tsunami, yang telah dimulai sejak tanggal 23 - 25 Desember 2017, sedangkan pada tanggal 24 Desember malam, diadakan acara pemutaran film. Kegiatan nonton bersama ini dilaksanakan pada pukul 19.00-22.45 wib. Para pengunjung begitu antusias menyaksikan rangkaian film tersebut, terlihat dari dipadatinya tribun taman film hingga akhir acara.

lightoflife2
Melukis di atas Kain
 
Rangkaian acara peringatan 13 tahun tsunami Aceh ini merupakan refleksi dari peristiwa besar yang membuat kenangan yang begitu mendalam. Berbagai pelajaran dan hikmah kita petik agar senantiasa memiliki semangat juang demi hari esok yang lebih baik. Membuat kita untuk terus berintrospeksi dan berserah diri. Semoga dengan berbagai acara ini dapat memberikan kita pelajaran untuk senantiasa bersyukur atas apa yang kita miliki saati ini.
Pemutaran film Tsunami di ruang teater pada minggu 24 Desember berlangsung selama dua jam mulai pkl. 20.00. Acara ini dipandu oleh Priatna, Humas Badan Geologi. Setelah menonton peristiwa detik-detik yang menegangkan saat terjadi tsunami desember 2004, para peserta mendapat bekal semangat dan motivasi untuk membangun Aceh kembali. Terbukti dahsyatnya peristiwa tsunami tahun 2004 tidak menyurutkan masyarakat dan para petinggi di Aceh membangun Aceh pada kehidupan yang lebih baik.
Pada malam itu diputar video tentang Aceh berdurasi 4 menit  hasil garapan Seksi Edukasi dan Informasi Museum Geologi dengan back sound lagu Rindu Aceh Karangan Priatna. Dalam video itu tergambarkan bagaimana susasana kota Aceh saat ini. Mulai dari Batas paling barat kilo meter nol, pantai iboih, lapangan Jaboi di pulau Weh dilanjutkan dengan Tebing Geuruttee, pantai lampuuk, Museum Tsunami dan PLTD Apung serta indahnya pemandangan Masjid Baiturrahman yang semuanya hasil pengambilan gambar dari udara oleh Ronald Agusta, Fotografer Geomagz.

lightoflife3
Pemutaran video tsunami dan Video wisata Rindu Aceh
 
Pada senin siang Priatna juga membuka stand di ruang rapat Museum dengan acara berbagi pengalaman menulis lirik tentang bumi dan kehidupan. Empat lagu yang ditulis di Aceh yakni: Rindu Aceh, Sujud di Baiturrahman, Dalam Sujudku, dan Langkahku untuk Masjid diputar melalui video dan lagu.
Para peserta yang hadir sangat antusias mendengarkan lagu-lagu tentang Aceh beserta video keindahan yang diambil gambarnya sebagian besar hasil liputan dari udara. Selain video tentang Aceh diputar juga Lagu Cintai Bumi dimana Objek wisata Aceh yang lokasinya berada disebelah paling barat Indonesia membuka film dengan Tugu Kilometer nol di Kota Sabang. Video Cintai Bumi yang memuat 11 lokasi penting di tanah air yang dikemas dalam Album CINTAI BUMI dibagikan kepada sejumlah peserta yang hadir.
Acara puncak peringatan Tsunami berlangsung hari Selasa malam dengan menampilkan berbagai atraksi kesenian dan refleksi kehidupan. Aceh yang berjuluk Serambi Mekah menawarkan potensi wisata yang menjanjikan. Hadir pada acara itu Wakil Gubernur,  Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, serta Oman Abdurahman yang mewakili Badan Geologi. Melalui Wakil Gubernur dan Kadisbudpar Pemerintah Aceh mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Museum Tsunami dan panitia atas pelaksanaan peringatan tsunami tahun ini. Sebagian hikmah yang dapat diambil dari pelaksanaan kegiatan ini adalah bagaimana kita berjuang menata kehidupan yang lebih baik dan selalu mendekatkan diri kepada Illahi.

 
Penulis: Paradita Kenyo Arum D.
Foto: Torry Agus Prianto



<Berita Terkini>